Tragedi Nobel di Myanmar

5 September 2017 - 11.51 WIB > Dibaca 667 kali | Komentar
 

RIAUPOS.CO - NAMA Aung San Suu Kyi yang dulu harum dan sempat dijuluki The Lady, kini berubah. Peraih penghargaan Nobel Perdamaian atas perjuangannya dalam memajukan demokrasi di negaranya tanpa menggunakan kekerasan dalam menentang kekuasaan rezim militer, kini diam seribu bahasa. Bahkan membela tindakan negara dalam kekerasan menggunakan kekuasaan militer dalam usaha pembersihan etnis Rohingya di Rakhine State, Myanmar.

Sungguh ironis. Pejuang wanita yang mendapat dukungan dari publik Indonesia di era tahun 1990-an ini tiba-tiba di masa tuanya berubah drastis menjadi tokoh pembenci umat Islam. Tentu saja rakyat Indonesia yang mayoritas muslim, menjadi berang. Sehingga publik Indonesia menuntut penghargaan nobel perdamaian untuk Suu Kyi agar dicabut.

Wajar, tak hanya publik Indonesia, dunia pun kini meradang terhadap aksi brutal pemerintah Burma yang kini bernama Myanmar kepada etnis Rohingya di Rakhine. Tak kurang dari Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson, Sekjen PBB Antonio Guterres, hingga Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan naik pitam menyaksikan kekejaman Myanmar. Erdogan dengan tegas menuduh pemerintah Myanmar melakukan genosida terhadap etnis minoritas muslim di negara itu. ‘’Ada genosida di sana, Mereka menutup mata atas genosida, dengan berlindung di bawah alasan demokrasi adalah kolaboratornya,’’ tegas Erdogan. Sementara Indonesia sendiri menyesalkan aksi tersebut dan mengirim Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menemui State Councellor Myanmar Aung San Suu Kyi. Walaupun  tidak menjadi presiden, namun Suu Kyi memiliki peran penuh atas kekuasaan yang disebut sebagai Penasihat Negara (State Counsellor).

Jika ada yang mengatakan bahwa konflik Rohingya bukan atas nama agama, nampaknya matanya sudah buta atau selama ini bertapa di gua hingga kurang informasi. Kejadian konflik pembersihan etnis ini bukan kali yang pertama tapi sudah berkali-kali dan membuat warga Rohingya menjadi pengungsi di negara-negara tetangga termasuk Indonesia. Konflik ini dimulai dari agitas dan rasa permusuhan dari seorang biksu yang digelari Majalah Time sebagai The Face of Buddhist Terror bernama Ashin Wirathu. Biksu nasionalis Myanmar ini juga seorang pemimpin spiritual dari gerakan anti-muslim Myanmar. Ia dituduh sebagai pemberi inspirasi terhadap penindasan Muslim melalui pidatonya meskipun ia mengklaim dirinya sebagai seorang biksu yang damai dan tidak pernah menganjurkan kekerasan.

Kini, dalam konfik terakhir Rohingya, tercatat sekitar 400 nyawa melayang, 73 ribu warga Rohingya menyeberang menyelamatkan diri ke perbatasan Bangladesh, dan 20 ribu lainnya terjebak di sungai perbatasan negara. Di era modern saat ini di mana hak asasi manusia dijunjung tinggi, sungguh aneh kejadian pembersihan etnis ini terjadi.

Sudah saat PPB bersikap tegas dengan menangkap para penjahat kemanusiaan ini terhadap aksi mereka dalam genosida. Seperti halnya penjahat perang mantan Presiden Yugoslavia, Slobodan Milosevic yang melakukan pembersihatn etnis muslim dalam perang di Bosnia. Slobodan ditangkap dan dijebloskan hingga mati di penjara. Pemimpin-pemimpin Myanmar yang terlibat usaha pembersihan etnis Rohingya ini, perlu agaknya diseret ke Mahkamah Kejahatan Perang PBB untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka.***
KOMENTAR
Terbaru
Telkomsel Hadirkan Kerja Sama Non-Tunai dengan Adhya Tirta Batam
Ingin Bahasa Indonesia jadi Bahasa Internasional, APPBIPA Riau Terbentuk
Lagi Berenang, Bocah Tewas Diterkam Buaya

Kamis, 15 November 2018 - 17:59 WIB

3 Pemain Timnas Dapat Tawaran dari Klub Luar Negeri

Kamis, 15 November 2018 - 17:00 WIB

BPN Komit Realisasikan Program PTSL 2018

Kamis, 15 November 2018 - 16:15 WIB

Follow Us