Depan >> Berita >> Hukum >>
Amankan Lokasinya, Jangan Hajar Wartawannya
Rabu, 17 Oktober 2012 - 21:50 WIB > Dibaca 1328 kali Print | Komentar
JAKARTA (RP) - Komisi I DPR yang membidangi pertahanan dan TNI menganggap penganiayaan terhadap wartawan peliput jatuhnya Hawk 200 di Kampar, Riau, Selasa (16/10) oleh perwira menengah TNI AU, sudah termasuk tindak pidana. Wakil Ketua Komisi I DPR, TB Hasanuddin, menyatakan bahwa kasus itu harus diproses hukum.

Hasanuddin mengakui, sudah menjadi aturan baku di negara manapun ketika terjadi kecelakaan pesawat tempur, maka lokasi jatuhnya pesawat harus seteril. Namun menurut Hasanuddin, hal itu bukan berarti menjadi alasan bagi TNI AU bisa bertindak semaunya.

"Tapi wartawan juga berkepentingan melaksanakan tugas jurnalistiknya. Dalam kasus ini, seharusnya petugas TNI AU cukup membuat garis pembatas dan tak perlu melakukan pemukulan, pencekikan terhadap wartawan tersebut," kata Hasanuddin di Gedung DPR RI, Rabu (17/10).

Pensiunan Mayor Jenderal TNI AD yang pernah menjasi Sekretaris Militer Kepresidenan itu menambahkan, pelaku pemukulan tidak bisa dibiarkan begitu saja. "Jadi harusnya segera diproses dan dipidanakan," cetusnya.

Seperti diketahui, enam wartawan yang tengah meliput jatuhnya pesawat tempur Hawk 200 di Riau, Selasa (16/10, dianiaya oknum TNI AU berpangkat Letkol. Tak hanya itu, kamera wartawan pun ikut dirampas.
 
Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, menyesalkan terjadinya penganiayaan itu.  Menurut Purnomo, apapun alasannya tindakan tersebut tidaklah dibenarkan. Untuk itu pihaknya meminta kasus tersebut diusut tuntas.

"Saya sudah minta supaya TNI AU mengusut," kata Purnomo pada wartawan di Istana Negara, Rabu (17/10).
 
Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono juga sudah meminta maaf atas perlakuan anak buahnya di lapangan. "Selaku pimpinan saya mohon maaf kepada wartawan khususnya yang terlibat situasi tersebut," kata Agus.

Sebenarnya, kata Agus, maksud dari tindakan anggotanya saat kejadian adalah mengamankan lokasi jatuhnya pesawat militer Hawk 200. Karena pengamanan pesawat militer yang jatuh berbeda dengan pesawat sipil. Dikhawatirkan ada bahan peledak yang membahayakan masyarakat dan wartawan itu sendiri bila mendekat ke lokasi kejadian.

"Namun saya memahami, bahwa tindakan atau cara yang dipakai mereka (anggota TNI AU) di luar batas kepatutan. Sekali lagi saya selaku pimpinan TNI mohon maaf. Saya juga sudah minta untuk tindaklanjuti proses hukumnya bagi prajurit yang melakukan pelanggaran tersebut," tegas Agus.(ara/boy/jpnn)
Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update
MOTOGP 2017
Rossi Pakai KTP Palsu? Bagaimana Ceritanya?
Rabu, 29 Maret 2017 - 00:23 wib
Polri Tembak Mati Bandar Eks Penegak Hukum
Bandar Narkotika Internasional Makin Liar
Rabu, 29 Maret 2017 - 00:20 wib
PRA PIALA DUNIA 2018
Jepang dan Australia Menang, Zona Asia Makin Seru
Rabu, 29 Maret 2017 - 00:00 wib
KEGIATAN KEBERSAMAAN
Toyota Brotherhood Community Promo Wisata Sambil Bakti Sosial
Rabu, 28 Maret 2017 - 20:55 wib
SPS RIAU
SPS Persembahkan "Integrity Award"
Rabu, 28 Maret 2017 - 17:04 wib
NASIONAL
Jerat Pemilik Restoran Pencuri Data Kartu Kredit
Rabu, 28 Maret 2017 - 16:58 wib
TEMBILHAN
Komit Bangun Pendidikan dan Sejahterakan Guru
Rabu, 28 Maret 2017 - 16:51 wib
POLITIK
Keluarkan Perppu Perpanjang Masa Aktif Pimpinan KPU
Rabu, 28 Maret 2017 - 16:43 wib
POLITIK
Kepala Daerah Boleh Ikut Kampanye di Pilkada DKI
Rabu, 28 Maret 2017 - 16:41 wib
POLITIK
Intsiawati Ayus Geser Pesaing
Rabu, 28 Maret 2017 - 16:39 wib
Cari Berita
Hukum Terbaru
Bandar Narkotika Internasional Makin Liar

Rabu, 29 Maret 2017 - 00:20 WIB

Kasubag Humas MK Resmi Bersatus Tersangka

Selasa, 28 Maret 2017 - 00:21 WIB

Basaria Tegaskan Tak Ada Intimidasi dalam Pemeriksaan KPK
Menghilang, Miryam Tak Datang dalam Rapat DPP Hanura
Novel Baswedan Di-SP2, Ini Komentar Komisioner KPK

Senin, 27 Maret 2017 - 19:25 WIB

sumatranet
Ranggi Riau Pos
loading...
Follow Us