Oleh Purnimasari

Pecah Bulu

11 September 2011 - 08.22 WIB > Dibaca 6386 kali | Komentar
 
Idul Fitri 1432 H ini benar-benar cukup membuat umat Muslim kelimpungan. Terlebih para ibu rumah tangga atau perempuan yang bertanggung jawab menyediakan berbagai menu menyambut Hari Raya. Sebenarnya, hal serupa itu bukan baru sekali ini terjadi. Sudah ada juga Idul Fitri yang dirayakan berbeda hari. Namun, tahun ini, pengharapan sebagian umat Muslim benar-benar meleset. Banyak di antaranya yang menduga 1 Syawal akan jatuh pada Selasa 30 Agustus. Sehingga sedari pagi mereka sudah disibukkan dengan berbagai pekerjaan menyambut hari kemenangan.  

Memang benar kata lagu Bimbo, mau Selasa (30/8) atau Rabu (31/8), yang jelas Lebaran Sebentar Lagi. Ketupat yang sudah masak sejak Selasa (30/8), untuk sementara nasibnya terpaksa digantung pemerintah. Apa daya, Sidang Isbat akhirnya menetapkan 1 Syawal versi pemerintah adalah Rabu (31/8). Setelah itu, berbagai hal-hal lucu pun muncul silih berganti. Mulai dari status di jejaring sosial seperti facebook atau twitter, hingga kiriman kabar di BlackBerry Messenger.

Teman-teman yang baru beberapa jam lalu sibuk mengirim ucapan selamat Hari Raya, tiba-tiba berganti dengan mengirim SMS berbunyi: kami keluarga besar X mengucapkan selamat sahur kembali. Atau: seandainya presiden kita Mr X, maka kita Lebaran Selasa, karena dia prinsip lebih cepat lebih baik. Tapi berhubung presiden kita Mr Y, maka kita Lebaran Rabu, karena dia berprinsip lanjutkan. Maka mari kita lanjutkan puasa lagi. Ada-ada saja.

Itu baru di dunia virtual. Di dunia nyata, pekerjaannya lebih berat lagi. Para pengurus masjid yang Selasa (30/8) sore sibuk membersihkan tanah lapang untuk Salat Ied, pada malam harinya terpaksa mengangkat kembali sound system yang telah diangkut dengan susah payah. Para peserta pawai takbir yang sudah mempersiapkan mobil dan pakaian mereka dengan indah terpaksa ganti kostum. Di kampung, anak-anak yang sudah semangat ingin ikut pawai pakai obor, terpaksa balik kanan. Ada masjid yang bahkan sudah menyetel kaset takbir, sejurus kemudian tiba-tiba datang pengumuman yang mengajak jamaah kembali melakukan Salat Tarawih. Menonton Sidang Isbat di TV yang menentukan hilal dengan cara demokrasi pun makin lama terasa makin absurd.

Selasa (30/8) pagi, dengan sangat percaya diri, saya menjemput pesanan lontong. Sesampainya di sana, si Bude beserta para asistennya ternyata masih sibuk mengiris-iris bumbu dan segala sesuatunya. Kan Lebaran baru besok. Jadi semua pesanan dimundurkan, ujar si Bude tanpa nada bersalah. Lha, saya kan pesannya untuk Selasa dan tak pernah minta dimundurkan, timpal saya tak mau kalah. Urusan tambah pening karena Selasa itu kami berencana balik kampung. Alamak, apa yang mau dibawa? Mau dibatalkan, sudah dibayar penuh pula.

Untung si Bude cukup menghargai pelanggan. Karena sudah masuk kerja, akhirnya pesanan lontong bisa diambil Kamis (1/9). Padahal, di hari yang sama, giliran si Bude yang mudik mengunjungi anak-anaknya. Akibatnya, setelah pesanan dijemput, baru dia bisa berangkat. Itu baru persoalan lontong. Bagaimana dengan gulai? Lebih rumit lagi. Maka muncullah peribahasa baru: akibat hilal setitik, rusak gulai sebelanga. Kue untuk hantaran para kerabat pun terpaksa diantar dengan gaya tak jelas agar tetap fresh from the oven. Kalau dia Lebaran Selasa ya syukur. Kalau dia Lebaran Rabu, ya mau gimana lagi. Sebab semua sudah terlanjur dimasak. Daripada angul dan basi?   

