Sajak-sajak Refila Yusra

5 Agustus 2012 - 07.58 WIB > Dibaca 3467 kali | Komentar
 
Kita Masih Saja Berbicara lewat Peka Hujan...

Aku meneropongi kota yang basah,
Halte yang bergeming,
lampu yang bertengger di tengah gedung,
dan genangan air yang menitik-rintik
Membentuk bola-bola...

Di belakangku,
Jendela mencumbu dingin air matamu
Lewat bayang yang sempat kau dekap
Diamdiam

Ada deras yang kau kabuti
Di luar, kita sama-sama berteduh
Di pohon yang daunnya meruncing.

Aku mendoakan gulita
Berharap hujan tak lagi menangisi pelangi,
Yang hidup sehabisnya
Dan saat hujan benar-benar berhenti,
Ada sisa luka di atap besi

Aku yang berdiri di balik punggungmu,
cemas pada awan hitam yang rancu.
Dan Payung...
Selalu saja mencium kita di atasnya

Jalanan, bulir, dan waktu
Seolah menjadi sedetak cinta yang dekat
tapi tak rapat.

2 Desember 2011


Bangkai Celana di Taman Depan MTQ                                                                
: J Fitriasha

Benar katamu, perjalanan ini bagai lelah yang rimbun
Kita kerap habiskan waktu bersama, di sebuah simpang
Yang banyak kursinya.

Benar katamu, awan putih yang kukulum
Telah menjadi bara
Yang perlahan menjadi manis di bibir saga

Benar katamu, di perhentian taman depan MTQ
Ada Bapak menjual bangkai celana.
Celana yang tergeletak di tapak bata

Menjadi senja warna puting matamu
Yang sesaat
pudar

Pekanbaru, 21-02-2012


Kesepian

Beribu angin menembakku dengan tepat
Yang duduk di tengah taman malam hari
Aku mencari tapak bayang di gelap kaki
Di terang mimpi
Sepasang mata mengintai bagai laba
Yang lapar akan kumbang di jaringnya

Angin yang perlahan menyisir daun-daun
Membentuk langkisau teduh yang jatuh
Malam ini, gigil serupa salju

Aku menunggu di satu kursi
Mendura tanpa kata,menggali mata ke mata
Mencari tunggu siapa yang berjelaga ?
Selendang hitam di kiriku
Mulai mengering
terkupas waktu yang makin hening
taman malam ini bagai trotoar
yang galau

Pekanbaru, 21 Maret 2012


Subuh di Matamu

Di jarak yang kita genggam
Ada jeda  sujud  malam yang menampung luka duka
di embun airmata
dan jarak jejak bayangmu,
akan menyimpan berkilo-kilo lara
yang masih menangisi bara

oh, lelana..
subuhmu masih bekukan almanak
di gigil pagi dini hari

aku sempat merapal dekap itu,
di sekujur tubuhmu kurasakan  peluh
yang jatuh bagai hujan
bagai dingin yang salju

Subuh ini aku masih menerka
ditatap manakah mata itu?

2012


Refila Yusra
Lahir di Tanjung Balai Karimun 2 Desember 1989. Saat ini sebagai Mahasiswi di UIN Suska Riau Jurusan Psikologi, selain itu juga aktif bergabung di Komunitas Paragraf. Beberapa karya pernah terbit di koran lokal.
KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 18 November 2018 - 06:45 wib

Bela SBY, Ruhut Sebut Prabowo Seperti Beruang Madu

Minggu, 18 November 2018 - 06:03 wib

PBNU Tak Sependapat dengan PSI Soal Perda Syariah dan Injil

Minggu, 18 November 2018 - 05:34 wib

Ketua PGI Tanggapi Positif Kritik Grace

Minggu, 18 November 2018 - 05:11 wib

Grace Harus Uraikan Maksud Perda Syariah

Minggu, 18 November 2018 - 04:36 wib

Kata Jokowi Monumen Kapsul Menyimpan Idealisme Seperti Avengers

Minggu, 18 November 2018 - 03:59 wib

Alasan Jerinx SID Tak Mau Temui Via Vallen

Minggu, 18 November 2018 - 02:50 wib

Wow, A Man Called Ahok Tembus 1 Juta Penonton

Minggu, 18 November 2018 - 02:15 wib

Pembagian Sertifikat Tanah Harus Ada Tindak Lanjut Pemerintah

Follow Us