Punya 30 Grup dan Juara Nasional

Tradisi Main Gasing di Ransang Barat

27 Januari 2013 - 07.54 WIB > Dibaca 5825 kali | Komentar
 
Tradisi Main Gasing di Ransang Barat
Atraksi main gasing yang ditampilkan pada Dialog Budaya Melayu di Pekanbaru, akhir tahun lalu. Foto: fedli azis/riau pos
Salah satu permainan tradisional yang masih dikenal dan dimainkan hingga hari adalah gasing. Sebuah permainan yang mulanya diperlombakan antar kampung hingga ke level nasional, bahkan internasional. Permainan tradisional ini juga masih populer dalam masyarakat Melayu Riau, salah satunya di Ransang Barat, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau.

Laporan FEDLI AZIS, Pekanbaru

Permainan gasing di Ransang Barat ramai dilakukan pada musim panen antara Januari hingga Maret. Hampir setiap saat, terutama sore harinya, warga yang menyukai permainan tradisional ini menuju lapangan (gelanggang), berupa tanah datar dan keras. Mereka saling bergembira dan mulai mengadu ketangkasan di dalam gelanggang.

Miskun (56) misalnya, mengaku sudah pandai memainkannya sejak sekolah dasar (SD) dan terus melakoninya hingga hari ini. Warga Kampung Sungai Cina satu ini bahkan telah pula menjadi pelatih dan dipercaya sebagai wasit permainan yang disukai anak-anak hingga orang dewasa tersebut. Dia juga kerap mengikuti lomba persahabatan dengan berbagai kabupaten se-Riau, tingkat nasional bahkan lomba persahabatan dengan negari-negeri tetangga.

Kabupaten Kepulauan Meranti yang mewakili Riau bahkan telah pernah berhasil meraih juara pertama lomba tingkat nasional 2011 di nomor gasing pangkah. Kami biasa memainkan gasing untuk mengisi waktu luang pada sore hari. Permainan ini sudah cukup populer di Ransang Barat dan selalu dilombakan. Kami juga pernah meraih juara pada festival tingkat nasional di Senayan (Jakarta) untuk nomor gasing pangkah, ungkap Miskun kepada Riau Pos, Kamis (24/1) lalu.

Salah seorang warga Kampung Bokor, Kecamatan Ransang Barat, Bachtiar (53) tidak hanya pandai memainkan gasing. Lelaki yang akrab disapa Kenek ini bahkan juga pandai membuat gasing. Dia telah membuat banyak gasing berbahan dasar kayu bakau yang memang banyak terdapat di kawasan pesisir, kampungnya Bokor.

Saya sudah lama pandai membuat gasing dan saya buat dari kayu bakau secara manual, menggunakan kapak dan mangkuk. Saya tak punya mesin bubut, kalau ada pasti bisa memproduksinnya sebanyak mungkin, tuturnya.

Permainan gasing juga kerap dilombakan, terutama di helat Fiesta Bokor Riviera 2011 dan Bokor Folklore Festival 2012 silam. Bahkan salah seorang tokoh muda kampung Bokor Sopandi SSos mengemukakan, jika memang akan ada lagi helat serupa maka lomba gasing akan kembali dilombakan.

Selain lomba lari di atas tual sagu, kami juga sering melombakan permainan gasing. Di hari jadi Sanggar Bathin Galang asuhan kami Mei nanti kami juga akan melombakannya bersama lomba-lomba yang lain, tambah Sopandi.

Gasing dan Cara Memainkannya

Gasing merupakan sejenis permainan yang diputar pada paksinya, sambil mengimbang pada satu titik. Gasing adalah permainan tradisional orang-orang Melayu sejak dahulu. Biasanya dimainkan selepas musim menuai. Permainan gasing dipertandingkan antara kampung. Pemenang dikira berdasarkan tempo masa gasing mampu berputar. Gasing dibuat dari kayu bebaru, kemuning, merbau, rambai, durian atau kundang. Kayu tersebut akan ditakik-takik dan dikikis sehingga menjadi bentuk gasing.

