Hikayat Kampung Asap: Gejolak Teror Batin dan Psikis

20 September 2011 - 15.40 WIB > Dibaca 597 kali | Komentar
 
Menceritakan tentang tokoh Aku sebagai nelayan kecil, yang suatu hari duduk di atas bukit yang tinggi bersama seorang tua yang juga nelayan. Pak Tua dengan segala kegelisahan hatinya memandang nanar dari jauh kota Singapura yang gemerlapan di waktu malam. Tokoh Aku ikut merasakan kepedihan Pak Tua yang meratapi nasib kampung mereka sendiri yang jauh tertinggal dan tertindas karena kota singa itu membangun diri dengan hasil bumi dari kampung mereka. Hutan, ikan-ikan, pasir, semen, telah dijual kepada kota singa itu oleh pemerintah.

Teror yang dialami tokoh Aku dapat kita telisik: Aku agak terkejut juga dengan ucapannya. Hasratku hendak bertanya apakah dia salah seorang nelayan yang merupakan korban dari semua kekuasan dan keangkuhan itu, kuburkan saja. Aku takut Pak Tua tersinggung. (hlm. 24). Kemudian: Tapi perasaan memang sudah amat lain. Suasananya tidak seperti sebelumnya. Bulu romaku betul-betul sudah berdiri seperti hendak berlari meninggalkan puncak ini. Hanya lelaki itu menahan tubuhku dari ketakutan. (hlm. 27).

Gejolak batin yang dirasakan tokoh Aku membuatnya resah dari apa-apa yang dikatakan Pak Tua. Juga oleh sikap-sikap Pak Tua yang mencerminkan sikap kegamangan hidup di kampungnya sendiri membuat tokoh Aku menyadari bahwa kampungnya memang di-jajah.

Sedangkan teror psikis dapat kita lihat: Sambil bergegas pulang, Aku teringat wasiat ketika dia tertidur pulas tadi malam. Bukan mimpi, tapi suatu kenyataan. Nak, puncak negeri pasir mulai kotor, semu. Puncak ini dibangun dari mimpi-mimpi indah para pelacur dan penipuan. (hlm. 27).

Cerpen keempat berjudul Hikayat Kampung Asap. Cerpen ini berkisah tokoh utama Jebat. Menurut hemat saya, Musa lihai dalam bernarasi dan menguraikan lika-liku cerita. Jebat yang digambarkan dalam cerpen ini juga bernada refleksi dari tokoh Jebat dalam Hikayat Hang Tuah. Tapi realitas yang ditampilkan Musa adalah realitas kekinian dengan segala bentuk carut-marutnya pada segala hal yang bersifat ketertindasan.

Judul Hikayat Kampung Asap, menyiratkan sebuah kekalahan yang tergambar dari betapa kejamnya sebuah kekuasaan. Di mana dalam cerpen ini tokoh Jebat merasa sedih karena kampungnya akan diincar oleh pemerintah. Tanah-tanah kampung akan diserobot pemerintah untuk pembangunan yang ironisnya malah mendatangkan kerugian bagi masyarakat. Lebih celaka, tanah kebun karet Jebat yang di tengah-tengahnya ada kuburan kedua orang tuanya pun menjadi incaran. Jebat dibilang sebagai orang yang kedekut (pelit) karena tidak mau menjual tanahnya, tapi itu tidak mempengaruhi Jebat, karena marwah harus dipertahankan di kampung.

Pertentangan gejolak batin Jebat dalam mempertahankan tanah di kampungnya menjadikan dirinya semakin merasa tertindas, ia melihat sebuah kekuasaan yang sakit, yang tidak benar, yang hanya mementingkan golongan dan pribadi. Jebat merasa marwah kampungnya tergadaikan. Untuk itu ia bertekad untuk berjuang sendiri.

Siang malam, bising suara pipa besi yang beradu sungguh mengganggu. Pipa-pipa raksasa itu terus menjulur bagai lidah penjilat. Pipa itu terus menjulur, menabrak kemanusiaan, menabrak marwah, melanggar tempat peneduh, mencungkil alam, melapah kemanusiaan, dan menghisap darah tanah warisan di kampung halaman kami. (hlm. 41).

Gejolak psikis Jebat dapat ditangkap pada wacana: Gemuruh jantungnya bagai detak mesin-mesin pompa penyedot minyak ketika memandang panorama tragis di perkebunan warisan yang telah menghitam itu. (hlm. 44).

Hal di atas merasuki pikiran Jebat yang semakin membenci kekuasaan pemerintah yang zalim. Musa, berkutat pada sejarah dalam cerpen ini. Kita ketahui sejak dulu telah ada hal-hal yang bersifat licik. Dalam hal ini, Tuah yang diagung-agungkan itu ternyata telah melukai hati Jebat sehingga Jebat menyebutnya pengkhianat. Akhirnya konflik membuat mereka bertarung untuk membela kepentingan masing-masing.

Cerpen kelima berjudul Manusia Gelombang. Cerpen ini memiliki latar belakang dari kajadian tsunami di Aceh. Hal yang mendasar dari tsunami tidak tampak secara eksplisit, tetapi Musa menulis secara bahasa konotatif, kaya perumpamaan, dan penuh kejutan pada setiap kalimatnya. Musa hanya berkutat pada narasi-narasi yang bersifat metafor, mengalir lancar bagai air, dan penuh gejolak batin dan psikis yang membuat kita miris.

