Depan >> Opini >> Opini >>

Lidus Yardi

Berbisnis dengan Allah

8 Juli 2011 - 07.43 WIB > Dibaca 5213 kali | Komentar
 

SEORANG sahabat, namanya Abdullah bin Rawahah ra bertanya kepada Rasulullah SAW, “Apa saja kewajiban terhadap Tuhanmu dan dirimu yang kamu tetapkan atas diriku? Rasulullah SAW menjawab, “Aku telah menetapkan agar selalu beribadah kepada Tuhan dan tidak syirik dengan apapun. Sedangkan terhadapku, agar selalu menjagaku sebagaimanan kamu menjaga diri dan hartamu.” Ia bertanya lagi, “Apa balasanku, jika aku melaksanakan semuanya?” Rasulullah SAW menjawab, “Surga balasannya.” Ia lalu berkata, “Itu merupakan jual-beli yang menguntungkan. Kami takkan membatalkannya.” Maka, turunlah ayat 111 dan 112 dari Surat At-Taubah.

Sebab turun (asbabul nuzul) dua ayat tersebut dijelaskan dalam hadits riwayat Ibnu Jarir (Dr Ahmad Hatta MA, Tafsir Alquran Perkata, 2009). Potongan ayat 111 di atas bagian dari ayat yang menjelaskan tentang penghargaan Allah terhadap para syuhada. Dalam tulisan ini, ayat tersebut dilihat dari sudut pandang atau penekanan jual-belinya yang dirangkai dengan realitas kehidupan manusia. Sebuah renungan untuk dijadikan pelajaran (iktibar). Bahwa, sisi kehidupan manusia di dunia ternyata sedang berjual-beli atau berbisnis dengan Allah.

Rukunnya Terpenuhi
Jual-beli menurut ilmu fiqih tidak sah apabila tidak memenuhi rukun dan syaratnya. Ayat di atas memenuhi rukun jual-beli. Pertama, penjual yakni orang-orang mukmin. Kedua, pembeli yakni Allah SWT. Ketiga, barang yang diperjual-belikan. Ayat di atas menjelaskan dua barang yang sedang diperjual-belikan, yaitu diri (anfusahum) dan harta (amwaalahum). Keempat, harganya yaitu surga (jannah). Dan, keenam, harus ada ijab-qabul-nya. Melalui ayat 111 surat At-Taubah tersebut, sesungguhnya merupakan tawaran dari Allah SWT kepada orang-orang mukmin untuk menjual diri dan harta mereka.

Dalam jual-beli yang menentukan harga barang biasanya penjual dan pembeli yang menawar. Dalam jual-beli dengan Allah, tidak. Sebaliknya, pembelilah yang menentukan harga barang dan penjual tidak boleh lari dari harga yang ditawar. Mengapa? Karena pembeli, yakni Allah, telah menawar harga yang sangat tinggi (dunia akhirat) kepada penjual, yaitu orang-orang mukmin, dengan harga surga. Manusia yang beriman tidak mungkin menawar harga diri dan hartanya dengan harga yang sangat murah kepada Allah, yaitu dengan harga neraka. Pembeli yang menentukan harga, ditawar dengan harga tinggi yakni surga, ini menunjukkan hikmah, bahwa Allah Maha Kaya dan Berkuasa.

Namun banyak di antara manusia yang mengaku mukmin ternyata menjual diri dan hartanya di jalan kemaksiatan. Ia memperturuti hawa nafsu dan rela diperbudak setan. Setiap kemaksiatan yang dilakukan kepada Allah SWT tentu dihargai dengan harga yang rendah lagi hina, yakni balasan siksa neraka di akhirat  nanti. Surga dan neraka merupakan pilihan harga diri dan harta yang dijual manusia ketika di dunia. Dengan demikian, beribadah merupakan bisnis kehidupan manusia dengan Allah SWT. Ia akan memperoleh balasan dengan ibadah yang dilakukannya berupa kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sedangkan bermaksiat di jalan Allah merupakan bisnis kehidupan dengan setan. Ia akan memperoleh kegelisahan hidup dan di akhirat ancaman siksa neraka atas pilihannya. Hanya manusia yang pandai bersyukurlah yang akan menyadari bahwa, diri dan harta yang dimiliki pada hakikatnya juga milik Allah!

Diri dan Harta yang Laris
Tidak semua diri dan harta manusia akan dibeli oleh Allah. Diri dan harta yang akan laris dibeli dengan harga surga adalah, diri dan harta yang suci. Oleh sebab itu, Allah SWT mengingatkan: “Sungguh beruntung orang-orang yang mensucikan dirinya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS Asy Syams: 9-10). Ayat ini mengindikasikan, bahwa manusia tidak lepas dari noda kesalahan dan dosa. Untuk itu Allah mengapresiasi hambanya yang berusaha menjaga dan mensucikannya dengan jalan yang telah ia sediakan, yakni istighfar dan tobat.

Allah SWT menyeru: “Bersegeralah menuju ampunan Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.” (QS Ali Imran: 133). “Dan, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang sebenarnya.” (QS At-Tahrim: 8). Rasulullah SAW bersabda, “Setiap anak Adam (manusia) bersalah, sebaik-baik yang bersalah adalah yang bertobat kepada Allah SWT.” (HR Ahmad). Sedangkan menyangkut harta, Rasulullah SAW mengingatkan: “Barangsiapa yang mengumpulkan harta haram lalu menyedekahkannya, ia tidak akan mendapatkan pahala darinya dan dosanya dibebankan kepadanya.” (HR Ibnu Hibban). Artinya, harta yang dikumpulkan melalui pekerjaan haram meskipun disedekahkan tidak akan dibeli atau diterima oleh Allah SWT. Sebab, tidak ada konsep kemaksiatan dicampur dengan amal kebajikan dalam Islam. Harta yang dibeli oleh Allah adalah harta yang bersih dan suci, alias halal. Halal cara mendapatkannya dan halal dalam pemanfaatannya.

Penutup
Di antara mukjizat Alquran, sebagaimana diungkapkan oleh Prof Dr Quraish Shihab, penulis Tafsir Al Misbah adalah, memberi kepuasan batin dan pikiran bagi yang merenunginya. Ayat 111 surat At-Taubah setidaknya mengajak logika kita untuk menimbang untung rugi dalam menjalani kehidupan, demi kebahagiaan di dunia dan akhirat nanti. Di akhir ayat 111 surat At-Taubah tersebut Allah berfirman: “Maka bergembiralah dengan jual-beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikian itulah kemenangan yang agung.” Wallahu a’lam bish shawab.***

Lidus Yardi
Sekretaris Majelis Tabligh dan Dakwah PD Muhammadiyah dan guru di Kuantan Singingi.
KOMENTAR
Terbaru
PBNU Tak Sependapat dengan PSI Soal Perda Syariah dan Injil
Ketua PGI Tanggapi Positif Kritik Grace

Minggu, 18 November 2018 - 05:34 WIB

Grace Harus Uraikan Maksud Perda Syariah

Minggu, 18 November 2018 - 05:11 WIB

Kata Jokowi Monumen Kapsul Menyimpan Idealisme Seperti Avengers
Alasan Jerinx SID Tak Mau Temui Via Vallen

Minggu, 18 November 2018 - 03:59 WIB

Follow Us