Perlunya Peringatan Dini Semua Bencana Alam

10 Mai 2012 - 08.23 WIB > Dibaca 5474 kali | Komentar
 

Provinsi Riau lagi menghadapi musim pancaroba, musim yang senantiasa berubah-ubah dengan cepat. Begitu pula akibat yang ditimbulkannya, kadang sangat sulit diprediksi.

Sehingga bencana alam yang terjadi lebih sering tidak diketahui atau terjadi tiba-tiba, daripada diketahui. Korbannya siapa lagi, masyarakat yang tinggal di ceruk-ceruk kampung yang belum bisa secara cepat mengakses informasi.

Seperti kejadian angin puting beliung di Kecamatan Gunung Toar, Kabupaten Kuantasingingi akhir pekan lalu, Jumat (4/5). Walau kejadiannya pada petang hari, ketika warga masih banyak yang beraktivitas tapi akibat yang ditimbulkannya cukup memprihatinkan.

Sebanyak delapan desa disapu angin kencang ini, 73 unit rumah dan tiga sekolah rusak dibuatnya.

Hanya berselang satu hari, Ahad (6/5) bencana alam serupa kembali terjadi di Desa Koto Simandolak, Kecamatan Benai, juga di Kabupaten Kuantansingingi.

Kali ini enam rumah, sejumlah bangunan sekolah dan masjid yang rusak. Di hari yang sama, empat desa di Kabupaten Deli Serdang, dekat ke Medan, Sumatera Utara juga diterjang angin puting beliung. Akibatnya lebih dahsyat lagi, sebanyak 86 rumah porakporanda.

Tiga kali kejadian bencana alam yang sama, di dua provinsi yang berbeda, dalam waktu yang berdekatan memanglah sulit bagi masyarakat awam untuk memprediksinya.

Tapi, dengan kecanggihan teknologi komunikasi dan Sistem Informasi Geografis (SIG/GIS), semestinya bencana-bencana alam apapun bentuknya sudah bisa diketahui masyarakat jauh-jauh hari sebelum terjadi.

Ya. Kecanggihan teknologi komunikasi dan GIS sekarang sangat mungkin digabungkan untuk memberikan peringatan dini (early warning) bencana alam kepada seluruh lapisan masyarakat.

Sekarang, boleh dibilang semua kawasan di negeri ini sudah terjangkau oleh sarana komunikasi, dan sudah dialiri listrik pula. Kalaupun belum punya handphone atau jaringan telepon —meski sangat jarang ditemukan— bisa dipastikan, radio atau televisi di setiap rumah sudah tentu ada. Nah, lewat radio dan televisi misalnya, peringatan dini tersebut juga bisa disampaikan.

Yang tren kita dengar sekarang, baru peringatan dini bencana alam gempa bumi dan potensi tsunami. Padahal, puting beliung atau angin kencang disertai hujan lebat juga bagian dari bencana alam yang bakal memakan korban jiwa bukan?

Apa artinya itu, bahwa semua bencana alam mesti dikategorikan sama dan jangan dipilah-pilah. Mau gempa, tsunami, angin puting beliung, hujan lebat, gunung meletus dan lainnya mestilah terpantau oleh teknologi komunikasi dan informasi yang bisa secara dini disampaikan kepada masyarakat luas.

Termasuk sosialisasi dan penyebaran informasi atau pengetahuan tentang semua bencana alam tersebut. Semisal tanda-tanda, atau penyebab-penyebab dan cara-cara penyelamatan diri, termasuk akibat-akibat yang akan ditimbulkan oleh bencana itu.

Sehingga nantinya masyarakat yang masih awam terhadap informasi tentang bencana alam, apapun bentuknya, bisa secara dini juga mengetahui akan ada bencana yang melanda, supaya mereka tidak sengsara atau mati sia-sia.

Mari kita dorong pemerintah dan pihak-pihak terkait, seperti akademisi, swasta dan pemilik modal untuk memikirkan dan mewujudkan Early Warning System (EWS) atau sistem peringatan dini untuk semua bentuk bencana alam. Karena yang namanya bencana, kalau sudah terjadi baru diketahui, pastilah akibat yang ditimbulkannya akan berbeda ketika bencana tersebut lebih dulu diketahui sebelum terjadi. Majulah negeriku.***
KOMENTAR
Terbaru
Masyarakat Mesti Bijak Gunakan Medsos

Selasa, 18 September 2018 - 19:30 WIB

Sosialisasi SPIP Capai Maturitas Level 3

Selasa, 18 September 2018 - 19:00 WIB

Lima Keuntungan Menggunakan  Aplikasi Kasir Online Kawn

Selasa, 18 September 2018 - 18:41 WIB

8 Kecamatan Ikuti Iven Pacu Sampan

Selasa, 18 September 2018 - 18:30 WIB

Komunitas Muda Madura Siap Menangkan Jokowi

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 WIB

Follow Us