Ancaman Harimau dan RTRW Riau

23 April 2018 - 10.10 WIB > Dibaca 724 kali | Komentar
 

(RP) - Semua makhluk hidup yang ada di bumi ini memiliki peran penting untuk menjaga keseimbangan alam. Misalnya burung pipit, burung ruak-ruak dan beragam jenis burung yang menarik dan selalu jadi buruan manusia. Jika mereka berkurang, maka jangan heran jika ancaman lalat buah, serangga terhadap tanaman milik petani semakin sulit diatasi.

Mengingat betapa pentingnya peran burung, maka sebaiknya manusia tidak harus menangkapi, menjual dan memelihara burung, sebab akan berdampak pada kehidupan manusia.

Bagaimana dengan harimau sumatera yang nasibnya kian terancam, apakah memiliki peran dalam menjaga keseimbangan alam. Tentu semua makhluk hidup yang ada di bumi tidak sia-sia diciptakan Allah SWT. Mengamuknya harimau membuktikan bahwa makanan mereka (rusa, babi hutan dan lainnya) kian langka, monokultur tanaman di Riau yang didominasi sawit terbukti membunuh makhluk hidup lainnya.

Mengamuknya harimau sebagai sinyal bahwa keseimbangan alam di Riau tidak terjaga lagi. Alam Riau tidak seimbang. Air hujan yang tercurah ke bumi langsung mengalir ke sungai, tidak ada lagi pohon-pohon asli Riau yang menahan curahan air hujan. Makanya jangan heran jika saat musim hujan, wilayah Riau tergenang air dan saat kemarau kebakaran hutan.

Di sinilah peran Rancangan Tata Ruang Wilayah (RTRW) Riau yang mengatur keseimbangan alam. RTRW membatasi pengusaha menebangi hutan seenak saja. Memang negeri ini perlu pembangunan, namun tidak pembangunan yang merusak keseimbangan alam. RTRW diharap bisa membentengi arus ideologi pembangunan yang merusak alam.

Kasus mengamuknya harimau sumatera adalah sinyal bahwa manusia sudah terlalu rakus mengeksploitasi alam. Jangan manusia, semut saja jika diinjak akan melawan. Begitu juga makhluk hidup lainnya, mereka melakukan perlawanan karena mereka terdesak, habitatnya habis dieksploitasi manusia.

Padahal keseimbangan alam itu untuk kepentingan manusia, namun manusia tidak menyadarinya. Karena kerakusan manusia, daerah di resapan air pun habis diubah menjadi ruko-ruko yang berjejer sepenjang jalan. Manusia merasa kepanasan, karena tidak ada lagi hutan. Hama tanaman semakin banyak menyerang pertanian karena burung-burung ditangkapi. Itu semua hanya demi hobi, kesenangan manusia.

Semoga RTRW Riau yang akan disahkan mempertimbangkan keseimbangan alam. Demi kehidupan anak-anak kita kelak yang bermukim di Bumi Lancang Kuning ini.***


KOMENTAR
Terbaru
Prabowo Tunjuk Neno Warisman Jadi Wakil Ketua TKN

Kamis, 20 September 2018 - 01:22 WIB

Kata Nadia Mulya Untuk KPK Terkait Kasus Century

Rabu, 19 September 2018 - 20:21 WIB

Siak Undang Sineas dan Produser Film

Rabu, 19 September 2018 - 20:00 WIB

Luis Milla Kembali Latih Timnas Indonesia

Rabu, 19 September 2018 - 19:30 WIB

13 Oknum ASN Terjerat Kasus Tipikor

Rabu, 19 September 2018 - 19:00 WIB

Follow Us