Khusus talinya dibuat daripada kulit pokok bebaru. Tapi sekarang tali gasing dibuat dari tali nilon. Panjang tali gasing biasanya bergantung kepada panjang tangan seseorang. Biasanya sepanjang satu meter. Biasanya, para pemain gasing akan melumeri minyak kelapa untuk melicinkan pergerakan tali gasing. Sedangkan jenis-jenis gasing antara lain; gasing toyol, gasing begelen, gasing berembang, gasing buku benang, gasing jantung, gasing kelamar, gasing kepala duri, gasing kuno, gasing lang laut, gasing leper, gasing leper kelantan, gasing pacitan, gasing pangkah, gasing piring, gasing pinang, gasing tanjung, gasing telor, gasing cina, gasing Melayu dan gasing uri.

Di sini, selain kayu bakau, gasing juga dibuat dari kayu kempas. Kalau dulu banyak kayu yang bisa dibuat gasing tapi sekarang hanya dua jenis kayu ini saja, kata Kenek.

Sebenarnya, kayu yang paling sesuai adalah kayu merbau, seperti merbau tanduk, merbau darah, merbau johol dan merbau keradah, karena mudah ditarik tetapi tidak mudah serpih. Selain itu kayu leban tanduk, limau, bakau, koran, sepan, penaga, keranji juga menjadi pilihan. Jenis kayu yang mudah didapati seperti manggis, jambu batu, ciku atau asam jawa sering digunakan untuk membuat gasing.

Kayu tersebut dilarik menggunakan alat pelarik, mengikut ukuran dan bentuk gasing yang telah ditetapkan. Sebelum kerja melarik diawali besi paksi dibenamkan ke dalam kayu tersebut agar keseimbangan dari segi bulatnya dapat dilakukan ketika melarik. Setelah gasing disiapkan maka kerja-kerja terakhir dilakukan, seperti melilitkan timah pada kepak gasing tadi agar menambah berat lagi gasing itu hingga seberat lima kilogram dan juga tak mudah serpih. Untuk menambah indah rupa parasnya maka tanduk kerbau dipasangkan dibahagian kepala gasing serta dikilatkan dengan vernis. Ini terdapat pada gasing leper atau untuk gasing uri saja.

Gasing dimainkan dengan dua cara, yaitu sebagai gasing pangkah atau gasing uri. Gasing pangkah, dimainkan dengan melemparkannya supaya mengetuk gasing lawan. Gasing uri dipertandingkan untuk menguji ketahanannya berpusing. Gasing pinang dimainkan oleh kanak-kanak. Buah pinang muda dikupaskan sabut dan kulitnya, dipangkaskan bagian atas dan bagian bawahnya, kemudian dicucukkan lidi buluh melalui pulurnya menjadi paksi serta pemegang gasing itu. Gasing ini boleh dilagakan atau diurikan.

Untuk memutar gasing, tali setebal 1.75 Cm dan sepanjang 3 hingga 5 meter dililitkan pada jambulnya hingga meliputi seluruh permukaan gasing. Kemudian gasing itu dilemparkan ke atas tanah dan serentak dengan itu tali yang melilit jambulnya direnggut.

Saya dan kawan-kawan sudah mengusahakan agar permainan gasing terus mendapat apresiasi orang banyak di Kepulauan Meranti. Bayangkan saja, saat ini di Ransang Barat sekitarnya sudah berdiri hampir 30-an grup gasing. Kalau ada lomba sangat menarik dan ramai. Inillah hebatnya permainan gasing meski sudah dikenal sejak nenek moyang kita dahulu, sampai sekarang masih dikenal dan disukai, terutama untuk mengisi waktu luang. Lebih hebatnya, untuk memainkan gasing bisa sampai usia 70 tahun, jelas Miskun.***
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 20 November 2018 - 19:30 wib

Orba Jadi Alat untuk Takut-Takuti Rakyat

Selasa, 20 November 2018 - 18:51 wib

Kemenpan RB Tak Akan Turunkan Passing Grade CPNS 2018

Selasa, 20 November 2018 - 18:25 wib

Transaksi Mencurigakan Tokoh Agama

Selasa, 20 November 2018 - 17:54 wib

Surat Suara Lebih Besar dari Koran

Selasa, 20 November 2018 - 17:38 wib

2 Hafiz Rohul Raih Juara di MHQ ASEAN

Selasa, 20 November 2018 - 17:36 wib

Najib Razak Kembali Diperiksa KPK Malaysia

Selasa, 20 November 2018 - 17:32 wib

Granadi Disita, DPP Partai Berkarya Pindah Kantor

Selasa, 20 November 2018 - 17:22 wib

Sabu Rp4 M Disimpan dalam Tas Ransel

Follow Us