Opini
Syukron Wahib (Ketua ISNU Kabupaten Siak)d

Wapres dan Sarung

18 Oktober 2019 - 12.33 WIB

Wapres dan Sarung
Ada yang menarik dari penampilan Prof Dr KH Ma’ruf Amin, sosok yang pada tanggal 20 Oktober 2019 nanti  akan dilantik menjadi Wakil Presiden RI ini, yaitu selalu memakai kain sarung  dalam aktivitas kesehariannya. Dimulai dari beliau hadir ke kantor KPU untuk mendaftar sebagai cawapres maupun ketika cabut nomor urut, deklarasi damai, kampanye ke daerah, saat Debat Capres dan Cawapres pun beliau tanpa canggung naik panggung dengan memakai kain sarung yang biasa beliau kenakan. Bahkan ketika diwawancarai oleh salah satu stasiun Tv  setelah beliau resmi dilamar oleh Jokowi untuk digandeng menjadi cawapresnya, beliau mengatakan bahwa tidak akan mengubah penampilannya dengan memakai kain sarung (sarungan).

Terakhir beliau diwawancara lagi berkaitan dengan persiapan pelantikannya menjadi Wakil Presiden, kembali beliau mengatakan “Saya nyaman memakai kain sarung, tapi saya juga siap memakai celana“, kurang lebihnya begitulah kalimat yang keluar dari lisannya.

H Soeleiman Fadeli dan Mohammad Subhan dalam Buku II Antologi NU menyebutkan, bahwa beliau KH Ma’ruf Amin dilahirkan di Tanggerang, Banten, 11 Maret 1943. Ayahnya, KH Mohammad Amin adalah pengasuh Pondok Pesantren Al-Amin, Kresek, Tanggerang.

Sarung sebagai Nilai Identitas Santri

Melihat latar belakang beliau dari silsilah keluarga yang merupakan keturunan dari ulama  pengasuh Pondok Pesantren, pun dengan latar belakang pendidikan beliau yang berbasis  pesantren, tak perlu seorang pun ragu meskipun ia hanya didikan dalam negeri. Ia tak pernah ke Mesir, Madinah dan lainnya. Namun selama aktif di Komisi Fatwa MUI ia banyak membuat terobosan pemikiran hukum yang diakui kalangan ulama. Maka tak heran kain sarung itu selalu melekat dalam aktivitas kesehariannya kendatipun beliau akan menyandang status sebagai Wakil Presiden. Kain sarung selalu identik dengan kiyai dan santri yang ada dalam sebuah pesantren.

Identitas sarung sudah ada sejak sebelum kemerdekaan. Tidak jelas memang, kapan istilah sarung ini ada selain bahwa istilah ini dipastikan ada sejak pesantren itu sendiri berdiri; yaitu sekitar akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19. Pada masa-masa penjajahan, kain sarung tidak hanya digunakan untuk yang sifatnya ibadah seperti salat, ngaji dan lainnya, tapi juga menjadi simbol perlawanan kaum santri yang identik dengan sarung, terhadap penjajahan yang menimpa negeri ini.

Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Imam Suprayogo, mengungkapkan di antara banyak fungsi dan penggunaan sarung, ada satu fungsi yang sangat penting, yakni pembangunan akhlak yang baik. Masih menurut beliau bahwa, sarung itu juga merupakan simbol dari keanggunan pemakainya karena di samping dipakai sebagai sarana ibadah dan menunjukkan keluhuran akhlak, sarung juga menjadi identitas kecerdasan seseorang.

Lantas, apa pentingnya sarung bagi sosok Wapres Ma’ruf Amin? Tulisan ini sebenarnya bukan tentang sarung, akan tetapi karena kultur pesantren sangat identik dengan sarung, maka sarung(an) adalah anasir yang paling pas untuk mewakili kaum santri. Jangan salah, menjadi santri itu tidak pernah pensiun. Artinya, meskipun para santri telah lulus dan pulang dari pesantren untuk kemudian bermasyarakat, mereka tetap disebut santri. Bahkan, meskipun mereka berprofesi sebagai petani, pedagang, seniman, dosen, polisi, tentara, ekonom, pejabat, politisi, Wapres dan Presiden sekalipun, tetap saja identitas santri akan menempel: polisi yang santri, pedagang yang santri, seniman yang santri, wapres yang santri, dan lain-lain.

Ach Dhofir Zuhry menjelaskan sarung adalah kain lebar berbentuk persegi dengan berbagai motif dan corak, ditenun, ikat, tapis dan songket, yang dijahit kedua ujungnya sehingga berbentuk tabung, biasa dibebatkan ke pinggang untuk menutupi tubuh bagian bawah. Itu telah ada sejak peradaban/kerajaan Hindu Buddha di Nusantara ini.

Sedangkan Agus Sunyoto memaparkan sarung secara historis. Ia mengungkapkan bahwa sebetulnya sarung itu berasal dari bangsa Yaman. Tetapi bangsa Indonesia berhasil memodifikasi sarung sesuai dengan identitas lokal masing-masing dari orang-orang Nusantara sejak dulu. Oleh sebab itu, kain sarung yang lahir dari sejumlah suku di Indonesia mempunyai nama-nama yang berbeda seperti di antaranya songket yang banyak diproduksi di sejumlah daerah, ulos di Sumatera Utara, tapis di Lampung, dan jenis sarung tenun lainnya yang terdapat di berbagai wilayah di Indonesia. Sarung yang kita kenakan saat ini adalah perpaduan antara izar atau futah dari Yaman dan tradisi Hindu yang digunakan oleh kaum santri dan masyarakat pedesaan.

Dewasa ini, negara-negara semenanjung Arabia, Asia Tenggara, Afrika dan bahkan sebagian Eropa telah menggunakan sarung. Namun demikian, sarung yang dimaksud dalam tulisan ini adalah sarung khas santri dan pesantren. Dalam definisi pesantren adalah bagaimana supaya sarung ini diterima oleh masyarakat luas bukan semata-mata hanya sebagai atribut agama, tetapi sebagai konstelasi budaya dan penentu gerak zaman; bagaimana agar sarung menjadi gerakan kultural bagi lahirnya mercusuar ilmu dan peradaban, bukan semata atribut ibadah. Ini merupakan bukti bahwa betapa tradisi pesantren memberikan apresiasi yang luar biasa terhadap tradisi nasional dan simbol pemersatu bangsa. Begitu juga dengan sarung yang menjadi pakaian resmi orang-orang pesantren, bisa dipakai siapa saja sebagai jati diri lokal bangsa indonesia.

Mudah-mudahan sarung yang dikenakan sang Wapres dalam aktivitas kesehariannya melahirkan inspirasi, ide, dan gagasan yang terbaik demi untuk kemajuan bangsa dan negara ini, saya yakin dan percaya bahwa kain sarung yang selalu dikenakan beliau bukan untuk menampakkan  kesalehannya dan bukan juga untuk pencitraan, melainkan karena merawat tradisi dari kultur beliau yang seorang santri pesantren dan pengasuh pesantren yang identik dengan sarungan. Wallahu A’lam Bisshawab.***



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook