Fenomena Nonton Bareng

3 Oktober 2017 - 10.00 WIB > Dibaca 326 kali | Komentar
 

RIAUPOS.CO - LUAR biasa, animo masyarakat Indonesia beberapa hari belakangan ini. Setelah hampir 20 tahun tidak pernah ditayangkan lagi sejak tahun 1998, film G30S/PKI yang disutradarai Arifin C Noer kini mendapat simpati yang berlimpah ruah. Hampir seluruh pelosok negeri gegap gempita menggelar nonton bareng (nobar) menyaksikan film dengan durasi selama 4 jam 33 menit. Masyarakat betah duduk menonton dengan waktu yang lama. Ini sungguh sebuah peristiwa yang bisa dibilang unik dan menarik.  Bahkan di daerah Magetan, nonton bareng diikuti oleh sebanyak 20 ribu masyarakat. Luar biasa. Ada fenomena apakah ini?

Pada zaman Orde Baru dan bagi orang yang pernah hidup di zaman tersebut, film G30S/PKI yang saban tahun pada setiap 30 September malam selalu diputar di TVRI, mungkin adalah barang yang membosankan dan menjemukan. Anak-anak sekolah saat itu terkesan diharuskan menonton film tersebut dan bahkan diputar hingga di bioskop-bioskop. Sehingga ketika itu, muncul rumor-rumor dan kecurigaan dari warga terhadap pemutaran film perjuangan sejarah kelam bangsa itu. Rumor dan kecurigaan yang selalu muncul di setiap ruang diskusi yang biasanya tidak resmi adalah, film tersebut merupakan pesanan penguasa orde baru, ceritanya diduga sengaja diset oleh pemerintah yang berkuasa kala itu.

Kecurigaan tersebut agaknya wajar terjadi. Sebab di kala pemerintahan Orde Baru berkuasa, pemerintah sangat menekankan kepada keamanan dan kestabilan dengan mengusung Trilogi Pembangunan. Trilogi ini terdiri dari tiga yaitu, stabilitas nasional yang dinamis, pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan pemerataan pembangunan serta hasil-hasilnya. Akibat pencanangan trilogi tersebut berdampak kepada diterbitkannya sejumlah peraturan yang mengakibatkan pengendalian pers dan aksi mahasiswa yang terkesan represif. Berbagai pengekangan membuat banyak penilaian negatif terhadap pemerintah kala itu. Sehingga membuat film G30S/PKI dianggap film propagandanya Orde Baru dan tidak diputar lagi pasca reformasi 1998.

Lalu apa yang terjadi sejak film tidak diputar lagi? Pelajaran sejarah bangsa yang diajarkan di dunia pendidikan telah menghapuskan kata “PKI” dalam sejarah pengkhianatan 1966. Sehingga hanya tersisa kata G30S. Para anak muda yang baru lahir saat reformasi bergulir menjadi tidak tahu lagi dengan sejarah bangsa tahun 1965 tersebut. Bahkan terkesan ada pemutarbalikan sejarah yang sangat berbahaya. Sayangnya, tak hanya anak-anak muda belia, orang dewasa dan orang tua pun terjebak dalam pemikiran sesat terhadap sejarah bangsa di tahun 65 itu. Sebuah hal yang berbahaya.

Mulai panasnya situasi politik dan ekonomi di zaman pemerintahan yang baru, membuat masyarakat kembali “ngeh” dnegan sejarah perjuangan bangsa mereka yang kelam tersebut. Ditambah lagi, umat Islam yang merupakan penduduk mayoritas di negeri ini,  merasa mereka kini dianaktirikan dan terkesan dizalimi. Para ulama-ulama yang menjadi tokoh panutan masyarakat ditangkapi dan orang yang melakukan kritik tidak sedikit yang berhubungan dengan hukum. Ditambah lagi, terkesan ada pengelompokan-pengelompokan masyarakat di republik ini pasca Pilpres yang lalu. Dan berakhir tragis pada pilkada DKI Jakarta beberapa waktu lalu yang sempat menyerempet kitab suci umat Islam. Sehingga muncul kesadaran politik, beragama dan sejarah, terhadap mayoritas warga negara di republik tercinta ini. Diperparah lagi dengan agitasi kelompok yang tidak mau di cap PKI, namun menggelar sejumlah seminar dan aksi meluruskan versi sejarah menurut pemikiran mereka sendiri.

Imbauan Panglima TNI yang menginstruksikan agar para prajurit melakukan nonton bareng film G30S/PKI ini mendapat aplaus dari mayoritas rakyat. Tak hanya prajurit TNI, tapi tentara bahu membahu dengan warga menggelar nonton bareng di berbagai penjuru tanah air. Bahkan masjid-masjid, perumahan warga, perkantoran, pemerintahan  hingga organisasi masyarakat menggelar nobar ini. Persoalan bahwa film ini hasil rekayasa, secara tegas dibantah oleh istri sutradara film, Jajang C Noer di media televisi, cetak dan radio. Hingga klaim rekayasa yang digaungkan selama ini pun mentah.  

Klimaksnya, Presiden Joko Widodo sendiri pun akhirnya ikut nonton bareng film sejarah itu. Dia menegaskan sekali lagi bahwa PKI merupakan partai terlarang dan TAP MPR no25 tahun 1966 tentang pelarangan PKI tidak akan diutak atik. Kemudian dilanjutkan dengan upacara hari Kesaktian Pancasila di monument Pancasila Sakti daerah Lubang Buaya tempat para pahlwan revolusi disiksa PKI dan gerombolannya. Kisah pun berakhir dengan manis dan semua polemik tentang G30S/PKI nampaknya berakhir.***
KOMENTAR
Terbaru
Kakek 60 Tahun Nikah dengan Remaja Cantik Pakai Mahar Rp300 Ribu Saja
Yang Dielus Gubernur Ganjar Pranowo Ini Bukan Hamil Biasa
Angin Reshuffle Kabinet Berhembus Lagi

Jumat, 24 November 2017 - 00:28 WIB

Pemerintah Bangun Ribuan Rumah Seharga Rp90 Juta, Silakan Pakai
Tahu Ga..., Setya Novanto Itu Pernah Jadi Sopir

Jumat, 24 November 2017 - 00:02 WIB

Follow Us