Wonderful Indonesia
Depan >> Berita >> Hukum >>
Amankan Lokasinya, Jangan Hajar Wartawannya
Rabu, 17 Oktober 2012 - 21:50 WIB > Dibaca 1336 kali Print | Komentar
JAKARTA (RP) - Komisi I DPR yang membidangi pertahanan dan TNI menganggap penganiayaan terhadap wartawan peliput jatuhnya Hawk 200 di Kampar, Riau, Selasa (16/10) oleh perwira menengah TNI AU, sudah termasuk tindak pidana. Wakil Ketua Komisi I DPR, TB Hasanuddin, menyatakan bahwa kasus itu harus diproses hukum.

Hasanuddin mengakui, sudah menjadi aturan baku di negara manapun ketika terjadi kecelakaan pesawat tempur, maka lokasi jatuhnya pesawat harus seteril. Namun menurut Hasanuddin, hal itu bukan berarti menjadi alasan bagi TNI AU bisa bertindak semaunya.

"Tapi wartawan juga berkepentingan melaksanakan tugas jurnalistiknya. Dalam kasus ini, seharusnya petugas TNI AU cukup membuat garis pembatas dan tak perlu melakukan pemukulan, pencekikan terhadap wartawan tersebut," kata Hasanuddin di Gedung DPR RI, Rabu (17/10).

Pensiunan Mayor Jenderal TNI AD yang pernah menjasi Sekretaris Militer Kepresidenan itu menambahkan, pelaku pemukulan tidak bisa dibiarkan begitu saja. "Jadi harusnya segera diproses dan dipidanakan," cetusnya.

Seperti diketahui, enam wartawan yang tengah meliput jatuhnya pesawat tempur Hawk 200 di Riau, Selasa (16/10, dianiaya oknum TNI AU berpangkat Letkol. Tak hanya itu, kamera wartawan pun ikut dirampas.
 
Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, menyesalkan terjadinya penganiayaan itu.  Menurut Purnomo, apapun alasannya tindakan tersebut tidaklah dibenarkan. Untuk itu pihaknya meminta kasus tersebut diusut tuntas.

"Saya sudah minta supaya TNI AU mengusut," kata Purnomo pada wartawan di Istana Negara, Rabu (17/10).
 
Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono juga sudah meminta maaf atas perlakuan anak buahnya di lapangan. "Selaku pimpinan saya mohon maaf kepada wartawan khususnya yang terlibat situasi tersebut," kata Agus.

Sebenarnya, kata Agus, maksud dari tindakan anggotanya saat kejadian adalah mengamankan lokasi jatuhnya pesawat militer Hawk 200. Karena pengamanan pesawat militer yang jatuh berbeda dengan pesawat sipil. Dikhawatirkan ada bahan peledak yang membahayakan masyarakat dan wartawan itu sendiri bila mendekat ke lokasi kejadian.

"Namun saya memahami, bahwa tindakan atau cara yang dipakai mereka (anggota TNI AU) di luar batas kepatutan. Sekali lagi saya selaku pimpinan TNI mohon maaf. Saya juga sudah minta untuk tindaklanjuti proses hukumnya bagi prajurit yang melakukan pelanggaran tersebut," tegas Agus.(ara/boy/jpnn)
Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update
BURSA TRANSFER PEMAIN
Ezra Walian Selangkah Lagi Gabung ke Klub EPL Ini
Sabtu, 19 Agustus 2017 - 18:00 wib
SERIE A ITALIA
Matuidi Resmi Jadi Milik Juventus
Sabtu, 19 Agustus 2017 - 17:45 wib
KEDEPANKAN KONTEKS HUKUM
Tangkal Radikalisme, Begini Jurus Ketum PPP
Sabtu, 19 Agustus 2017 - 17:35 wib
ENGLISH PREMIER LEAGUE
Kalau Pria Terkaya Afrika Ini Jadi Beli Arsenal, Wenger Bakal Dipecat
Sabtu, 19 Agustus 2017 - 17:25 wib
HINDARI HAL-HAL TAK DIINGINKAN
Jaga Anak, Nafa Urbach Sewa Pengawal Khusus
Sabtu, 19 Agustus 2017 - 17:13 wib
SEA GAMES 2017
Indonesia Tambah Koleksi Medali Perak dari Dua Cabor Ini
Sabtu, 19 Agustus 2017 - 16:42 wib

LLumar Kaca Film Berbasis QR-Code
Sabtu, 19 Agustus 2017 - 16:38 wib
TAK BISA HADIR
Milad FPI, Begini Pidato Habib Rizieq dari Tanah Suci
Sabtu, 19 Agustus 2017 - 16:37 wib
DIDUGA LAKUKAN PENIPUAN
Kata Pengamat, Penelusuran Aset First Travel Akan Sia-sia kalau...
Sabtu, 19 Agustus 2017 - 16:32 wib
Cari Berita
Hukum Terbaru
Kata Pengamat, Penelusuran Aset First Travel Akan Sia-sia kalau...
Tujuh Penyidik KPK Harus Diproses jika Benar Temui Anggota DPR
Selamat! Sistem Khusus untuk Awasi Penyidikan di Reskrim Polri Diluncurkan
oJK: UN Swissindo Ilegal

Sabtu, 19 Agustus 2017 - 12:26 WIB

Hilangkan Imej Kampung Narkoba, Kapolresta Berbaur dengan Masyarakat
sumatranet
Ranggi Riau Pos
loading...
Follow Us