Lelaki Reinkarnasi

12 Agustus 2012 - 07.49 WIB > Dibaca 4877 kali | Komentar
 
Aku terjebak dalam kostum badut yang kukenakan. Di tengah keramaian yang hiruk-pikuk aku merasa sepi. Hening menggenggamku. Tidak ada pilihan selain harus bersembunyi di balik kostum ini. Gelap itu telah merenggut seluruh terangku. Tidak ada yang tersisa. Sekalipun itu rongga asa. Hanya nista. Hanya hampa. Hanya mampu berdiam dalam cekam.

Sebagai objek wisata, Jam Gadang dengan pelataran yang dijadikan taman di sekitar menara jam tersebut, mempersilakan siapa saja untuk berinteraksi di sana. Tidak peduli hari kerja maupun hari libur, Jam Gadang selalu ramai pengunjung. Turis lokal ataupun asing mengambil tempat setiap saat. Ada yang duduk-duduk menghabiskan waktu di taman itu. Yang berfoto dengan latar Jam Gadang tidak pernah ketinggalan. Tak jarang pula para lelaki menunggui keluarganya yang berbelanja di dalam pasar sembari melahap koran hingga terkantuk-kantuk, sebab disapa angin yang sepoi. Anak-anak berlarian. Para pejalan kaki hilir-mudik. Pedagang kaki lima pun turut serta. Belakangan ini berbagai badut karakter pun ikut andil meramaikan pelataran Jam Gadang. Siang dan juga malam.

Jam Gadang yang fenomenal ini dijadikan sebagai pusat penanda atau markah tanah Kota Bukittingi. Simbol khas Sumatera Barat yang telah berusia puluhan tahun ini pun memiliki cerita yang unik. Masyarakat Minangkabau menamai bangunan tersebut dengan istilah Jam Gadang karena memang memiliki jam yang gadang atau besar di puncak menaranya. Di pelataran menara yang  dibangun pada 1926 oleh seorang arsitek bernama Yazid Sutan Gigi Ameh inilah aku bertarung hidup. Bertahan di tengah gelap yang tak mengenal terang lagi. Sejak peristiwa dua tahun lalu saat terang telah direnggut dariku.  

Hari-hariku kuhabiskan dengan menyuruk di dalam tubuh SpongeBob ini. Dari pagi hingga tengah malam. Spons penyerap berwarna kuning dan berlubang ini menjadi sahabat setia yang selalu menemani. Hanya dia yang bisa mendengar aku tertawa, mendengar aku menangis, atau bahkan merintih. Dia mengerti benar tentang aku. Aku yang dulu pernah memiliki hidup yang cerlang. Penuh gemintang. Selalu sumringah. Semua orang berkata bahwa aku adalah perempuan ceria yang paling bahagia. Hingga peristiwa jahanam itu tiba. Merampas dengan paksa segala rasa.

Kau aman bersamaku, katanya suatu ketika, tatkala dipayungi terik matahari yang seharusnya menggigit.

Pasti, gumamku seraya bergelung di perutnya yang semestinya pengap miskin udara.

Tak ada yang bisa menyakitimu di dalam situ. Dia kembali meyakinkanku di suatu ketika lainnya.

Pasti. Aku semakin meringkuk membulat seperti bola di dalam dia.
***

Perempuan itu adikku. Adik tiriku lebih tepatnya. Anak dari istri bapakku. Bapak dan istrinya itu menikah dua tahun yang lalu. Janda dan duda yang kasmaran. Dan perempuan itu juga membuatku kasmaran. Sialnya aku, dia tidak punya rasa yang sama sepertiku.

Seminggu mereka hijrah ke rumah bapakku, perempuan itu semakin menggelitik rasaku. Rasa dan emosi membaurku pada nafsu. Tapi ia selalu menutup pintu. Membuatku kalap bagai pemburu.  Menerjang menghengkang bagai hantu yang tak bermalu. Hingga ia takluk di hadapku. Dan akhirnya menjadi canduku.
***

Ibu rintihku. Aku sakit, Ibu, aku perih.

Tapi ibu yang kasmaran pura-pura tak mendengar. Dan ibu yang kasmaran memaksa memicing mata. Sebab ia takut kehilangan cinta. Cinta dari bapak laki-laki biadab itu.

Minum saja aspirin, sakitmu akan raib seketika, begitu selalu ibu menyuruhku tiap kali aku merintih perih.

Padahal dulu ibu tidak begitu. Selama 20 tahun aku bersamanya, ia adalah wanita hebat yang selalu bisa diandalkan. Sejak ayah meninggal tujuh belas tahun silam, ibu selalu ada untukku, untuk setiap gelak-tawaku, untuk setiap keluh-kesahku. Namun sejak mengenal bapak laki-laki biadab itu, ibu seperti sirna seketika.

Laki-laki biadab itu anak semata wayang sepertiku. Laki-laki biadab itu sangat disayang oleh bapaknya. Tidak ada seorang pun yang boleh menyentuh kulit busuknya itu. Jika ada yang mencoba mencoleknya, maka bersiaplah ia akan memeroleh petaka. 

