Opini
Dr Irvandi Gustari , Akademisi dan Praktisi Bisnisd

Pilihannya; Disrupting atau Disrupted?

11 Oktober 2019 - 08.37 WIB

Pilihannya; Disrupting atau Disrupted?
Pilihannya memang cuma dua, mendisrupsi atau terdisrupsi. Memang bukanlah pilihan yang sulit, namun bila salah langkah maka langsung punah atau bubar.  Sebelum era disrupsi, kita sebenarnya sudah acap kali mendengar istilah "change or die" artinya berubah atau punah, namun saat ini jauh lebih sadis lagi, bila lengah maka akan  terdisrupsi.

Sebenarnya bila kita ingin berada pada posisi "disrupting" atau mendisrupsi tidaklah sesulit kita bayangkan. Era disrupsi bukanlah era kiamat, namun harus mencermatinya sebagai peluang. Coba kita lihat bagaimana dua negara yaitu Jepang dan Irlandia  yang terkenal dengan inovasinya melalui produk-produk teknologi, dan bagaimana sikap dan langkap mereka dalam kejadian disrupsi itu sendiri.

Tahun 70-an kita ingat dengan mobil-mobil merek Amerika yang menguasai pasar, dan terkenal dengan kekokohannya baik dari segi bodi dan mesin, namun ukurannya besar dan lebar serta harga yang sangat mahal serta  boros dari segi bahan bakar. Memang di zaman itu mobil-mobil Amerika itu mengutamakan power yang besar dan tangguh, hal itu dijadikan alasan kenapa harganya mahal sekali.

Lalu pada tahun 80-an mobil asal Jepang sebut saja Toyota dan Honda berhasil menggeser dominasi mobil-mobil asal Amerika, dengan bodi yang ideal dan mesin yang tangguh tapi irit bahan bakar dan tampil dengan berbagai macam varian sesuai dengan keperluan serta kemampuan daya beli dari konsumen.

Lalu gerakan disrupsi terus berlanjut  di tahun 90an,  yaitu datang dari negara asal Ginseng yaitu Korea Selatan yang memproduksi mobil dengan ukuran yang lebih kecil dan jauh lebih efisien dan tentunya harganya jauh lebih murah dibandingkan mobil-mobil Jepang. Mereka masuk ke pasar dengan merek: Hyundai, Kia, Daewoo, termasuk merek Samsung dari sisi produk teknologi tinggi untuk rumah tangga seperti AC, Tv dan lainnya, cukup menggetarkan industri di Jepang dan maupun juga Taiwan.

Lalu apakah Jepang berdiam diri?  Langkah Jepang perlu dicermati dan pihak Jepang tidak mau melakukan pertarungan "head to head" dengan Korea Selatan,  dan Jepang paham banget sifat dan karakter dari disrupsi, sehingga pihak Jepang lebih memilih masuk ke pasar yang lebih tinggi, di mana Toyota dan Honda mencoba bersaing dengan Mercedez dengan mobil merek Prius.

Pihak Jepang tetap menjual kualitas yang lebih tinggi dari produk-produk asal Korea Selatan  dan pihak Jepang sangat sadar bahwa di segmen mobil yang murah dan kualitas yang sedang, akan berhadapan tidak saja dengan Korea Selatan, namun juga ada pihak Cina yang juga bermanuver di segmen tersebut.

Pelajaran apa yang bisa kita ambil dalam hal ini?  Jadi dalam era disrupsi ini, jangan cepat menyerah, gunakanlah segala kekuatan dan kelebihan yang ada, dan kejelian melihat segmentasi pasar, akan menentukan ketersediaan dari peluang pasar itu sendiri.

Lalu bagaimana sikap dan langkah dari Firlandia yang  terkenal dengan produk HP Nokia-nya dalam mengantisipasi disrupsi?  Pada tahun 90an, siapa yang tidak tahu dengan HP Nokia yang pas untuk dipegang dengan harganya yang wajar serta teknologi yang memadai, berhasil meluluh lantakan HP pendahulunya yang terkenal mahal dan ukurannya juga besar  seperti Motorola, Philips dan Siemens.

Namun ternyata di era 2000an, akhirnya Nokia juga terpaksa lenyap, karena tidak bisa dikelola dengan ala manajemen disrupsi sehingga akhirnya digeser oleh Iphone, Samsung yang menggunakan platform baru.

Sebenarnya tidaklah sulit untuk bertahan di era disrupsi ini, namun diperlukan kejelian. "Saat angin bertiup, sebagian orang membangun tembok dan sebagian lainnya membangun kincir angin".***


Dr Irvandi Gustari, Akademisi dan Praktisi Bisnis




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook