Perempuan Perupa (Nusantara) Indonesia

9 September 2012 - 08.06 WIB > Dibaca 743 kali | Komentar
 
Sebelum Indonesia menjadi sebuah bangsa yang diakui kedaulatannya, di Bumi ini tercatat (kemudian) telah terlahir seorang perempuan perupa (pelukis) Emiria Sunassa (lahir, di Tanawangko, Sulawesi Utara, 1895 --meninggal di Lampung pada 7 April 1964) yang kemudian meraih prediket ‘’Pelopor Perupa Perempuan Modern Indonesia’’.

Para penulis sejarah seni rupa, sejak itu memberi apresiasi terhadap perupa perempuan Indonesia yang terus tumbuh dan Emiria Sunassa lah yang telah meletakkan pijakannya. ‘’Seniman menciptakan sesuatu dari apa yang dinamakan ketiadaan,’’ ujar Emiria Sunassa suatu saat.

Emiria sendiri seolah muncul dari ketiadaan dan menghilang begitu saja di masa akhir hidupnya. Dalam sejarah senirupa, namanya terdengar asing ketimbang nama-nama besar seperti Raden Saleh, Basuki Abdullah, Sudjojono, Mochtar Apin, Rusli dan perupa pria lainnya. Padahal dia sangatlah layak disebut pelopor perempuan perupa di Indonesia karena keberadaannya pada awal perjalanan sejarah senirupa dan konsistensinya dalam berkarya.

Saat banyak kalangan mempertanyakan aspek gender dalam senirupa, yang melihat perempuan bukan hanya sebagai objek tapi juga subjek, Emiria melesat lebih maju.

Pelukis Sudjojono, yang berprediket sebagai bapak senirupa modern Indonesia, pernah menyebut Emiria Sunassa sebagai perupa ‘jenius’. Salah satu karya Emiria yang masih dapat dinikmati khalayak banyak berjudul, ‘’Pengantin Dayak’’, sebuah lukisan dominan dengan warna merah jambu dan coklat tua, yang kini menjadi koleksi Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta.

Sebagai putri Sultan Tidore, dia hidup bergelimang kemewahan. Menilik pada lingkungan kesehariannya yang pada dasarnya Emiria Sunassa taklah terpikir untuk menjadi seorang pelukis. Meski ayahnya seorang raja yang berpikiran modern, Emiria hanya boleh belajar tak lebih dari kelas 3 Europese Lagere School. Bertolak belakang dengan jiwa ‘pemberontak’ nya. Tekad yang tersimpan di benaknya kala itu adalah, kelak dia bisa mengunjungi negeri-negeri jauh dan mempelajari banyak hal dan ini dia buktikan kelak dalam rentang perjalanan hidupnya.

Bermula dari ketika seorang duta luar negeri sakit. Emiria merawatnya hingga sembuh. Dia tak menyangka bahwa kemudian lelaki asing itu melamarnya dan membawanya ke negeri asal. Emiria menerimanya. Hingga sampailah dia ke daratan Eropa.

Di Eropa Emiria banyak belajar di berbagai disiplin seni. Dia belajar tari balet dari Miss Duncan dari Dalcroze School di Brussel dan dari Green di Amsterdam. Bahkan di Wina dia bermain dalam satu bentang karya balet termasyhur dan diberi peran sebagai puteri Timur. Dia muncul sebagai ‘Sun’, dengan sekujur tubuh berkilauan bak matahari. Penonton senang. Sejak itu ia disebut ‘Sunny’.

Perkawinannya kandas. Dia bercerai dan kembali ke Indonesia. Di negeri sendiri dia masih senang melakukan perjalanan. Dia punya perkebunan di Halmahera, yang hasilnya bisa membiayai perjalanannya keliling Nusantara yang kemudian menjadi sumber inspirasi bagi banyak lukisannya.
Jejak Emiria Sunassa kemudian lenyap pada 1960-an. Karena tentu saja disebabkan banyak faktor dan salah satunya adalah minimnya pencatatan. Kehilangan ini meninggalkan tanya bagi banyak orang. Menurut arsip www.nationaalarchief.nl, tahun 1960 dia mengajukan permohonan visa ke Nederlands Nieuw-Guinea, nama Papua Barat kala itu, dengan menyebut diri ‘’Ratu dari Nederlands Nieuw-Guinea’’. Tak jelas untuk apa. Papua Barat, yang sejak abad ke-18 dianggap bagian dari Kesultanan Tidore, hingga masa itu masih menjadi wilayah yang disengketakan antara pemerintah Indonesia dan Belanda.

