Hukum Kita dan Hebatnya sang Papa

5 Oktober 2017 - 10.15 WIB > Dibaca 562 kali | Komentar
 

RIAUPOS.CO - Ketua DPR Setya Novanto (Setnov) sedang dalam perbincangan. Secara hukum, dia memang belum tentu bersalah atas dugaan korupsi yang menjeratnya. Padahal yang menjeratnya adalah KPK, yang punya “rekor” bagus saat “bertanding” di pengadilan. Padahal, Setnov sudah berkali-kali diduga bermain dalam berbagai kasus. Ada kasus PON Riau, kasus “papa minta saham”, dan terakhir korupsi KTP elektronik. Dalam dua kasus pertama, nama Setnov memang hanya disebut-sebut. Paling-paling hanya disidang etik dalam kasus “papa minta saham’’. Tapi dalam kasus terakhir, Setnov sudah tersangka dan dicekal. Namun dalam sidang praperadilan yang dipimpin hakim tunggal Cepi Iskandar di PN Jakarta Selatan, Jumat lalu, status tersangka Setnov digugurkan. Setnov bebas.

Sampai sejauh ini, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memang masih relatif dipercaya publik. Maka apapun yang dilakukan KPK, dalam hal menersangkakan orang, atau lainnya, masyarakat percaya. Memang mulai banyak yang kurang yakin dengan beberapa penyidik dan pimpinan KPK, yang cenderung berpolitik. Tapi secara umum, mereka masih dipercaya. Maka ketika Setnov bebas dari status tersangkanya, banyak yang kecewa. Apalagi, Setnov bukan kali ini saja diduga bermasalah dengan hukum. Hal ini berbeda dengan para tersangka KPK lainnya yang kemudian bebas lewat praperadilan, misalnya mantan Ketua BPK Hadi Purnomo, atau mantan calon Kapolri Komjen Pol Budi Gunawan. Mereka sebelumnya tak pernah terdengar terlibat kasus. KPK menersangkakan, lalu mereka mengajukan praperadilan. Hakim memutuskan penetapan tersangka itu tak prosedural, dan bebaslah mereka.

Setnov mungkin agak berbeda. Lewat papa minta saham, sebenarnya kasusnya sudah dimulai. Tapi kasus ini tak bergulir di bidang hukum, hanya politik. Secara politis pun, Setnov bisa dikatakan sudah menang dari awal. Sebab, kendati dibentuk majelis kehormatan dewan (MKD), tapi Setnov mundur terlebih dahulu. Hukuman etik pun tak dijatuhkan. Tapi berikutnya, dia malah terpilih menjadi Ketua Umum Partai Golkar, dan selanjutnya jadi Ketua DPR. Sungguh luar biasa.

Saat kasus KTP elektronik bergulir, dan Setnov dijadikan tersangka oleh KPK, banyak yang pesimis kasus ini benar-benar akan  berjalan sesuai koridor hukum. Rekam jejak Setnov yang benar-benar licin jadi prediksi itu. Kini, setelah KPK kalah di sidang praperadilan, prediksi itu menemukan momentumnya. Tapi rakyat punya banyak cara untuk “meneriakkan” ketidakpuasan mereka. Meme, status, dan ungkapan di media sosial mulai marak. Nyaris semuanya ekspresif. Sebagiannya lucu, menggelitik, unik, dan tiada duanya. Tagar #ThePowerofSetyaNovanto pun viral dan jadi perbincangan netizen. Itu menggambarkan betapa “hebatnya” Setnov. Begitulah ekspresi masyarakat menilai sesuatu yang tak seharusnya terjadi.

   Beberapa hashtag yang satir itu misalnya. “Setnov masuk angin, anginnya yang dikerokin”. “Papa Setnov bangun kesiangan, mataharinya yg minta maaf... Papa emang begitu.. #ThePowerOfSetnov #ThePowerofSetyaNovanto. Juga beberapa komentar satir lainnya. Semuanya menggambarkan kreativitas sekaligus ironi. Mungkin memang Setnov tak bersalah. Tapi jika kasusnya ditutup sejak awal, kita tentu tak tahu benar apakah dia benar atau salah. Penegakan hukum memang masih menjadi sesuatu yang sulit di negeri ini, terutama jika menyangkut “orang besar”. Kalau maling ayam, belum pernah terdengar ada praperadilan segala.***
KOMENTAR
Follow Us