Depan >> Berita >> Hukum >>
Aturan Perjalanan Dinas Diperketat
04 Mei 2012 - 09:24 WIB > Dibaca 2276 kali Print | Komentar
Aturan Perjalanan Dinas Diperketat
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Gamawan Fauzi
Berita Terkait

Kejari Telusuri Perjalanan Dinas Fiktif



JAKARTA (RP)- Ternyata maraknya praktek mark-up perjalanan dinas pegawai negeri sipil, terutama di daerah, bukan merupakan rahasia umum lagi. Bahkan luarbiasanya, itu juga dilakukan oleh oknum-oknum sekelas anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) yang terhormat.

Beberapa cara yang umumnya dilakukan menurut Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Gamawan Fauzi, di Jakarta, kemarin (3/5), salah satunya dengan merekayasa perjalanan dinas.

‘’Misalnya perjalanan dinas itu hanya tiga hari. Tapi dilaporkan lima hari. Kadang-kadang itu ditemukan di DPRD, ‘’ ujar Gamawan. Artinya menurut Gamawan, mark-up biaya perjalanan dinas ini memang telah lama terjadi dan sangat merugikan keuangan negara.

Dari beberapa modus mark-up, juga ditemukan bahwa seringkali para PNS maupun oknum DPRD menitip Surat Pertanggungjawaban (SPJ) perjalanan dinas. Padahal ia tidak ikut melakukan perjalanan tersebut.

‘’Hal ini sebenarnya terkait dengan pengawasan. Dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sering menemukan itu. Biasanya itu (saat di audit ditemukan penyimpangan), langsung dikembalikan. Saya tidak tahu berapa besar angka temuan tersebut, tapi memang itu (beberapa waktu lalu) banyak temuan BPK,’’ungkap Gamawan  yang memuji kinerja BPK, dimana dari temuan-temuan tersebut, BPK kemudian menurutnya telah banyak melakukan penindakan. Hanya saja memang tidak memberitakannya.

Modus lain, banyak juga dalam perjalanan dinas oknum tersebut sebenarnya menggunakan angkutan kelas ekonomi. Namun ketika dilaporkan, menggunakan fasilitas kelas bisnis. Demikian juga dengan fasilitas hotel. ‘’Nah selisih dari harga inilah yang dibawa pulang dan dikantongi,’’ ucapnya.

Untuk itu guna semakin meminimalisir celah-celah ini, kini menurut Mendagri telah ditetapkan sistem pengaturan baru terkait perjalanan dinas. Yaitu tidak lagi memakai sistem lumpsum, namun menetapkan sistem at cost.

‘’Jadi sekarang sudah ada at cost. BPK sekarang ini sudah semakin ketat. Sehingga tidak lagi bisa akal-akalan. Juga sudah diatur klasifikasinya pejabat mana yang boleh menggunakan fasilitas bisnis dan mana yang harus menggunakan fasilitas ekonomi. Mudah-mudahan dengan hal ini, akan semakin mudah ditertibkan,’’ ungkapnya.

Sebelumnya diberitakan, bahwa dari hasil audit BPK tahun 2009 lalu, setidaknya mark-up ditemukan dalam biaya perjalanan dinas 35 anggota DPRD Batubara, hasil pemekaran dari DPRD Asahan periode 2005-2009 lalu.

Disebutkan, biaya perjalanan dinas DPRD tidak sesuai anggaran yang diajukan dalam APBD yang mencapai Rp2,1 miliar.(gir/jpnn)

Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update
Sungai Siak Pekanbaru Mulai Diselimuti Kabut Asap
Minggu, 28 Agustus 2016 - 17:32 wib
Meretas Isolasi Kampung-kampung
Minggu, 28 Agustus 2016 - 15:31 wib
Bayang-bayang Selatpanjang
Minggu, 28 Agustus 2016 - 14:49 wib
Konser Wonderful Indonesia Goyang Perbatasan Entikong
Minggu, 28 Agustus 2016 - 14:43 wib
Balap Egrang Entikong Hebohkan Wisman Malaysia
Minggu, 28 Agustus 2016 - 14:21 wib
Kasus Bentrok Selatpanjang, Kapolda Riau Minta Maaf
Minggu, 28 Agustus 2016 - 14:00 wib
Cari Berita
Hukum Terbaru
Kasus Bentrok Selatpanjang, Kapolda Riau Minta Maaf

Minggu, 28 Agustus 2016 - 14:00 WIB

Bom Bunuh Diri di Gereja Santo Yosef Medan Hari Ini !

Minggu, 28 Agustus 2016 - 13:20 WIB

KPK Segera Tentukan Nasib Anak Buah Muhaimin Iskandar Ini

Sabtu, 27 Agustus 2016 - 17:45 WIB

KPK Tegaskan Tolak Pencabutan Larangan ke Luar Negeri bagi Aguan

Sabtu, 27 Agustus 2016 - 16:35 WIB

Kapolri Curigai Keterlibatan WN Asing dalam Kasus Jemaah Haji di Filipina

Sabtu, 27 Agustus 2016 - 00:58 WIB

sumatranet
Ranggi Riau Pos
Follow Us