Begitu pun ibuku, wanita yang melahirkan aku. Rela berada dalam kepuraan tidak mengetahui perihku.

Tubuhku telah menjadi candu laki-laki biadab itu. Telah lewat tiga purnama aku diperlakukan seperti itu. Dan ibu tahu itu. Bahkan tidak jarang menyaksikan kami berseteru dalam nafsu laki-laki biadab itu. Dan ibu hanya tertunduk lesu, kemudian berlalu.

Ibu, tolong aku! jeritku suatu waktu.

Ibu tergopoh menujuku, dan sekali lagi, ia hanya berlalu. Karena kasmaran yang mengharu biru ibu. Perihku semakin menyembilu. Ngilu.
***

Menjadi badut adalah pilihan terakhirku. Setelah aku memutuskan meninggalkan rumah mewah yang berisi manusia-manusia berhati hantu itu, aku terlunta ke sini-situ. Hingga akhirnya aku terdampar di pelataran menara yang dibangun tanpa menggunakan besi penyangga dan adukan semen itu.

Terlihat banyak badut karakter yang ngamen di sana. Mulai dari tokoh kartun Winnie the Pooh,  Angry Bird, Tazmania, SpongeBob, Barney, bahkan Upin dan Ipin berkeliaran di sana. Mereka mendekati anak-anak dan menggoda dalam bisu. Anak-anak pun terbius. Ada yang takut dan mengintip dari balik rok ibunya, dan tak jarang pula datang mendekat dan bersalaman dengan sang badut. Tentu saja para badut tidak ingin kehilangan momen ini. Mereka bekerja sama dengan juru foto amatir membujuk para orangtua untuk berpose bersama. Sang badut pun mejeng bersama anak-anak itu, si juru foto meng-klik mereka. Untuk itu orangtua harus mengeluarkan sekian rupiah untuk si badut dan sekian rupiah pula buat si juru foto. Bagi yang tidak menggunakan jasa juru foto amatir, tidak dipersoalkan. Mereka tetap boleh menjepret menggunakan kamera pribadi sepuas hati, namun tetap memberikan setoran pada si badut.

Kostum badut itu kusewa pada Haji Abas yang terkenal dengan julukan Juragan Badut. Dia memiliki lebih dari sepuluh kostum. Setiap bulan selalu saja ada kostum baru yang dibawanya, setidaknya satu. Uang setoran kami serahkan setiap tengah malam, tepat pukul dua belas, pada orang suruhan Juragan Badut.

Kostum SpongeBob menjadi pilihanku. Sejak pertama kali aku bergabung sebagai penyewa kostum, aku telah jatuh hati pada spons laut yang berkarakter polos, optimis, selalu ceria, dan memiliki prasangka baik terhadap siapapun tersebut. Dan mulai saat itu kami pun menyatu. Bahkan tidak ada orang yang berani memakai kostum itu, padahal siapa saja bebas memilih kostum yang dia suka. Siapa cepat, dialah yang dapat.
***

Profesi badut sebenarnya berusia cukup tua, konon katanya sejak zaman Yunani dan Romawi kuno. Menjadi badut bukan hanya sekadar menjadi penghibur, tetapi juga sebagai lahan pencari nafkah di jalanan. Boleh dikatakan, para badutlah penjaja hiburan jalanan tertua di dunia.

Menjadi badut adalah pilihan terakhirku. Dengan menjadi badut dalam balutan kostum yang unik dan aneh harus memiliki kemampuan memeragakan gerakan-gerakan lucu dan konyol, tanpa melepas sedikit pun kata-kata. Orang-orang yang menyaksikan akan tertawa setidaknya tersenyum tanpa tahu adanya luka yang nganga di balik itu.  

Seperti aku. Aku perempuan yang bersarang dalam kelam. Semua menjadi hitam. Tak ada lagi terang bersemayam.

Hingga aku masuk ke dalammu. Ada sesuatu menerpaku. Seketika aku terhenyak dalam riang yang mendadak. Ada nyaman yang berdetak. Membuatku enggan beranjak.

Saya adalah putra Rook Maker, katamu memperkenalkan diri.

Aku terhenyak. Ingatanku melayang pada papan penjelasan yang terletak di salah satu sisi pagar Jam Gadang. Di sana dijelaskan bahwa jam tersebut merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada Rook Maker, Controleur (sekretaris kota) Fort de Kock (sekarang Bukittinggi) pada masa Pemerintahan Hindia-Belanda. Sementara putra Rook Maker adalah orang yang meletakkan batu pertama pada saat pembangunan menara itu.

Ya, kala itu saya berusia enam tahun.

Hanya nganga yang bisa kuperlihatkan.

Kini saya terlahir kembali di sini, sebab saya tak bisa melupakan menara yang ikut membesarkan nama saya.  Dalam rongga yang diapit empat buah jam di atas menara itu saya  berdiam, sebagai bandul. Dengan aksen Belanda yang sering kudengar di film-film lama kau menjelaskan panjang dan lebar. Melihatmu dari atas sana membuat saya tergoda menyusup ke dalam kostum ini, tambahmu.

Aku tergugu. Diam dan kaku.

Sebagai perempuan yang terlanjur gagu akibat peristiwa busuk itu aku hanya terpaku.

Ayo, tersenyumlah, pintamu. Hidup ini terlalu indah untuk kamu lewatkan begitu saja. Berbagilah! Kau mendongakkan daguku dan menatap dalam-dalam mataku.  

Aku kemudian masuk ke dalam mata itu, menyusuri setiap lorongnya, dan membuka setiap celah misterinya. Kutemukan kejujuran di sana. Terlihat sebuah taman yang menjadi impian di salah satu lorong di mata itu. Taman yang tak mengenal gelap. Segala yang ada menyeruakkan benderangnya. Aku terkesiap.

Kau adalah lelaki tak berwujud. Kau tak teraba tetapi ada. Dan memiliki rasa. Perlahan kau urai gelapku. Terlihat kini rongga asa yang mulai mencuat ke permukaan. Terangku mengendap-endap menampakkan cahaya.

Aku semakin betah bergelung dalam spons penyerap berwarna kuning itu. Spons bercelana kotak yang selalu sumringah menularkan cerianya padaku di dalam sini. Tak terasa olehku terik yang membakar dan angin dingin dalam kelam. Hanya rasa nyaman. Sebab kau, lelakiku, selalu ada membawa asa yang dulu pernah sirna.

Aku berdiri, berteduh pada bayang-bayang menara jam setinggi 26 meter itu. Sebenarnya aku tak peduli harus berdiri di mana. Tak lagi kuperlukan tempat teduh untuk berlindung. Semua kulakukan semata karena kau, kekasihku. Aku hanya tak mau kau tersakiti karena ingin melindungiku. Sebab kita sudah berjanji saling mengasihi. Saling berbagi dalam setiap suka dan saling menggamit dalam setiap duka.

Kau cantik sekali hari ini, aku terpesona. Kau selalu memulai pagi dengan menerbangkanku. Aku tersipu.

Ah, lelaki. Memang tercipta untuk merayu. Tetapi perempuan mau.

Di lain pagi, Kau membuatku enggan berkedip, sapamu membuatku terhanyut. Kau selalu berhasil mencipta keajaiban. Kau melayangkanku.

Pertemuan-pertemuan kita selalu berakhir dengan tebaran aroma cinta di ladang kita. Namun belum kunjung menghasilkan putik yang siap dipetik.

Aku ingin menjadi perempuan yang benar-benar sempurna, Kasih, kataku sambil terus menyelami lorong matamu.

Sempurna yang bagaimana? Kau berkerut.

Aku ingin merasakan nikmatnya melahirkan dan membesarkan buah-buah cinta kita, pintaku.

Kau tak nyata, tetapi ada. Aku bisa rasa. Sebab setiap peristiwa memiliki dimensi misterinya sendiri yang tidak akan selalu terjelaskan, betapapun tersedia ribuan kata untuk menarasikannya.

Oh, lelaki reinkarnasiku. Kau selalu berhasil membuat gunung rindu di setiap penghujung waktu. Kita selalu bercinta dalam kata yang biru. Sebelum kau kembali ke peraduanmu di tengah malam bisu, kita tak pernah lupa menyemai cinta di ladang rindu. Sehingga menetaslah anak-anak kita setiap waktu, dan kita  namai mereka  hanya dengan kata yang satu. Rahasia. Kita beri nama itu. Sebab katamu, ada banyak arti dalam kata itu.Ya, setiap orang memiliki cara sendiri mengatur gerak rasanya, begitu katamu.***


Dessy Wahyuni
Adalah pegawai Balai Bahasa Provinsi Riau. Menulis cerpen dan esai yang dimuat di beberapa media seperti Riau Pos, Padang Ekspres, Haluan dan yang lainnya. Bermastautin
di Pekanbaru.
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 26 September 2018 - 12:46 wib

JPO Ditutup

Rabu, 26 September 2018 - 12:30 wib

5.131 Hektare Lahan Telah Terbakar

Rabu, 26 September 2018 - 11:55 wib

Dilabrak Istri Pertama

Rabu, 26 September 2018 - 11:26 wib

19 TKI Nonprosedural Dipulangkan Lewat Dumai

Rabu, 26 September 2018 - 11:09 wib

2 Bulan, Beraksi di 8 TKP

Rabu, 26 September 2018 - 10:56 wib

Melibatkan 10 Tenaga Verifikator

Rabu, 26 September 2018 - 10:30 wib

66 Orang Terjaring Razia Malam

Rabu, 26 September 2018 - 10:28 wib

Terpantau CCTv, Maling Dihajar Pegawai Pemprov

Follow Us