Opini
Oleh Satria Antoni PhD d

Early Warning Sistem Tsunami

18 Januari 2019 - 08.16 WIB

Early Warning Sistem Tsunami
Indonesia kembali dilanda tsunami pada Sabtu 22 Desember 2018. Tsunami kali ini agak berbeda sebab tidak didahului oleh gempa tektonik seperti yang sudah terjadi sebelumya di Aceh pada 26 Desember 2004 dan di Palu 28 September 2018 lalu. Para ahli geology menduga tsunami yang melanda Selat Sunda disebabkan setidaknya oleh dua hal yaitu pertama longsor bawah laut akibat aktivitas erupsi gunung anak Krakatau dan yang kedua disebabkan oleh material gunung api yang longsor yang kemudian memicu perubahan volume air di sekitarnya. Hingga saat ini Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sudah 430 meninggal dunia dan 843 mengalami luka-luka dan lebih dari 150-an yang dinyatakan hilang.

Sebagai seorang Marine Geologist penulis ingin menyampaikan kajian mitigasi gempa dan tsunami dan rekonstruksi early warning sistem untuk proses preventif supaya berkurangnya korban jiwa di masa yang akan datang.

History Gunung Krakatau

Sejarah mencatat bahwa pada 26-27 Agustus 1883 terjadi salah satu bencana catastrophic terparah sepanjamg sejarah dimana terjadi erupsi yang maha dahsyat dari gunung api Krakatau. Erupsi itu men-trigger gelombang tsunami yang mengakibatkan naiknya gelombang dengan ketinggian hingga 37 meter. Letusan gunung Krakatau memunculkan awan panas setinggi 70 kilometer dan telah menewaskan 36.000 jiwa, (Francis, 1985). Melihat peningkatan aktivitas abu vulkanik dan pergerakan magma yang terjadi di gunung anak Krakatau sehingga pemerintah dalam hal ini sudah menetapkan status waspada (level 2) semenjak 26 Januari 2012. Para ahli geologi memprediksi kemungkinan masih ada potensi tsunami susulan disebabkan oleh aktivitas vulkanik Krakatau masih berlangsung.

Secara geografis, Indonesia berada di posisi cincin api (ring of fire) lempeng tektonik. Pada zona ini banyak sekali terdapat aktivitas seismic. Negara Indonesia terletak diantara Cincin Api dan Sabuk Alpide yang membentang dari Nusa Tenggara, Bali, Jawa, Sumatra, terus ke Himalaya, Mediterania dan berujung di Samudra Atlantik. Inilah sebabnya di Indonesia banyak gunung berapi aktif dan banyak terjadi gempa. Gunung-gunung berapi di Indonesia termasuk yang paling aktif dalam jajaran gunung berapi pada ring of fire. Mengingat lokasi yang sangat rawan ini maka seyogianya Indonesia mempunyai alat pendedektsi gempa dan tsunami yang memadai seperti di Jepang.

Pada 2004 ketika gempa dan tsunami menerjang Aceh, saat itu pemerintah dan publik baru sadar bahwa pentingnya membangun dan memiliki alat pendeteksi dini di tanah air. Banyak ilmuwan dan geologi menyarankan bahwa sudah saatnya Indonesia dengan posisi geografis yang berada dalam kondisi yang rawan akan gempa dan tsunami memiliki alat dan sistem deteksi dini tsunami. Sebenarnya Indonesia semenjak 1996 sudah memiliki sistem deteksi tsunami yang dikenal dengan Seawatch yang bekerja sama dengan Oceanor dari negara Norwegia (Joko, 2018).

Selain mampu mendeteksi tsunami, kemampuan kerja alat Seawatch juga bisa mengukur parameter kualitas air laut dan juga mampu mendeteksi tingkat pencemaran laut yang bisa bermanfaaat untuk nelayan ikan yang ingin berbudidaya ikan laut. Ada 12 sensor deploy buoy yang sudah dipasang di Indonesia dalam kurun waktu periode 1996 sampai 2.000 yang terletak di Teluk Jakarta, perairan masalembo, Selat Malaka dan lain-lainnya. Pemerintah Indonesia disaat itu menargetkan supaya pemasangan sensor buoy ditingkatkan menjadi 50 buah yang akan dipasangkan di derah perairan yang rawan dengan gempa dan tsunami, namun perencanaan itu tidak bisa terwujud disebabkan krisis moneter yang melanda bangsa kita pada 1998 dan akhirnya program dan perencanaan ini diberhentikan.

Pasca gempa dan tsunami melanda Aceh tepatnya pada 26 Desember 2004, publik kembali mendorong pemerintah untuk mengaktifkan kembali sistem pendeteksi tersebut. Pemerintah Indonesia me-launching sebuah program pendeteksi dini tsunami yang dikenal dengan Program Indonesia Tsunami Early Warning Sistem (Ina-TEWS). Program ini menggunakan bahan material yang digunakan oleh program seawatch sebelumnya yang kemudian dikembangkan dan disempurnakan lagi oleh engineer di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Sebenarnya sistem ini sudah berfungsi dengan baik akan tetapi akibat sifat tamak yang tak bertanggungjawab akhirnya sensor buoy-nya banyak dicuri dan hilang dari stasiun nya. Masyarakat kita belum sadar dan bahkan tabiat mencuri masih tinggi walaupun sudah melihat fakta realitas betapa dahsyatnya bencana gempa dan tsunami yang melanda Aceh 2004 lalu.

Belajar dari Jepang

Saat penulis berkunjung ke Jepang beberapa bulan lalu dalam agenda International Conference of Japan Geoscience Union, Penulis melihat bahwa Jepang adalah negara yang mempunyai alat pendeteksi gempa dan tsunami yang sangat canggih. Alat deteksi tsunami Jepang yang canggih itu dikenal dengan nama Sub-marine Cable Based System. Struktur teknologi ini lebih akurat dan lebih aman dari tangan manusia yang rakus karena sistem ini dipasang dibawah laut. Teknologi ini dikembangkan oleh JAMSTEC (Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology).

Sampai saat ini, negara kecil seperti Jepang saja sudah memiliki lebih kurang sekitar 500 buah sensor bawah laut (Sub-marine Cable Based System,) (Joko, 2018). Dari total keseluruhan sensor sekitar 2.500-3.000-an sensor gempa dan tsunami yang dimilikinya. Melihat kesuksesan Jepang dengan menggunakan teknologi ini maka akhir-akhir ini Taiwan juga ikut mengembangkan dan mengadopsi alat dan teknologi deteksi tsunami bawah laut ini. Sehingga bisa dipastikan bahwa seluruh perairan Taiwan saat ini sudah memiliki sistem teknologi Jepang tersebut.

Indonesia yang merupakan negara yang memiliki garis terpanjang nomor dua di dunia dengan panjang garis pantai 54.716 kilometer belum memiliki alat dan teknologi gempa dan tsunami yang akurat dan optimal. Sumpah serapah yang dilontarkan oleh publik BMKG akibat mencabut kembali peringatan dini tsunami saat setelah gempa terjadi di Palu beberapa waktu misalnya menandakan teknologi yang dimiliki belum mumpuni. Kita selaku warga negara yang baik tidak seharusnya menyalahkan BMKG karena memang alat dan teknologi itu sendiri belum tersedia dengan baik seperti negera Jepang dan Taiwan. Dengan berbekal sistem dan sensor tersebut, tentu akan memudahkan kita dalam melakukan analisis cepat untuk peringatan dini terkait dengan potensi gempa dan tsunami.

Indonesia sudah selayaknya harus mengikuti jejak Taiwan yang sudah lebih dahulu mengadobsi teknologi ini. Teknologi ini diyakini akan lebih aman dibandingkan teknologi buoy system yang sebelumnya pernah diterapkan oleh Indonesia, tetapi rentan aksi pencurian dan vandalisme. Teknologi ini juga akan sangat akurat mendeteksi longsoran bawah laut, seperti halnya yang terjadi di Palu, yang akhirnya memicu gelombang Tsunami. Fenomena longsoran bawah laut ini adalah sebuah fenomena yang tidak bisa terdeteksi oleh jaringan seismograf dan GPS yang ada di darat.

Tsunami akan terus mengancam Indonesia, karena kita berada di zona ring of fire. Hal yang harus dilakukan oleh pemerintah kita Indonesia adalah menyiapkan infrastruktur sistem peringatan dini dini (Sub-marine Cable Based System), sistem mitigasi dan penanganan yang cepat, serta mengedukasi masyarakat tentang gempa ataupun tsunami untuk mengurangi korban jiwa dan kerusakan lainnya dalam konteks tindakan mitigasi dimasa yang akan datang.***


Oleh Satria Antoni PhD Candidate bidang Marine Geology di King Abdulaziz University Jeddah, Saudi Arabia. Anggota Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook