Minyak Riau Terbesar Dikuras

5 Maret 2012 - 09.07 WIB > Dibaca 1539 kali Print | Komentar
Minyak Riau Terbesar Dikuras
POMPA ANGGUK: Salah satu pompa angguk yang digunakan untuk mengeksploitasi minyak bumi di Riau. foto: internet
Laporan MAHYUDI, Jakarta

Tingkat pengurasan cadangan minyak Indonesia ternyata sangat tinggi. Diperkirakan mencapai delapan kali laju pengurasan minyak di negara-negara penghasil minyak dunia, seperti Arab Saudi dan Libya.

Pengurasan minyak terbesar ini terdapat di Indonesia bagian barat dan itu terjadi di Provinsi Riau. Pengurasan minyak terbesar terdapat di ladang minyak Minas dan Duri.

Untuk ladang minyak Minas dilakukan sejak tahun 1950-an hingga sekarang dan puncaknya pada tahun 1975-1976 kisaran pengurasannya mencapai 250 ribu barel per hari. Kemudian untuk ladang Minyak Duri tahun 1980 tingkat produksinya mencapai 400 ribu barel per hari.

Hal itu disampaikan Kepala Divisi Humas, Sekuriti, dan Formalitas BP-MIGAS, Gde Pradnyana melalui siaran persnya, Ahad (4/3). Menurutnya, hingga saat sekarang ladang minyak Minas dan Duri hanya menghasilkan 360 ribu barel per hari.

Gde Pradnyana menegaskan, penemuan cadangan minyak yang berukuran cukup besar di Indonesia terjadi di Indonesia barat. Misalnya lapangan Minas dan Duri, Riau. Pengurasan cadangan Minas sudah dilakukan sejak tahun 1950-an.

Puncaknya terjadi pada tahun 1975 sampai 1976 dengan tingkat produksi di kisaran 250 ribu barel per hari, sehingga menjadi penyumbang terbesar terhadap produksi nasional 1,5 juta barel per hari.

‘’Sejak itu produksi dari Minas terus menurun dan kini hanya menghasilkan sekitar 70 ribu barel per hari. Tapi Untung saja penurunan dari Minas ini ditutupi dari pengurasan cadangan Duri yang dimulai sekitar tahun 1980-an dengan tingkat produksi sebesar kurang lebih 400 ribu bph,’’ terang Gde.

Dengan begitu membuat produksi nasional kembali mencapai puncaknya di tahun 1995-1996 dengan produksi sebesar 1,6 juta barel per hari.

Produksi lapangan Duri ini lanjutnya juga terus menurun seiring dengan menipisnya jumlah cadangan yang tersisa. ‘’Kini kedua lapangan Minas dan Duri hanya menghasilkan sekitar 360 ribu barel per hari,’’ ucap Gde.

Dijelaskan Gde, Indonesia yang memiliki cadangan hanya sekitar 4 miliar barel memproduksikan minyak rata-rata 1 juta barel per hari (bph). Artinya, reserve to production ratio negara Indonesia hanyalah empat persen.

Angka ini kata dia jauh di bawah Arab Saudi dan Libya. Dengan cadangan minyak mencapai 265 miliar barel, Arab Saudi hanya memproduksi minyak rata-rata 8 juta bph atau tingkat reserve to production ration-nya mencapai 35 persen. Sementara Libya, yang memiliki cadangan minyak 46 miliar barel dan tingkat produksi sebesar 1,5 juta bph, memiliki reserve to production ration sebesar 30 persen.

‘’Jadi selama ini kita menguras cadangan minyak kita kurang lebih 8 kali lebih cepat dari Arab Saudi dan Libya. Dengan kata lain cadangan minyak kita 8 kali lebih cepat habis dari dua negara tersebut,’’ ujarnya.

Dia juga menyatakan, penemuan (discovery) lapangan minyak lainnya di Indonesia ukurannya jauh lebih kecil, terakhir blok Cepu di Jawa Timur.

Eksplorasi yang belakangan ini gencar dilakukan adalah di Indonesia Timur. Tapi penemuan cadangan gas dalam jumlah besar, bukan minyak. Misalnya Tangguh, area deepwater Selat Makassar (Gandang, Gendalo, Gehem, dll), Masela (Laut Timor), dan terakhir oleh Genting Oil di Bintuni.

Sedangkan industri hulu Migas adalah industri pencarian (eksplorasi) dan pengurasan (eksploitasi) cadangan Migas. Alam tidak bisa dipaksa untuk menghasilkan minyak ataupun gas, tetapi hanya bisa mencari di mana cadangan-cadangan tersebut berada dan kemudian mengurasnya dengan berbagai cara.

Optimalkan Energi Alternatif
Pengamat ekonomi Universitas Riau, Drs Kennedy SE Akt menyebutkan, tingginya laju pengurasan minyak bumi di Tanah Air, termasuk di Riau disebabkan keperluan dan konsumsi minyak mentah oleh dunia terus meningkat. Tidak hanya di Indonesia di negara penghasil Migas hal yang sama juga terjadi.

Namun jika dibandingkan pengurasan lebih tinggi terjadi di Indonesia menurut pengamat ekonomi Migas Universitas Riau Drs Kennedy SE Akt disebabkan beberapa hal. Pertama, pemain utama di sektor Migas ini adalah perusahaan patungan dari negara luar. Sebut saja Chevron Pacific Indonesia (CPI), Exxon Mobil Oil, Connoco dan lainnya. Mereka ini terus melakukan ekspansi Migas untuk negara Eropa dan lainnya.

Kedua, Migas di Indonesia ini hampir sebagaian besar di ekspor, sementara untuk konsumsi dalam negeri diimpor. Kondisi ini tentu secara langsung mau tak langsung membuat ekplorasi terus-menerus terjadi. ‘’Bayangkan saja, sehari perusahaan tersebut tak berproduksi, berapa kerugian yang dialami,’’ kata Kennedy.

Ketiga, regulasi pemerintah yang menerapkan domestik obligasion (pemenuhan produksi dalam negeri) selama lima tahun berlaku hanya perusahaan tambang baru yang melakukan eksplorasi. Sementara yang lama yang sudah melakukan itu tak dikenakan.

Terkait dengan Riau sendiri sebut Dekan Fekon Unri ini, melihat data yang disampaikan, memiliki kecenderungan produksinya akan terus turun. Kondisi penurunan ini tentu harusnya disikapi bijak oleh pemerintah.

Bayangkan saja, lapangan dan kondisi sumur yang ada saat ini dalam kondisi marginal. Tentu produksi yang dihasilkan berkurang tidak seperti biasanya.  Nah, untuk meningkatkan laju produksi tersebut diperlukan rangsangan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) pegolahan minyak tahap lanjut yang biayanya tak kecil.

‘’Hitung-hitungan bisnis saja, kalau perusahaan melakukan EOR tentu lihat apakah untung atau tidak,’’ jelas dia.

Mengingat migas Merupakan non renewable (sumber daya alam yang tak dapat diperbarukan) tentu minyak yang ada terus dikuras. Sementara cadangan (reserve) itu belum tentu sesuai harapan.

Contohnya, misalkan di Riau ini cadangan migasnya miliaran barrel, dalam kenyatannya belum tentu seperti itu, karena dalam hitungan Migas metode yang digunakan dengan mengambil sampel dan juga melihat hasil seismik. Dari situ bisa dilihat dimana jebakan sumber-sumber Migas.

Lagi pula, dalam perusahaan Migas ini memerlukan modal besar, teknologi tinggi dan SDM yang mumpuni, karena bisnis Migas ini ibarat judi, untung-untungan.

‘’Mengebor satu sumur cost-nya katakanlah Rp2 miliar untuk onshore (daratan), tapi setelah didapat minyak tersebut tak sesuai dengan cost produksi. Maka tak heran dalam ekplorasi dalam sepuluh sumur ada satu atau dua yang tak bisa diproduksi,’’ jelas dia.

Mengingat kondisi Riau sampai saat ini, menurut dia, kalau tak dilakukan upaya lain, tentu bakal menurun terus jumlah produksinya.

Apakah berdampak pada kehabisan? Menurut Kenedy, Migas ini merupakan energi fosil yang berasal dari sisa tumbuhan hewan yang mati. Untuk kehabisan menurut dia tidak, cuma produksi berkurang bisa jadi.

Kata dia, saat ini jumlah konsumsi Migas tak sebanding dengan produksi, hal itu berdampak pemborosan. Industri di Jepang, Amerika dan Eropa sudah pasti akan berhenti operasinya jika pasokan Migas terhenti.

Langkah yang paling efektif adalah mengurangi ketergantungan pada Migas. Apalagi saat ini sudah dikembangkan energi alternatif yang menyerupai Migas.  Pemerintah juga harus mendukung perkembangan energi alternatif, karena ini dinilai sangat pas pengganti minyak bumi. Jika ini berjalan dengan baik, maka Migas yang ada dalam perut bumi tak habis terkuras seperti saat ini.

‘’Persoalannya sekarang kan Migas jadi incaran terus, tanpa ada persaingan produk sesamanya. Jikapun ada tentu tak sama jumlah produksi yang dihasilkan dan pengolahannya,’’ sebut dia.

Sementara itu, PT Chevron Pacific Indonesia yang menjadi salah satu perusahaan eksplorasi minyak yang mempunyai wilayah kerja di sekitaran Minas dan Duri, menyebutkan, untuk menyebutkan hal tersebut mereka tidak dibenarkan.

‘’Sampai kapan cadangan minyak di Duri dan Minas, menurut peraturan yang berlaku, kami tidak boleh memberikan data,’’ ungkap Manager Communication Sumatera, Tommy Sibuea.(yud/aal/hen/ila)
KOMENTAR

Follow Us

Riau Pos Group
Support by: