Hambar Tanpa Belanda

18 Oktober 2017 - 10.03 WIB > Dibaca 281 kali | Komentar
 

RIAUPOS.CO - Belanda sedang terpuruk. Negeri penghasil pesepakbola terbaik dunia ini dipastikan tidak akan muncul di Piala Dunia 2018. Itu adalah kegagalan beruntun Negeri Kincir Angin (julukan Belanda) setelah Euro 2016. Sudah dua kali melewatkan turnamen besar sepakbola. Ada apa dengan Belanda?  

Tim yang dulu melegenda dengan sederet nama dari era Johan Cruijff, lalu trio AC Milan (Ruud Gullit, Frank Rijkaard, Marco van Basten), hingga pemain berdarah Maluku Giovanni van Bronckhorst itu seperti memasuki fase kelam. Prestasinya cenderung menurun dari tahun ke tahun.

Kali terakhir Belanda gagal lolos ke pesta sepakbola terbesar sejagat pada edisi 2002 di Korsel-Jepang. Ketika itu, Belanda finis ketiga di bawah Portugal dengan generasi emas seperti Luis Figo, Nuno Gomes, Sergio Conceicao dan Irlandia yang terbantu dengan melejitnya para pemain asal Leeds United seperti Robbie Keane dan Ian Harte plus Roy Keane.

Di kualifikasi Piala Dunia 2018, Belanda memang seperti tidak memiliki generasi emas. Pemain yang ada, rata-rata berusia muda dan masih kurang jam terbang internasional. Robben menjadi satu-satunya alumnus sukses Oranje saat finis runner-up di Piala Dunia 2010 yang konsisten. Wesley Sneijder dan Robin van Persie tidak lagi segarang masa jayanya.

Parahnya, tidak ada ‘’Pemain zaman Now’’ (meminjam istilah gaul saat ini) yang moncer dan berstatus bintang. Memphis Depay terusir dari Old Trafford, sedangkan Vincent Janssen gagal berkompetisi dengan Harry Kane di Tottenham Hostpur. Itu membuktikan pemain ini tidak pada level puncak.

Alhasil, pelatih Danny Blind yang kemudian digantikan Dick Advocaat tidak punya winning team karena keduanya memanggil total sampai 40 pemain sepanjang kualifikasi. Tidak ada pemain yang benar-benar menjadi menjadi pilihan utama.  

Untuk posisi bek kanan, misalnya. Oranje memainkan enam starter berbeda, dari Daryl Janmaat, Kenny Tete, Timothy Fosu-Mensah, Joel Veltman, Rick Karsdorp, hingga Joshua Brenet. Tidak seperti Dani Alves yang paten bersama Brazil atau Kyle Walker di Inggris.

Nasi sudah menjadi bubur. Belanda tidak perlu mengungkit kegagalan yang sudah terjadi. Sebaliknya, KNVB (PSSI-nya Belanda) perlu gerak cepat mempersiapkan diri menghadapi kualifikasi Euro 2020. Sebab, kekuatan Oranje boleh dibilang jalan di tempat saat tim seperti Islandia bakal semakin tangguh setelah menjalani piala dunia pertamanya di Rusia. Atau, jangan-jangan Belanda memang masih jauh dari periode kebangkitannya lagi.  

Semoga pesta sepakbola tidak terlalu lama kehilangan Belanda. Kita juga rindu dengan gaya permainan. Tidak pernah bermain bertahan walau pun sedang menghadapi lawan paling tajam sekali pun. Total football atau totaalvoetbal (bahasa Belanda) milik Belanda. Taktik ini memberi peluang semua pemain melakukan rotasi posisi agar bisa menekan atau menyerang lawan secara terus-menerus. Tapi kali ini, harus diterima bahwa Piala Dunia 2018 di Rusia, terasa habar. Sebab Belanda yang diibaratkan garam tidak ada di sana.***
KOMENTAR
Terbaru
Kakek 60 Tahun Nikah dengan Remaja Cantik Pakai Mahar Rp300 Ribu Saja
Yang Dielus Gubernur Ganjar Pranowo Ini Bukan Hamil Biasa
Angin Reshuffle Kabinet Berhembus Lagi

Jumat, 24 November 2017 - 00:28 WIB

Pemerintah Bangun Ribuan Rumah Seharga Rp90 Juta, Silakan Pakai
Tahu Ga..., Setya Novanto Itu Pernah Jadi Sopir

Jumat, 24 November 2017 - 00:02 WIB

Follow Us