Wonderful Indonesia
DARURAT ASAP
Petugas Laboratorium Udara Turunkan Status Berbahaya Jadi Sangat Tidak Sehat
Sabtu, 05 September 2015 - 18:30 WIB > Dibaca 1807 kali Print | Komentar
Petugas Laboratorium Udara Turunkan Status Berbahaya Jadi Sangat Tidak Sehat
Petugas laboratorium udara kota Pekanbaru, Danil sedang menyetel ISPU di simpang Mal SKA Pekanbaru Jalan Tuanku Tambusai-Jalan Soekarno-Hatta dari status Berbahaya (atas) diturunkan menjadi status Sangat Tidak Sehat (bawah), Jumat petang (4/9/2015). Padahal alat pencatat Ispu milik Chevron di Rumbai hari itu mencatat kondisi udara Pekanbaru Berbahaya.(AZNIL FAJRI/RIAUPOS.CO)
PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Petugas Laboratorium Udara Pekanbaru, Danil yang mengaku berkantor di kawasan Kantor Wali Kota Pekanbaru mengganti kode pada alat pencatat ISPU di simpang Mal SKA Pekanbaru dari status Berbahaya diturunkan menjadi Sangat Tidak Sehat, Jumat petang (4/9/2015) pukul 17.00 WIB.

Saat ditanya wartawan kenapa diturunkan statusnya dari Berbahaya menjadi Sangat Tidak Sehat padahal asap kian tebal (Berbahaya), Danil diam saja dan langsung pergi terburu-buru. Menurut Danil dia menggantinya atas perintah atasannya Syahrial.

Ada sekitar 2 menit Danil berusaha menyetel status kondisi udara Kota Pekanbaru pada mesin ISPU itu. Dan tak tahu apa maksudnya diturunkan statusnya. Apakah warga Pekanbaru agar tidak panik tidak eksodus besar-besaran karena asap dengan fakta sebenarnya bahwa udara sudah Berbahaya.

Sejumlah wartawan yang kebetulan mengabadikan kondisi udara Kota Pekanbaru Jumat petang (4/9/2015) pukul 17.00 di simpang Mal SKA saat itu merasa heran dan curiga saja kenapa diotak-atik tombol pencatat mesin ISPU itu dari kondisi Berbahaya diturunkan statusnya menjadi Sangat Tidak Sehat. Sementara saat itu alat pencatat ISPU milik Chevron mencatat kondisi udara Berbahaya. Ada pula material sebesar kotak kaset yang dicabut dan dipasang baru kembali oleh Danil.

Menurut dr Mardiansyah Kusuma SpOk dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Pekanbaru Jumat petang (4/9/2015) bahwa tanda merah pada alat pencatat Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) itu sudah mengisyarakat Berbahaya bagi manusia. Particulate Matter (PM10) di grafik mesin ISPU itu berwarna merah hal itu tanda Berbahaya agar masyarakat menghindarinya. Artinya warga harus menghindar atau mengungsi ke tempat lain yang aman.

"Dampak negatif terhadap manusia, 5 hingga 20 tahun lagi warga yang sering menghirup kabut asap ini bisa terkena kanker paru-paru. Capek-capek cari uang sekarang, tapi nanti untuk mengobati penyakit kanker paru-paru itu, ini teori kedokterannya," kata dr Mardiansyah.

Laporan: Aznil Fajri
Editor : Yudi Waldi



Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update
Oleh: Muhammmad Amin
Kupas Tuntas Hubungan Industrial
Minggu, 25 Februari 2018 - 16:01 wib

Pacu Jalur Iven Nasional Dihelat Usai Idul Adha
Minggu, 25 Februari 2018 - 15:30 wib
Nada Kenangan Bersama Sanggar Mahligai
‘‘Sirawa’’ Undang KPLMR
Minggu, 25 Februari 2018 - 15:23 wib
NEYMAR JR
Sakit, Diragukan Tampil di Le Classique
Minggu, 25 Februari 2018 - 14:53 wib
Puskesmas dan RS Harus Ramah Anak

Puskesmas dan RS Harus Ramah Anak
Minggu, 25 Februari 2018 - 14:51 wib
GUNA HINDARI PERCERAIAN
Perlunya Bimbingan Menjaga Ketahanan Keluarga
Minggu, 25 Februari 2018 - 13:52 wib

Juni, Cak Imin Putuskan Maju Cawapres
Minggu, 25 Februari 2018 - 13:48 wib
DATUK SERI ULAMA SETIA NEGARA
Buah Pengembaraan
Minggu, 25 Februari 2018 - 12:59 wib
Mobil ’’Presiden’’ Dipecah, Uang dan Laptop Raib

Mobil ’’Presiden’’ Dipecah, Uang dan Laptop Raib
Minggu, 25 Februari 2018 - 12:49 wib
ALAMAK
Bertemu Mantan, Antar ke Butik Kebaya
Minggu, 25 Februari 2018 - 12:44 wib
Cari Berita
Lingkungan Terbaru
Bekerjasama dengan Berbagai Pihak, PWI Riau Akan Hijaukan Stadion Utama
Hot Spot Muncul, Opsi Status Siaga Mencuat

Minggu, 04 Februari 2018 - 10:30 WIB

Laju Deforestasi Ancam Vegetasi

Minggu, 21 Januari 2018 - 12:25 WIB

Monitoring Gas Rumah Kaca Secara Online

Minggu, 21 Januari 2018 - 12:22 WIB

Lagi, 40 Ton Sampah TPS Ilegal Dibersihkan

Selasa, 09 Januari 2018 - 11:25 WIB

sumatranet
Sagang Online
loading...
Follow Us