Umrah Bersama Muhibah Mulia Wisata (2-Habis)

Rekonstruksi Makkah hingga Perbaikan Amal

28 Maret 2012 - 08.20 WIB > Dibaca 1409 kali Print | Komentar
Laporan MUHAMMAD AMIN, Makkah m-amin@riaupos.co

Meningkatnya jamaah haji dan umrah dari tahun ke tahun disadari benar Kerajaan Arab Saudi. Itulah sebabnya, perluasan Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah menjadi agenda jangka panjang dengan proyek besar-besaran.

Jalan Sayyidina Hamzah, Makkah, tampak sepi. Tidak ada satu pun toko, gerai, dan hotel yang tersisa di tepi jalan itu. Semuanya sudah kosong. Sebagiannya bahkan sudah dihancurkan.

Listrik sudah terputus, begitu juga telepon dan aliran air bersih. Reruntuhan bangunan terdapat di mana-mana. Beberapa hotel yang terletak di jalan itu memiliki tinggi antara 14 hingga 20 lantai.

Tapi itu tak cukup untuk tetap membuatnya bertahan dari laju rekonstruksi Kota Makkah. Tak sedikit di antara hotel di sekitar jalan itu baru berumur lima tahun, bahkan lebih muda.

Masyarakat memang masih melewati jalan ini sebagai jalan tembus menuju Masjidil Haram. Puluhan ribu orang melewatinya setiap detik, tak peduli pada reruntuhan yang bisa saja menimpa.

Saat ini, Kota Makkah memang sedang mengalami rekonstruksi besar-besaran. Itu menyusul keputusan Raja Abdullah melakukan perluasan Masjidil Haram sejak dua tahun lalu.

Menurut pembimbing Jamaah Umrah Muhibbah di Makkah, Ustadz Saifu, perluasan Masjidil Haram difokuskan untuk membuat bangunan baru bernama Bab (pintu) Malik Abdullah. Sejauh ini sudah ada dua pintu utama, yakni Bab Malik Fahd dan Bab Malik Abdul ‘Aziz.

‘’Sekarang yang baru ini Bab Malik Abdullah. Sudah sejak enam bulan lalu yang intensif,’’ ujar mahasiswa Universitas Ma’had Madinah ini.

Jika masuk dari Bab Malik Abdul Aziz, maka konstruksi bangunan untuk perluasan Masjidil Haram ini akan terlihat jelas, terutama dari lantai tiga. Ratusan crane dan alat berat tampak terus bekerja siang dan malam untuk meningkatkan pekerjaan.

Perluasan Masjidil Haram ini ditargetkan hingga 400 ribu meter persegi, sehingga dapat menambah 1,2 juta jamaah.

Tak kurang dari 40 miliar Rial Saudi atau Rp91 triliun dianggarkan untuk perluasan ini. Kawasan yang diperluas menghubungkan pintu keluar Masjidil Haram dengan Mas’a yang merupakan jalur sa’i, dengan menggunakan serangkaian jembatan.

Sebenarnya ada 18 pintu masuk utama ke Masjidil Haram, serta seratusan pintu kecil. Tapi yang terbesar saat ini adalah Bab Malik Fahd dan Malik Abdul Aziz. Menyusul kemudian Bab Malik Abdullah, nama Raja Saudi saat ini. Selain bangunan-bangunan, menara-menara juga tampak hampir rampung.

Konsekuensi dari perluasan Masjidil Haram tentunya berdampak pada bangunan di sekitarnya. Maka ratusan hotel yang menjulang tinggi pun harus siap dikorbankan.

Perluasan Masjidil Haram berdampak pada rekonstruksi Kota Makkah secara umum, terutama di sekitar Masjidil Haram. Perluasan ini tentu tak lepas dari permintaan negara-negara dunia Islam yang terus meningkat untuk ibadah haji dan umrah, yang semuanya terpusat di Masjidil Haram, Makkah.

Selain Masjidil Haram, Masjid Nabawi di Madinah juga diperluas. Saat ini sedang dilakukan pembongkaran beberapa hotel di bagian timur Masjid Nabawi dan arah belakang daerah Misfalah, tak jauh dari pemakaman Baqi’, yang merupakan pemakaman tua, tempat para sahabat Rasulullah.

‘’Makanya di Madinah juga relatif sulit mencari penginapan. Sama dengan di Makkah, karena sebagian hotel sudah diruntuhkan,’’ ujar Direktur PT Muhibbah Mulia Wisata, Ibnu Mas’ud.

Di Makkah sendiri, hotel jamaah umrah yang berasal dari Indonesia terletak sangat jauh dari Masjidil Haram. Jaraknya berkisar dua hingga tiga kilometer, seperti pemondokan saat musim haji. Tak sedikit yang terlantar.

Beruntung, jamaah PT Muhibbah mendapatkan hotel yang relatif dekat dari Masjidil Haram, Reyadah Grand Hotel di Jalan Ibrahim Al-Khalil. Jaraknya sekitar 500 meter dari Masjidil Haram.

‘’Perluasan Masjidil Haram memang memiliki konsekuensi saat ini. Tapi kita usahakan tetap yang terbaik bagi jamaah,’’ sebut Ibnu Mas’ud lagi.

Perbaikan Amal
Selain rekonstruksi Kota Makkah, yang tak kalah penting menurut Ibnu Mas’ud adalah rekonstruksi atau perbaikan amal. Saat ini, ujar Ibnu, banyak jamaah haji atau umrah yang memiliki wawasan keilmuan yang kurang ketika melaksanakan ibadah.

Akibatnya, tak sedikit yang keliru, bahkan mengada-ada dalam beribadah.

‘’Praktik beribadah yang keliru dan cenderung bid’ah ini harus dihentikan. Mari kita laksanakan ibadah sesuai sunnah Nabi Muhammad,’’ ujar Ibnu Mas’ud.

Dia menyebutkan, jika ingin mengetahui praktik ibadah yang murni dicontohkan Rasulullah, maka Makkah dan Madinah adalah contoh yang paling akurat.

Di Makkah, para imamnya adalah para doktor dan hafiz Alquran yang tentu memahami dengan benar hadits-hadits dan amalan Rasulullah. Begitu juga di Madinah, yang nota bene merupakan Kota Nabi (Madinatun Nabiy). Tidak mungkin Allah menyerahkan pengurusan dua kota suci, Makkah dan Madinah kepada orang yang tidak memahami agama secara benar. Salah satu yang dicontohkannya adalah soal Salat Jenazah yang lazim dilakukan usai salat wajib.

‘’Dalam praktiknya di sini salamnya hanya sekali dan tidak ada do’a, karena jenazah langsung dibawa ke makam usai disalatkan,’’ ujarnya.

Ibnu Mas’ud menyebutkan, PT Muhibbah sengaja menggelar pengajian dan tanya jawab soal keagamaan selama umrah ini. Pelaksanaannya tiap pagi usai sarapan, sekitar pukul 9.00-10.00 waktu Arab Saudi.

Tujuannya agar tak keliru dalam beribadah dan melakukan praktik-praktik yang tak sesuai ajaran Rasulullah. Selain itu agar jamaah dapat lebih memahami ajaran sesuai sunnah yang sahih dan tidak terjebak pada bid’ah. Pengajian diisi Ustadz Abu Ihsan.

Abu Ihsan sendiri kepada Riau Pos mengakui bahwa banyak praktik bid’ah yang dilakukan jamaah haji dan umrah. Beberapa di antaranya karena ajaran yang kurang tepat dari guru di kampung atau buku yang keliru. Abu Ihsan menyebut, syarat beramal itu ada dua, yakni ikhlas dan sesuai ketentuan, yakni Alquran dan sunnah.

‘’Beribadah itu harus sesuai tuntunan Rasulullah. Sebab jika mengada-ada, tak ada nilainya di sisi Allah,’’ ujarnya.

Alumnus Pascasarjana Universitas Darul Ulum Pakistan ini menyebutkan, selain berbentuk perbuatan, banyak juga praktik bid’ah berupa bacaan-bacaan.

Di antara praktik bid’ah yang terjadi adalah mencium maqam Ibrahim, tawaf sebanyak 40 kali, salat di Jabal Rahmah, bahkan menghadap ke arahnya, membawa foto untuk mendapatkan jodoh di Jabal Rahmah, menandatangani pilar Jabal Rahmah dan lainnya. Bahkan ada yang berjalan mundur ketika keluar dari Masjidil Haram.

‘’Ketika musim haji biasanya lebih banyak lagi perbuatan yang dilakukan tidak sesuai sunnah. Misalnya melontar jumrah dengan batu besar, lebih dari tujuh kali, bahkan dengan sandal. Ini tidak ada tuntunannya,’’ ujarnya.

Biasanya, kata Abu Ihsan, beberapa petugas haji dari Kerajaan Arab Saudi kerap membagi-bagikan brosur sesuai dengan tuntunan ibadah yang benar. Brosur itu, menurutnya benar, karena sudah didasarkan pada sunnah yang sahih.

Sebagian besar bahkan dengan terjemahan bahasa Indonesia, karena Pemerintah Arab Saudi menyadari jamaah terbanyak berasal dari Indonesia.

‘’Sayangnya, banyak para pembimbing dan ustadz kita yang melarangnya. Mereka meminta untuk mempercayakan agama kepada pembimbing saja. Padahal kadang mereka keliru,’’ ujarnya menyesalkan.

Saat city tour di Makkah dan Madinah, beberapa petugas Arab Saudi memang memberikan buku-buku dan brosur panduan ibadah secara gratis. Ada juga yang harus didatangi di sebuah kounter.

Semua berbahasa Indonesia, atau bacaan doa berbahasa Arab, namun ada terjemahan Indonesia. Saat di Jabal Rahmah, misalnya dibagikan buku tentang beberapa penyimpangan yang terjadi dan lazim dilakukan jamaah saat mendaki bukit yang diyakini sebagai tempat pertemuan Adam dan Hawa itu. Hampir semua bid’ah dan larangan seperti menandatangani batu, meletakkan foto, hingga salat di sana tetap dilakukan.

‘’Semua karena mereka tak tahu. Tugas kita yang tahu menyampaikan,’’ ujar Abu Ihsan.

Beberapa kawasan yang dianggap bid’ah dan khurafatnya berlebihan bahkan sudah ditutup. Para petugas bahkan menjaga 24 jam beberapa tempat yang rawan. Tak sedikit yang berteriak lantang untuk melarang ketika mendapatinya.

Misalnya ketika ada yang mencium dan meratap-ratap di maqam Ibrahim, seorang petugas yang bersiaga di sana langsung berteriak lantang.‘’Hajji...hajji, bid’ah. Ha-ram,’’ ujar petugas berseragam itu menghardik.(ila)
KOMENTAR
Riau Pos Group
Support by: