Senjata di Tangan Aparat

12 Oktober 2017 - 10.55 WIB > Dibaca 299 kali | Komentar
 

RIAUPOS.CO - Kepolisian sedang disorot, terutama dalam hal kepemilikan senjatanya. Beberapa waktu lalu, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menyorot tentang senjata yang dibeli dari luar negeri yang diduga bisa untuk menghancurkan tank. Diduga senjata itu milik kepolisian dan masalahnya tengah diselesaikan.

Kini, masalah kepemilikan senjata kembali disorot karena empat anggota polisi harus meregang nyawa dalam rentang waktu sehari. Yang pertama adalah Bribda AF, anggota Polres Banyuasin Sumatera Selatan. Masalahnya hanya “sepele”, yakni gagal menikah dengan kekasihnya. Gara-gara ini, pistol yang dipegangnya menyalak. Peluru menembus kepalanya. Nyawanya pun melayang.

Kejadian lainnya terjadi di lokasi mengeboran sumur minyak Sarana Gas Trembul Blora, Jawa Tengah. Brigadir Bambang Tejo juga mengakhiri nyawanya dengan senjata di tangannya. Kali ini, anggota Brimob itu bunuh diri dengan senjata serbu laras panjang AK 101. Sebelum mengakhirnya nyawanya, dia telah menewaskan dua rekannya sesama anggota Brimob dengan senjata yang sama.

Empat nyawa polisi hilang sia-sia. Tentu saja ini menimbulkan pertanyaan. Mengapa sampai terjadi? Kejadian ini seperti terus berulang. Polisi yang memegang senjata seakan belum bisa mengendalikan dirinya. Ketika hilang kendali, nyawa dirinya dan orang lain terancam.

Di Indonesia, memang hanya aparat yang boleh memiliki senjata. Mereka adalah unsur TNI dan Polri. Tapi kejadian pada TNI nyaris tak ada. Nyawa melayang pada unsur TNI biasanya terjadi saat kelalaian dalam latihan, seperti bom yang meledak secara tak sengaja, dan lainnya. Hampir tak ada tentara yang menembak kepala sendiri karena stres atau penyebab lain.

Kejadian yang menimbulkan korban tewas pada empat polisi dalam waktu yang berdekatan ini tentu tak boleh terjadi lagi. Orang-orang yang dibolehkan memegang senjata harus benar-benar sadar pada tanggung jawabnya. Korban dari Brigadir Bambang Tejo memang “hanya” dua orang rekannya sendiri, plus dirinya. Tapi jika masalah ini terbiar, bukan tak mungkin akan banyak korban lain yang mati sia-sia.

Di Las Vegas, 3 Oktober lalu, seorang teroris bule Stephen Paddock (64) menembak penonton konser dari lantai 32 Mandalay Bay Hotel. 59 tewas dan 527 terluka dalam kejadian itu. Di Amerika, senjata memang dijual bebas. Tak sedikit yang menyalahgunakan kebebasan itu. Teror Las Vegas adalah buktinya.

Kita tentu tak ingin kejadian serupa terjadi di negeri ini. Untuk itu, para pemegang senjata harus benar-benar menyadari bahwa senjata yang dipegangnya bisa membahayakan orang lain, juga dirinya. Polri harus benar-benar mengantisipasi hal ini. Lakukan evaluasi menyeluruh dalam semua level. Jangan ada yang mati sia-sia karena ini.***
KOMENTAR
Follow Us