Emiria Sunassa meninggal di Lampung pada 7 April 1964. Tak ingin tersandung di batu yang sama, agar tak kehilangan jejak dari orang-orang yang seyogianya sangatlah layak masuk dalam catatan sejarah, minimal agar menjadi motivator bagi generasi sesudahnya, banyak cara yang dapat dilakukan. Antara lain seperti, menyimpan teks berikut karya serta katalogus pameran dari orang layak tersebut pada tempat-tempat terpercaya seperti museum-museum yang diurus sangat serius. Memparadekan karya-karya perupa secara berkala tanpa batasan kurun waktu tertentu, baik usia karya maupun usia kreatornya, yang murni pameran ditaja berorientasi pada peningkatan apresiasi dari masyarakat dan upaya memperbanyak ragam penerbitan buku karya senirupa serta ulasan tentang karya termuat dari para kurator terpercaya.

Tampaknya usaha pada poin terakhir telah ditunjukkan oleh Yayasan Seni Rupa Indonesia dengan menerbitkan buku yang diklaim sebagai buku pertama, yang secara khusus mengulas hidup dan karya 34 perempuan perupa Indonesia berjudul ‘’Indonesian Women Artist: The Curtain Opens’’. (terima-kasih kepada rekan Armawi Kh, yang telah meminjamkan buku ini sebagai pelengkap tulisan). Buku tersebut diluncurkan di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.

Peluncuran buku itu, sekaligus menandai pembukaan pameran seni rupa bertajuk ‘’Intimate Distance’’ beberapa tahun lalu (1-10 Agustus 2007), yang menampilkan karya-karya mereka dan peristiwa itu dianggap sebagai tonggak penting dalam telaah dan pendokumentasian sejarah perupa perempuan Indonesia.

Tiga penulis buku itu yang juga perempuan, Carla Bianpoen, Farah Wardani dan Wulan Dirgantoro, berupaya menjadikan buku berbahasa Inggris tersebut benar-benar sebagai buku berharga, bernilai sejarah yang berorientasi pada dunia kreatifitas perempuan perupa Indonesia.

Terlebih, kajian posisi para perempuan perupa dalam sejarah seni rupa Indonesia sangat langka, terbatas dalam bentuk ulasan pendek suratkabar, majalah, atau katalog pameran. Menjadi sebuah kenyataan di tengah kelangkaan buku yang ditulis secara sungguh-sungguh mengenai seni rupa Indonesia, buku ini merupakan sumbangan yang sangat penting, terutama bagi khalayak yang hendak mengetahui lebih jauh wajah seni rupa kita. Dan adalah tiga sosok perempuan Carla Bianpoen, Farah Wardani, serta Wulan Dirgantoro yang memiliki kompetensi menggambarkan perempuan perupa Indonesia.

Carla Bianpoen seorang wartawan lepas bidang seni budaya, alumnus Universitas Wilhelms (Jerman) 50 tahun lalu, Farah Wardani seorang kurator dan penulis, alumni pascasarjana sejarah seni Goldsmith College (Inggris) dan Wulan Dirgantoro juga seorang kurator dan penulis, alumni pascasarjana Universitas Melbourne (Australia).

Pekerjaan membukukan 34 figur perempuan perupa bukan perkara mudah bagi ketiga penulis, karena mereka yang ditulis berada pada rentang waktu yang sangat panjang, mulai dari Emiria Soenassa (1895-1964) hingga Prilla Tania yang tergabung dalam kelompok seni ‘Videobabes’ kelahiran Bandung 1979.

34 perempuan perupa yang menjadi obyek penulisan buku ini adalah Emiria Soenassa (1895-1964), Masmundari (1904-2005), Kartika Affandi (1934), Rita Widagdo (1938), Umi Dachlan (1942), Nunung WS (1948), Hildawati Soemantri (1945-2003), Edith Ratna (1946), Iriantine Karnaya (1950). Lalu, Dolorosa Sinaga (1952), Heyi Ma‘mun (1952), Astari Rasjid (1953), Yani Mariani Sastranegara (1955), Marida Nasution (1956), Dyan Anggraini (1957), Altje Ully (1958), Yanuar Ernawati (1959), Hening Purnamawati (1960), Mella Jaarsma (1960), Marintan Sirait (1960), Arahmaiani (1961), I GAK Murniasih (1966-2006). Kemudian, Tiarma Dame Ruth Sirait (1968), Tita Rubi (1968), Melati Suryodarmo (1969), Wara Anindyah (1969), Erica Hestu Wahyuni (1971), Bunga Jeruk (1972), Tintin Wulia (1972), Ay Tjoe Christine (1973), Diah Yulianti (1973), Laksmi Shitaresmi (1974), Caroline Rika (1976), dan Endang Lestari (1976).

Sementara karya yang disorot dalam buku ini adalah karya-karya perupa perempuan pada periode 1940 - 2007. Emiria, yang bergiat dalam kurun 1940-1950-an menampilkan perempuan yang bersumber pada cerita-cerita pribumi, sosok-sosok puak dan model dari kalangan jelata, yang sangat patut dipandang sebagai karya feminis awal. Ironisnya, meski giat menggelar pameran dan bahkan mendapat berbagai hadiah, ia tidak pernah diberi penghormatan yang layak dalam sejarah seni rupa modern Indonesia. Sejarah seni rupa modern Indonesia hampir semua ditulis oleh laki-laki dan berkisah tentang para perupa laki-laki. Lukisan karya Emiria berjudul ”Mutiara Bermain” yang dibuat selama empat tahun sejak 1942, menggambarkan dua perempuan telanjang sedang menari di belahan mutiara pada dasar laut, menunjukkan betapa tertindasnya perempuan kala itu, terlebih di masa penjajahan Jepang yang memandang perempuan sebagai pemuas nafsu birahi.

Seiring perjalanan waktu, dalam dasawarsa 1950-an, terutama dengan berdirinya ASRI (sekarang Institut Seni Indonesia) di Jogjakarta dan Fakultas Seni Rupa ITB menumbuhkan pula perempuan perupa. Rita Widagdo misalnya, menjadi dosen patung terkemuka di ITB. Konsep modernisme dalam seni rupa dan seni abstrak sudah banyak diperhatikan dan terwariskan dari perempuan bernama asli Wizemann, warga negara Jerman yang menjadi WNI setelah menikah dengan Widagdo.

Dalam buku ini disebutkan, posisi sejumlah perempuan perupa di akademi telah merangsang makin banyak diskusi di kalangan mahasiswa tentang bagaimana seni dapat mengubah cara pandang terhadap budaya, temasuk soal-soal perempuan dan gender, membawa dekonstruksi norma. Terpengaruh soal-soal sosial politik era 1970-an, seniman mengubah cara mereka mengeksplorasi kreativitas, dari segi medium maupun praktik.

Ketika ketiga penulis ditanyakan apakah ke-34 perempuan perupa yang ditulis dalam buku itu telah mewakili perjalanan perempuan perupa di Indonesia, Carla, Farah, dan Wulan tidak memberikan jawaban yang pasti. Mereka hanya mengatakan ke-34 perempuan perupa itu dipilih berdasarkan berbagai kriteria yang tak dapat digeneralisasikan menjadi seperangkat parameter yang tetap.

Ia hanya bisa memastikan bahwa dengan penulisan buku tersebut, tirai perempuan perupa dan seni rupa Indonesia telah terbuka. ‘’Dan akan tetap terbuka,’’ katanya, meski diakui bahwa dunia internasional belum akrab dengan eksistensi perempuan perupa Indonesia. Sebuah upaya penyelesaian bentuk pendokumentasian perupa perempuan dalam skala nasional, memperlihatkan titik terang dan diharapkan berkelanjutan. Namun upaya formal dalam skala daerah (Riau) belumlah terlihat sama sekali. Padahal seperti yang sering dikumandangkan bahkan menjadi sebuah slogan yang cukup meluas bahwa ‘’Kesenian daerah adalah pilar-pilar penyangga kesenian nasional’’. Dari catatan penulis yang hanya mampu dihimpun dari berbagai katalogus pameran senirupa yang diadakan di Pekanbaru, bahwa Riau juga pernah memunculkan karya-karya perupa perempuan seperti, Helmiwati Kadir (alumnus ISI Jogjakarta), Marleen Wijns (lulusan Academy for Fine Art Leuven Belgia), Siti Dwi Liswati ( alumnus ISI Jogjakarta), Aty Utama dan beberapa lainnya yang (maaf) belum terjangkau pengamatan penulis. Harapan penulis dan saya yakin juga menjadi harapan kita semua, bahwa pendokumentasian itu sangatlah penting agar kita tak kehilangan jejak sejarah kesenian di daerah ini dan penulis memulainya dengan tulisan ini.***


Dantje S Moeis
Lahir di Rengat Indragiri Hulu Riau, adalah  pekerja seni, redaktur majalah budaya Sagang dan dosen Sekolah Tinggi Seni Riau (STSR) Pekanbaru.
KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Minggu, 18 November 2018 - 20:28 wib

Berlari 15 Menit untuk Daya Ingat yang Baik

Minggu, 18 November 2018 - 20:23 wib

Jadi Pemilik Akun Penyebar Hoax, Istri Gubernur Diselidiki Polisi

Minggu, 18 November 2018 - 20:20 wib

IDI Riau Gembira PN Pekanbaru Menangkan Gugatan Anggotanya

Minggu, 18 November 2018 - 06:45 wib

Bela SBY, Ruhut Sebut Prabowo Seperti Beruang Madu

Minggu, 18 November 2018 - 06:03 wib

PBNU Tak Sependapat dengan PSI Soal Perda Syariah dan Injil

Minggu, 18 November 2018 - 05:34 wib

Ketua PGI Tanggapi Positif Kritik Grace

Minggu, 18 November 2018 - 05:11 wib

Grace Harus Uraikan Maksud Perda Syariah

Minggu, 18 November 2018 - 04:36 wib

Kata Jokowi Monumen Kapsul Menyimpan Idealisme Seperti Avengers

Follow Us