Menceritakan tentang tokoh Aku yang turut terkena musibah banjir tsunami. Ia dan orang-orang lain terus berusaha untuk dapat menyelamatkan diri. Tokoh Aku seperti merasakan ada sesuatu yang hilang dari samudera itu, yaitu hati. Hati samudera telah marah sehingga ia tidak mau bersahabat lagi pada manusia. Musa, mempermainkan personifikasi dengan elok pada samudera yang seolah-olah memiliki perasaan seperti manusia karena memiliki hati. Memang, secara tak langsung, bukankah alam juga bisa marah karena ulah dari tangan-tangan manusia yang tidak dapat mengerti kepadanya?

Ini ulah kalian. Inilah akibat jika aku tak lagi memiliki hati samudera itu. Sama halnya jika kalian tak lagi mempunyai hati. Hancur berantakan, tengok dengan ceruk jiwamu. Masihkah ada sekeping hati yang tulus. Masihkah ada cahaya di sana? (hlm. 47).

Sedang nuansa batin dapat digambarkan dalam keresahan-keresahan Manusia Gelombang yang menerawang jauh untuk mendapatkan bantuan dan ingin mengembalikan kehidupannya.

Kami terus menerobos malam. Mencari hati samudera yang ditagih Manusia Gelombang. Sebenarnya kami sendiri tak tahu ke mana dan di mana arah tujuan. Menerawang dalam kebingungan. (hlm. 49).

Cerpen terakhir, Rahasia Senja mengisahkan seorang ustadz muda, juga seorang guru sekolah dasar. Ia seorang bujang yang belum menikah. Meski telah ada beberapa keluarga yang menawarkan calon menantu kepadanya. Namanya ustadz Rahim yang berumur 30 tahun. Cerpen ini lebih kepada pergulatan batin dan psikis tokohnya. Rahim diceritakan tipe orang yang emosional, cepat berprasangka, dan egois pada dirinya sendiri.

Ada geram di hati Rahim. Geram yang menumpuk. Dia tak mampu membongkarnya. Kini sudah menggunung. Fatimah dibiarkan pergi begitu saja. Kata-kata yang diucapkannya tadi tidak berterima di hatinya. (hlm. 56).

Perasaan-perasaan batin Rahim semakin tidak tentu arah karena akibat penolakan lamarannya ke Fatimah. Ia larut dalam rasa egoisnya sendiri yang membuat ia melampiaskan kesalahannya pada diri sendiri. Masalah-masalah pada diri Rahim mengarah juga pada psikisnya. Benturan-benturan pikiran yang membuatnya merasa pusing dan tak dapat mengambil alih ke bentuk jalan yang baik membuatnya berperilaku menyimpang dengan memutar film-film yang merusak.

Kesepian dan kekosongan yang menghenyak persendian hidup Haji Rahim bertambah parah. Haji wadat itu semakin tak sanggup mengatasinya. Kesepian dan kekosongan begitu liar. Bahkan telah menjelma dalam bentuk bayang-bayang teror. (hlm. 60).

Haji Rahim akhirnya tewas mengenaskan dalam rumahnya sendiri akibat tekanan batin dan perasaannya dari menghadapi persoalan hidup bahwa ia tidak dapat menikah dengan Fatimah. Sikap-sikap yang seperti klise sebenarnya tidak sesuai dilakukan oleh seorang yang sudah berlevel haji. Apalagi dia juga sebagai guru sekolah dasar (pendidik) yang melampiaskan kekesalan dengan mengumpat-umpat dan menonton CD porno, semestinya hal itu tidak melekat pada dirinya. Tapi hal itu secara tak langsung menunjukkan bahwa, siapa pun, akan merasakan goncangan batin dan psikis dimanapun dia berada dalam menghadapi kemelut hidup. Cuma, bergantung dari kepribadian diri manusia masing-masing untuk menyikapi problema hidup itu dengan bijak.

Dalam hal ini, banyak cerpen Musa memberi gambaran tentang bagaimana kita menyikapi hidup. Masalah dengan berbagai latar yang melingkupi dapat menjadi pandangan kita bahwa Musa mampu berbicara banyak tentang segala hal. Ada masalah pendidikan, hukum, ekonomi, adat, moral, sampai bencana alam, keagungan Tuhan, kemelut hidup, dengan karakter cerita yang kuat membuat cerpen-cerpen Musa mampu berdiri kokoh dan berkarakter. Musa, selain itu, kaya dengan metafora, personifikasi dan bahasa daerahannya sendiri (bahasa Melayu Kepulauan). Ini menunjukkan, meskipun cerpen-cerpennya sederhana tapi mampu berbicara banyak tentang kehidupan, lebih khusus pada pergulatan masalah psikologi dan batin tokohnya. ***


Riki Utomi
penikmat sastra. Alumnus FKIP UIR Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Menulis puisi, cerpen, esai di sejumlah media dan terangkum dalam beberapa antologi bersama. Bekerja sebagai guru. Tinggal di Selatpanjang.
KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Minggu, 18 November 2018 - 06:45 wib

Bela SBY, Ruhut Sebut Prabowo Seperti Beruang Madu

Minggu, 18 November 2018 - 06:03 wib

PBNU Tak Sependapat dengan PSI Soal Perda Syariah dan Injil

Minggu, 18 November 2018 - 05:34 wib

Ketua PGI Tanggapi Positif Kritik Grace

Minggu, 18 November 2018 - 05:11 wib

Grace Harus Uraikan Maksud Perda Syariah

Minggu, 18 November 2018 - 04:36 wib

Kata Jokowi Monumen Kapsul Menyimpan Idealisme Seperti Avengers

Minggu, 18 November 2018 - 03:59 wib

Alasan Jerinx SID Tak Mau Temui Via Vallen

Minggu, 18 November 2018 - 02:50 wib

Wow, A Man Called Ahok Tembus 1 Juta Penonton

Minggu, 18 November 2018 - 02:15 wib

Pembagian Sertifikat Tanah Harus Ada Tindak Lanjut Pemerintah

Follow Us