Kampung Bunian

9 Desember 2012 - 07.39 WIB > Dibaca 11029 kali | Komentar
 
IA melepas ikatan rambutnya perlahan. Seketika itu, ujung rambutnya tergerai di atas bahu. Ia diam. Seolah tak hirau dengan tatapan mata Rusli yang membatu di dekatnya. Wajahnya seperti bidadari remaja yang terlihat bagai terjaga dari tidur panjang. Seperti ada yang selalu menjaga kecantikannya. Rusli terpana seraya menciumi bau yang tak biasa dari tubuh tak kasat mata itu.

Dari balik rimbun pepohonan, gaun perempuan itu menjuntai. Gaun yang pada bagian bawahnya lebih tipis dan halus sehingga tampak bagai tembus pandang. Ketika rambutnya tergerai, mata Rusli tak berkedip. Ketika gaunnya tersibak, Rusli tercekat tak berdaya. Selanjutnya, seperti ada suara seseorang maimbau, tetapi samar-samar. Entah dari perempuan itu atau entah hanya suara kerisik daun jatuh.
 
Perempuan itu pun melangkah mendekatinya, hanya beberapa depa saja. Ia terperanjat dan bergumam, inikah perempuan yang sering diceritakan orang-orang itu?

Tiba-tiba tubuh Rusli seperti mengambang, ada getar yang merangsek di antara ia dan perempuan itu. Pada saat yang sama, gumpalan kabut tipis pun turun di sekitarnya. Kabut yang entah datang dari mana. Kabut yang turun dengan cepat. Kabut itu, menyamarkan setiap apa yang tampak, termasuk Rusli.

Kabut itu menggumpal sangat tebal. Dan Rusli tak pernah kembali.
***

Orang-orang di kampung percaya bahwa dunia halus itu ada. Dunia yang dijaga oleh para bunian di balik kabut. Setiap pagi menjelang matahari bangkit atau sore menjelang matahari terbenam selalu ada semacam suara lolong. Atau itu hanya suara angin yang bertiup di sekitar ceruk-ceruk tebing di lembah. Masyarakat percaya bahwa di sana ada kehidupan yang tak terjangkau oleh indera manusia. Asal sama-sama saling manjago dan tidak manggaduah.

Manggaduah?

Ya.

Lebih tepat apabila disebut mengganggu. Misalnya, ada manusia yang mendatangi tempat-tempat baru dan membangun pemukiman di sana. Membangun keluarga dan membuka lahan pertanian.

Dahulu, menurut cerita yang berkembang, keluarga Rubiah pernah memasuki hutan di Bukik Sambuang. Mereka menjelajahi hutan dan membuka lahan baru untuk bertani. Pohon-pohon mereka tebang, pondok-pondok mereka bangun dan mereka bercucuk tanam di sana.

Tahun-tahun berlalu dengan cepat, sehingga secara tak wajar, satu per satu anggota keluarga Rubiah raib, termasuk Rubiah sendiri. Tidak seorang pun yang tahu ke mana mereka menghilang. Sampai suatu ketika seorang pemburu babi memasuki hutan dan secara tak sengaja melihat perempuan dengan rambut tergerai mengenakan gaun panjang berkilauan, berdiri di dekat rerimbunan pohon. Perempuan itu hanya berdiam di situ.

Apakah peburu babi itu berbicara padanya?

Tidak. Hanya anjingnya yang melolong seraya menggaruk-garuk tanah. Dengan langkah gontai dan badan meramang, pemburu babi itu berusaha menjauh dari semak belukar yang gelap gulita itu. Dan ia hanya berpedoman pada langkah anjingnya.

Tetapi kebenaran cerita itu selalu sulit dibuktikan. Pemburu babi itu pun tak pernah kelihatan lagi. Pengalaman Rubiah sering dijadikan bahan cerita di lapau terutama oleh mereka yang gemar membawa anjing-anjing ke dalam hutan. Sampai bertahun-tahun kemudian, cerita itu tetap kekal dan terus diperbincangkan oleh khalayak dalam pelbagai versi.

