4 Proyek Dukung Kemandirian Riau

9 Agustus 2012 - 09.57 WIB > Dibaca 1287 kali Print | Komentar
PEKANBARU (RP) - Bersempena Hari Jadi ke-55 Provinsi Riau, PT Pengembangan Investasi Riau (PIR) atau Riau Investment Corp (RIC), sebagai salah satu BUMD Provinsi Riau meresmikan empat proyek investasi dengan total nilai Rp255 miliar.

Seluruh investasi tersebut sudah selesai dikerjakan dalam rentang waktu 2 tahun terakhir ini.

Empat Proyek yang diluncurkan tersebut yakni PLTG Combine Cycle 1x10 MW Teluk Lembu, Pekanbaru Cybercity sebagai sebuah proyek teknologi informasi berbasis internet, proyek Sumatera Data Center dan proyek pengembangan 10 varian Riau Rice.

Wakil Gubernur Riau HR Mambang Mit menilai, langkah inovasi yang dilakukan RIC memiliki nilai positif dalam mendukung program-program pembangunan daerah.

‘’Saya kira ini hal mendasar sebagai kado HUT ke-55 Provinsi Riau. Komitmen ini bagian semangat dari RIC untuk memberikan andil dalam memenuhi keperluan masyarakat Riau, sehingga dapat mengakselerasikan pembangunan Riau secara menyeluruh,’’ tutur Wagubri, usai menghadiri peluncuran empat proyek RIC di Hotel Premier, Rabu (8/8).

Ia mencontohkan, pengembangan pembangkit Combine Cycle 1x10 MW atas Pembangkit Listrik Tenaga gas (PLTG) 1x20 MW Teluk Lembu yang dapat memenuhi keperluan 40 ribu rumah di Kota Pekanbaru. Langkah yang dilakukan RIC dapat membantu dalam mengatasi kekurangan daya listrik 196 MW. Di Provinsi Riau, pengembangan itu menurutnya juga cerminan dari kemandirian daerah dalam mengatasi krisis listik  di daerah.

‘’Dari RIC total 30 MW, sehingga sangat membantu. Ke depan perlu dikembangkan dengan membangunan pembangkit di seluruh kabupaten/kota di Riau. Ini juga dapat menjawab permasalahan elektrfikasi di Bumi Lancang Kuning,’’ papar Wagubri.

Apresiasi positif juga diberikan dalam pengembangan 10 varian Riau Rice baru di seluruh kabupaten/kota. Pengembangan Riau Rice diharapkan menjadi jaminan untuk penampungan hasil pertanian dari petani sehingga dapat mendukung dalam upaya mewujudkan swasembada beras.

‘’Sedangkan untuk pengembangan cybercity dan Sumatera Data Center penting diterapkan untuk menuju kota yang modern. Dengan mengetengahkan sistem IT, informasi yang modern dan cepat bagi masyarakat. Ini diharapkan dapat membuka jendela informasi global secara menyeluruh,’’ ulas Mambang Mit.

Dalam kesempatan tersebut, Wagubri juga menjadi orang pertama yang registrasi Pekanbaru Cybercity. Selain itu Wagubri bersama Direktur Utama RIC Rida K Liamsi dan perwakilan pemerintah kabupaten/kota juga menandatangani prasasti proyek yang dikembangkan BUMD Provinsi Riau itu.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan Bupati Kampar Jefry Noer, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah, perwakilan kabupaten/kota, SKPD di lingkungan Provinsi Riau, mitra kerja RIC, dan ratusan undangan.

Sementara itu, Rida K Liamsi memaparkan, proyek pertama adalah PLTG Combine Cycle 1x10 MW Teluk Lembu. Proyek ini adalah pengembangan dari PLTG 1x20 MW yang diresmikan Gubernur Riau pada Juli 2007.

Pembangkit revitalisasi (pemberdayaan) turbin eks CPI yang dihibahkan ke Pemprov Riau ini menelan investasi sekitar Rp30 miliar dan masih beroperasi cukup baik dengan daya rata-rata 18 MW dalam kondisi normal hingga saat ini.

Kali ini, RIC mengembangkan proyek dengan menambah sebuah unit combine cycle dengan memanfaatkan gas buang PLTG 1x20 MW sehingga dapat menghasilkan listrik daya tambahan 1x10 MW.

Proyek combine cycle ini menelan investasi sekitar Rp155 miliar dan seluruh komponennya dibeli baru. Sehingga PLTG Teluk lembu itu kini berdaya 30 MW dan bernilai investasi sekitar Rp185 miliar.