Persoalan habis? Belum! Di kampung, kami juga pening memberi jawaban yang intelek pada anak yang bertanya: mengapa ada orang yang sudah Lebaran sekarang dan yang lain baru besok? Sebagai orangtua yang berusaha memberi jawaban logis pada anak, saya terus terang kesulitan. Bagaimana membuat soal rukyat, hisab dan hilal bisa mudah dimengerti anak TK?

Idul Fitri yang harusnya jadi kesempatan mempererat tali silaturahmi, kini bisa jadi bergeser fungsi. Satu rumah saja, bisa beda-beda Hari Raya. Apatah lagi kakak adik, jiran tetangga. Akibatnya, waktu berkunjung pun jadi tak efektif karena tak ada kesamaan Hari Raya. Ini tak hanya membuat kebingungan, tapi juga meresahkan dan mengakibatkan Idul Fitri jadi kurang semarak.

Pendek kata, mau Lebaran Selasa atau Rabu, semua hal jadi masuk angin. Atau lebih tepatnya pecah bulu. Dalam dialek Melayu Rantau Kuantan (Kuantan Singingi), pecah bulu adalah ungkapan yang digunakan untuk menggambarkan pertumbuhan seekor anak kucing yang menjadi terganggu. Sehingga kemudian berubah dari gemuk menjadi kurus, karena sering diusik. Mirip itu jugalah Idul Fitri tahun ini. Pengharapan yang semula besar, jadi menciut sebab banyak hal jadi meleset.

Presiden SBY sendiri mengaku banyak orang yang protes ke dirinya karena adanya perbedaan Hari Raya. Banyak SMS yang masuk ke saya menanyakan soal 1 Syawal itu. Mengapa (perbedaan) itu terjadi. Tapi saya cuma bisa berkata bahwa mungkin yang protes ke saya itu salah, bukan pada tempatnya. Itu bukan domain saya, ujar SBY saat membuka Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Selasa (6/9). Menurut SBY, masih ada pula yang SMS mengatakan apa tidak ada kebijakan tertentu yang bisa membuat situasi jadi lebih harmonis.

Dalam sepengetahuan saya yang awam, Islam sangat memuliakan ilmu pengetahuan. Tapi mengapa menyamakan Idul Fitri saja jadi sangat pelik? Tak adakah formula yang sangat manjur untuk menyelaraskan silang pendapat soal hilal? Di sini, barulah terasa bagaimana pentingnya menegakkan Islam dengan kekuasaan. Tanpa kekuasaan, hukum Islam yang paling brilian sekalipun, tiada gunanya. Maka benarlah pendapat yang mengatakan, bahwa tanpa khilafah, umat Islam bagaikan anak ayam kehilangan induk. Pening, yang mana satu yang mau diturut. Jika induk sudah tak ada, alamat siap-siaplah pecah bulu. Wallahu alam.***   

Purnimasari
Redaktur Pelaksana
KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 20 September 2018 - 10:51 wib

Rehab Command Centre Diselidiki

Kamis, 20 September 2018 - 10:50 wib

Targetkan Seluruh IKM Jalin Kerja Sama

Kamis, 20 September 2018 - 10:38 wib

PDAM Harus Ditata Ulang

Kamis, 20 September 2018 - 10:25 wib

Sambangi Panti Asuhan di Hari Lalu Lintas

Kamis, 20 September 2018 - 10:24 wib

Sepakat Memperbaiki Jalan

Kamis, 20 September 2018 - 10:20 wib

Dihampiri Polisi, Pengedar Buang Narkoba

Kamis, 20 September 2018 - 10:19 wib

Berharap Tahanan Dapat Berubah

Kamis, 20 September 2018 - 10:07 wib

Kepergok Mencuri, Sembunyi di Gudang

Follow Us