Konon, ada sebuah kampung di ceruk tebing itu, kata sebagian orang yang pernah menemukannya, didiami oleh orang bunian. Kampung itu hanya dapat dilalui dengan berjalan kaki. Tetapi, tak seorang pun berani menuju ke sana kecuali mereka yang membawa serta anjing-anjing kampung. Mereka-lah pemburu babi yang sering bersahut-sahutan di bawah lembah dekat ceruk tebing yang hampir sama sekali tak tertembus sinar matahari.

Di sana, hanya ada jalan setapak dengan rimbunan pohon-pohon menghalangi sinar matahari yang hendak melewati celah-celah daun. Kalau sudah begitu, para pemburu babi itu menjadi seolah buta. Tak mampu melihat apapun yang ada di sekitarnya. Tak kuasa menentukan arah mana yang akan mereka tempuh. Mereka akan serta merta menyerahkan naluri langkah mereka hanya pada salak dan dengus anjing yang mendudu di antara semak belukar dan desis daun-daun yang bergesekan. Semua akan tampak gelap gulita. Semua akan membuat siapapun kehilangan jalan setapak tadi.

Hilangnya Rusli dari kampung membuat darah sebagian orang tersirap. Mereka tak mampu menahan diri untuk segera menemukan lelaki penakik getah karet itu. Dahulu, Rusli pernah melarikan diri ke kota karena terjerat setumpak utang di kampung. Saat semua pemuda pergi merantau ke kota-kota, Rusli tetap memilih tinggal di kampung. Tetapi lelaki itu memang selalu sulit ditemukan.

Lalu, di mana Rusli?

Orang-orang percaya bahwa si penakik getah karet itu pergi ke kota. Tetapi siapa yang menduga bahwa Rusli berada di suatu tempat, di mana gumpalan kabut selalu turun, di mana ia telah melihat seorang perempuan dengan rambut menjuntai di atas bahu.
Sejak tak ada Rusli di kampung, ibunya menanggung malu. Setiap hari ia mendengar cerita bahwa Rusli sengaja melarikan diri dan melimpahkan derita kepada keluarga.

Astaga! Ninik Mamak orang sesukuan harus menggelar rapat.

Rusli harus diberi pelajaran.

Kalau nanti ia pulang, kita lakak kerampangnya.

Hust!

Orang-orang di dalam majelis yang mendengar percakapan di lapau Misnuar itu kemudian diam. Saling menatap satu dengan yang lainnya. Tidak ada yang lebih mengerikan selain apabila membayangkan Rusli telah diambil orang bunian.

Hiiiii!

Ayo kita pulang. Hari lah senja.

Cerita tentang orang bunian yang mendiami ceruk-ceruk tebing memang ampuh mengusir cerita lainnya. Di lapau Misnuar, orang-orang selalu pulang dengan wajah pucat. Gigi mereka menggeranyam. Apalagi sejak Rusli tak ada. Apalagi kalau senja tiba.

Orang-orang akan berkata: jan duduak di muko pintu, hari lah sanjo.

Maka, semua pintu ditutup, kandang ayam dikunci, anjing-anjing dikebat di belakang rumah dan anak-anak terus mengaji di rumah. Berikutnya, orang-orang sudah mulai lupa dengan utang yang harus mereka tagih. Sejak cerita tentang Rusli yang hilang menyeruak dari mulut ke mulut, orang-orang mulai terbiasa berdiam di rumah. Para suami akan ke ladang hanya jika cuaca sedang terang. Sedangkan anak-anak hanya bermain di depan rumah. Suara azan di surau selalu terdengar lebih awal dari biasanya. Kerja mereka hanya berdiam di rumah, mengaji, berzikir, sembahyang, sedikit bekerja, jarang saling mengunjungi antar tetangga, bahkan ke ladang hanya ketika hari terang.

Benarkah cerita tentang Rusli itu?

Siapa yang tahu. Saat orang-orang kampung mulai mengekalkan cerita itu, mereka mulai membangun kebiasaan baru. Jalan setapak dan gumpalan kabut tipis di ceruk-ceruk tebing adalah tempat yang harus mereka hindari. Mereka biarkan rimba belukar terus tumbuh dan merambat ke dalam kampung. Sampai pada akhirnya kampung mereka diliputi pepohonan rimbun. Sinar matahari yang semula jatuh di perkampungan kini telah terhalang oleh pucuk-pucuk daun dan batang-batang pohon besar. Dinding-dinding rumah kayu penuh dengan tanaman rambat.