RIC melalui anak perusahaannya PT Riau Power membangun dan mengoperasikan proyek ini bersama PT Dalle Energi, PT Menamas, PT PLN Batam dan PT Zug Industry Indonesia.

Sementara pembiayaannya selain dana sendiri, juga didukung mitra RIC, Bank Mandiri dan Bank Syariah Mandiri berupa fasilitas pembiayaan jangka panjang. Proyek ini sudah selesai 100 persen dan akan beroperasi penuh September 2012.

‘’Tekad RIC membangun proyek kelistrikan ini, antara lain untuk mendukung program kemandirian Riau di bidang kelistrikan. Bahkan tahun ini PT Riau Power Dua akan menyelesaikan pembangunan PLTU 2x3,5 MW di Siak. Investasi proyek in Rp126 miliar lebih kerjasama dengan Pemkab Siak dan PT Zug Industry Indonesia. Sudah selesai 70 persen dan akan beroperasi 2013,’’ paparnya.

Tahun ini, lanjutnya, RIC juga mulai pembangunan PLTGU 2x45 MW di Duri, kerjasama dengan Pemkab Bengkalis dan PT Zug dengan investasi sekitar Rp600 miliar.

PLTGU yang diharapkan beropeasi 2014 ini akan menggunakan bahan bakar gas sebesar 16 Billion British Thermal Unit per Day (BBTUD) dari Joint Operating Body Pertamina Talisman Jambi Merang yang hak kelolanya diserahkan Pemprov Riau kepada RIC.

‘’Seperti kata Wagub tadi, kita harus mandiri. Selama ini, kekurangan kita masih disuplai dari interkoneksi. Kita ingin setiap kabupaten/kota punya pembangkit tersendiri. Untuk tahun depan kita mengembangan pembangkit di Siak 2x3,5 MW, Di Duri 2x45 MW, kita juga sudah berbicara dengan Pak Jefry di Kampar. Kita berupaya di setiap kabupaten ada pembangkit sendiri,’’ ungkap Chairman Riau Pos Group ini.

Proyek kedua RIC adalah Pekanbaru Cyber City, sebuah proyek teknologi informasi berbasis internet. Proyek ini dengan mottonya  Driver to Knowledge  bertujuan untuk menjadikan Kota Pekanbaru dan sekitarnya sebagai kota cyber dengan titik sasaran dunia pendidikan dan pengetahuan.

Ini bagian dari upaya peningkatan kualitas SDM di Riau dan membangun masyarakat yang lebih maju dan moderen serta akrab dengan teknologi informasi. Proyek ini dioperasikan oleh PT Pekanbaru Cyber City, sebuah perusahaan PMA dimana RIC bersama PD Sarana Pembangunan Siak (salah satu BUMD Pemkab Siak yg sudah sejak lama membangun jaringan informasi melalui fiber optic), bermitra dengan Quantum Index Shd Bdn, sebuah perusahaan Malaysia yang sudah berpengalaman mengelola proyek cyber city di Malaysia, khususnya di Kuala Lumpur dan kawasan wisata Langkawi. Proyek ini dikembangkan dengan investasi Rp20 miliar.

Rida menambahkan, proyek ini akan didukung dengan proyek ketiga juga berupa investasi di bidang teknologi informasi yang diberi nama Sumatera Data Center.

Sumatera Data Center bertujuan untuk menangkap peluang bisnis penyimpanan data IT yang memegang peranan penting dalam perkembangan penggunaan IT di dunia saat ini, khususnya Indonesia.

Rida menambahkan, Kota Pekanbaru menjadi sangat strategis dalam bisnis penyimpanan data ini, karena secara geografis merupakan kota yang relatif paling aman.

Proyek Sumatera Data Center ini merupakan proyek kerjasama RIC dengan PT Bumi Laksamana Jaya (BUMD Pemkab Bengkalis). Nilai investasinya sekitar Rp25 miliar.

Untuk jangka pendek, kedua proyek ini akan segera dapat diaplikasikan dalam mendukung PON XVIII, dimana misalnya, dengan program fitur navigator-nya akan membantu berbagai pihak, khususnya para tamu dan atlet untuk mudah menemukan lokasi-lokasi yang mereka perlukan, seperti venues-venues, bank-bank, mal-mal, pusat kerajinan, rumah sakit, pusat belanja murah, dan lain-lain. Kedua proyek ini RIC berazam: Menjadi Pemandu Riau Menuju Masyarakat yang Maju, Moderen dan Berpengetahuan.