Hal itu tak membuat mereka berhenti mengaji, berzikir, sembahyang dan sedikit bekerja. Mereka lupa akan ladang yang harus digarap. Mereka tak peduli dengan semak belukar yang telah menyelimuti kampung. Mereka terus melafazkan doa-doa seraya berdiam di rumah, dan di surau. Dengan begitu, mereka yakin benar bahwa orang bunian tidak akan datang maimbau dan membawa mereka ke dalam gumpalan kabut.

Tak dinyana, kampung itu pun terlihat lebih sunyi daripada rimba di ceruk-ceruk tebing Bukik Sambuang. Apabila ada orang dari kota datang untuk menjenguk sanak keluarga di sana, pastilah mereka tak akan dapat menemukan kampung itu. Padahal cerita tentang Rubiah dan Rusli bermula dari sana.

Mereka yang datang dari kota akan tersesat dan kehilangan jalan setapak. Pohon-pohon dan semak belukar telah membuat kampung itu menjadi gulita. Mereka tidak akan menemukan sinar matahari menembus celah-celah daun sehingga apabila mereka bersikukuh hendak ke kampung itu, mereka harus membawa serta anjing-anjing dari kota. Anjing yang tak terbiasa mendudu di semak belukar tentu juga akan sama nasibnya dengan orang dari kota itu, kehilangan pedoman.

Sesungguhnya, bagaimana cerita tentang orang bunian ini?

Begini, setelah kebiasaan-kebiasaan itu dijaga oleh orang-orang di kampung, sekelompok pelajar dari kota datang untuk melakukan penelitian terhadap jenis-jenis flora di hutan dekat ceruk-ceruk tebing Bukik Sambuang. Mereka dipandu oleh seorang penduduk yang sering merambah hutan di sana. Bersama pemandu itu, mereka melewati jalan setapak yang nyaris tak tertembus sinar matahari. Sekali mendaki, mereka berhenti sejenak. Wajah pemandu itu tampak pucat sehingga seorang pelajar datang menghampirinya dan bertanya.

Tetapi pemandu itu berbisik lirih, katanya, kalau ada yang maimbau, jangan disahut. Kalau ada jumlah pelajar bertambah, jangan disapa. Kalau ada gumpalan kabut turun di sekitar sini, lebih baik kembali.

Pelajar itu tercekat, seperti ada yang tersumbat di rongga lehernya.

Ini kampungnya orang-orang bunian, bisik pemandu itu lagi.***

2012


Delvi Yandra
Sejumlah tulisannya dipublikasikan di pelbagai portal dan surat kabar Tanah Air. Disamping itu juga terhimpun dalam antologi; Kembang Gean (2007), Jurnal Kreativa: Sisi Gelap Warisan Budaya (2009), Jalan Menikung ke Bukit Timah (2009), Berjalan ke Utara (2010), Narasi Tembuni (2012) dan Anak Akar Tebu (2012).
KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 21 September 2018 - 13:30 wib

Harimau Mangsa Ternak Warga

Jumat, 21 September 2018 - 12:53 wib

Kantor UPTD Dukcapil Mandau Penuh Sesak

Jumat, 21 September 2018 - 12:30 wib

Kesbangpol Gelar Penyuluhan Narkoba di Rupat

Jumat, 21 September 2018 - 12:00 wib

ASN Tersangkut Narkoba Terancam Dipecat

Jumat, 21 September 2018 - 11:40 wib

Bupati Hadiri Rakornas APKP

Jumat, 21 September 2018 - 11:32 wib

Aplikasi BPJSTKU Raih Penghargaan ASSA Recognition Award di Vietnam

Jumat, 21 September 2018 - 11:24 wib

Komitmen Tolak Politik Transaksional

Jumat, 21 September 2018 - 11:20 wib

Terima 278 Formasi CPNS

Follow Us