Proyek yang keempat, adalah pengembangan Riau Rice atau Beras Riau. Produk ini pertamakali diluncurkan Gubernur Riau HM Rusli Zainal pada 20 Mei 2008 dalam rangka 100 tahun Kebangkitan Nasional.

Produk Riau Rice dengan logo ”Dua R” ini dengan latar belakang membangun kebanggaan Riau melalui produksi Beras. Ketika itu disadari benar, bahwa meskipun Riau memiliki ratusan ribu hektare sawah dengan ratusan ribu ton hasil gabah, namun semuanya mengalir ke luar Riau.

‘’Digiling di Medan misalnya dan daerah di luar Riau lainnya, lalu masuk kembali ke Riau dalam bentuk beras dengan merek Ramos,’’ ungkat Rida.

Saat itu, Gubernur Riau HM Rusli Zainal  dan Rida K Liamsi sepakat sudah saatnya kebangkitan semangat Riau melalui produk berasnya itu diwujudkan dan dijadikan simbol hidupnya semangat Riaunisasi dan kemudian melahirkan produk beras Riau Rice (RR) itu.

Selama tiga tahun ini, RIC melalui anak perusahaannya PT Riau Multi Trade (RMT) terus mengembangkan produki Riau Rice.

Rata-rata per bulan RMT memproduksi sekitar 500 ton di pabrik pengilangan di Desa Bunga Raya Siak, melalui pembiayaan dari Bank Bukopin. Sejak setahun terakhir, Riau Rice juga diproduksi di Rice Processing Complex (RPC) milik Pemkab Bengkalis di Desa Sepotong bekerjasama dengan PT Bumi Laksamana Jaya.

Tiga tahun terakhir melakukan pembinaan petani padi melalui kerja sama dengan Bank Mandiri. Ada sekitar 2.000 ha sawah dan lebih 200 petani yang dibantu.

Kini, sempena HUT Provinsi Riau, RIC memperkenalkan sepuluh varian merek Riau Rice dengan ikon-ikon kabupaten di Riau. ‘’Semaksimal mungkin gabahnya juga dibeli dari kabupaten yang bersangkutan. Misalnya Riau Rice Terubuk adalah beras yang diproduksi dari gabah yang dibeli dari petani di Desa Sepotong dan sekitarnya di Bengkalis,’’ ulas Rida.

Maka, lanjutnya, nanti akan ada beras Riau Rice Bunga Raya (Siak), Riau Rice  Terubuk (Bengkalis), Riau Rice Kampar (Kampar), Riau Rice Rokan (Rohul), Riau Rice Arai Pinang (Kuansing), Riau Rice Mendul (Pelalawan), Riau Rice Bagan (Rohil), Riau Rice Patin (Inhu), Riau Rice Pulau Kijang (Inhil), dan Riau Rice Merbau (Meranti).

Nama-nama yang dipilih ini selain mengandung spirit untuk mendorong bangkitnya sektor pertanian tanaman pangan, khususnya padi di masing-masing daerah, juga sebagai upaya untuk mengembalikan kejayaan sejarah beras di Riau.

‘’Riau Rice Pulau Kijang misalnya, sudah sejak puluhan tahun lalu menjadi penghasil beras dengan kualitas beras yang selalu menjadi buah mulut dimana-mana kawasan pesisir timur Riau dan kepulauan Riau. Harum dimasak, Enak dimakan,’’ ujarnya.

Strategi pengembangan produk berdasarkan ikon kabupaten ini, akan menjadi usaha yang sangat potensial. Untuk itu, pada tahap pertama, tiap bulan akan memproduksi minimal 100 ton beras tiap varian dan akan didistribusikan ke masing-masing kabupaten.

Semua beras itu nantinya, akan diproduksi di RPC Desa Sepotong, Bengkalis, yang punya kemampuan produksi 12 ton per jam. Sementara gabahnya akan diupayakan dibeli dari tiap kabupaten yang ikonnya dijadikan merek beras.

RIC berharap ada BUMD atau Koperasi di masing-masing kabupaten untuk menjadi ujung tombak pemasaraan produk beras ini. Dengan proyeksi produksi sekitar 1.500 ton beras Riau Rice per bulan, maka tiap tahun akan ada sekitar 20 ribu ton Riau Rice yang akan meramaikan pasar beras dan memberi kontribusi 15 persen dari kebutuhan beras Riau tiap tahunnya yang diperkirakan sekitar 300 ribu ton.

‘’Membangun semangat kemandirian melalui produksi beras lokal ini adalah secebis sumbangan RIC bagi negeri tercinta yang bernama Riau ini,’’ tutup Rida.(rio)
KOMENTAR

Follow Us

Riau Pos Group
Support by: