Oleh: Abdul Somad
Ketika Ruh Bertemu Jasad
Kamis, 17 Mei 2018 - 09:11 WIB > Dibaca 3621 kali Print | Komentar
Ketika Ruh Bertemu Jasad
Abdul Somad

Puasamu untuk-Ku

Allah SWT mengatakan dalam hadits Qudsi, “Puasamu, untuk-Ku”. (HR. Muslim). Hadits ini menimbulkan musykil (problem). Mengapa Allah SWT menisbatkan puasa kepada diri-Nya? Bukankah Allah SWT tidak memerlukan amal perbuatan manusia? Imam an-Nawawi memberikan jawaban. “Ketika seorang hamba mampu melepaskan diri dari makanan dan semua nafsu syahwat, maka ketika itu ia sedang bersifat dengan sifat-sifat Rabb. Ketika orang yang berpuasa itu mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan sifat-sifat yang sesuai dengan sifat-sifat Allah, maka Allah SWT menisbatkan ibadah itu kepada diri-Nya”. An-Nawawi juga mengutip pendapat al-Qurthubi. “Semua perbuatan manusia itu sesuai dengan kondisi mereka, kecuali puasa. Karena puasa itu hanya sesuai dengan sifat-sifat Yang Maha Benar. Maka seakan-akan Allah SWT berkata, “Orang yang berpuasa itu mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu perbuatan yang terkait erat dengan sifat-Ku”. (Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari: 4/108).

Menuju Kemurnian

Kata yang paling dekat dengan kata ikhlash adalah murni. Orang yang memiliki sifat itu disebut mukhlish. Berasal dari kata khalasha, berarti murni tidak bercampur dengan sesuatu apa pun. Air yang tidak bercampur dengan apa-apa disebut al-ma’ al-khalish, air murni. Berat suatu benda yang tidak bercampur dengan sesuatu yang lain disebut al-wazn al-khalish, berat murni alias netto. Dalam puasa, kemurnian itu terjaga dan terpelihara. Di zaman yang teramat sulit untuk mencari kemurnian, maka puasa amat sangat tepat menuju kemurnian, dalam segala aspek kehidupan. Di zaman ini amat sulit mencari kemurnian, semua penuh dengan kepalsuan. Diawali dari makanan yang disuap ke mulut setiap hari, beras palsu. Sampai air zam-zam palsu. Di balik wajah yang ayu, ternyata tersembunyi alis palsu, bulu mata palsu, hidung palsu sampai rambut palsu. Dalam dunia intelektual dijumpai ijazah palsu. Di tengah semua kepalsuan itu, maka puasa memiliki peran yang sangat penting untuk membawa umat manusia menuju kemurnian. Semoga kemurnian itu diperoleh di akhir Ramadan, semurni bayi yang keluar dari rahim ibu,

“Siapa yang melaksanakan puasa dan qiyamullail Ramadan hanya karena iman dan mengharapkan balasan dari Allah SWT, maka ia keluar dari dosa-dosanya seperti hari dilahirkan ibunya”.(HR. an-Nasa’i dan Ibnu Majah).***


ABDUL SOMAD, Alumnus Darul Hadits Kerajaan Maroko

KOMENTAR
Berita Update

PT Amanah Travel Berangkatkan 23 Jamaah Umrah
Rabu, 20 November 2018 - 21:38 wib
Orba Jadi Alat untuk Takut-Takuti Rakyat

Orba Jadi Alat untuk Takut-Takuti Rakyat
Rabu, 20 November 2018 - 19:30 wib
Kemenpan RB Tak Akan Turunkan Passing Grade CPNS 2018

Kemenpan RB Tak Akan Turunkan Passing Grade CPNS 2018
Rabu, 20 November 2018 - 18:51 wib
Transaksi Mencurigakan Tokoh Agama

Transaksi Mencurigakan Tokoh Agama
Rabu, 20 November 2018 - 18:25 wib
Surat Suara Lebih Besar dari Koran

Surat Suara Lebih Besar dari Koran
Rabu, 20 November 2018 - 17:54 wib

Najib Razak Kembali Diperiksa KPK Malaysia
Rabu, 20 November 2018 - 17:36 wib
Granadi Disita, DPP Partai Berkarya Pindah Kantor

Granadi Disita, DPP Partai Berkarya Pindah Kantor
Rabu, 20 November 2018 - 17:32 wib

Sabu Rp4 M Disimpan dalam Tas Ransel
Rabu, 20 November 2018 - 17:22 wib
Dua Mahasiswi Tewas Ditabrak Truk

Dua Mahasiswi Tewas Ditabrak Truk
Rabu, 20 November 2018 - 15:00 wib

Pemkab Komit Kelola Lahan Gambut
Rabu, 20 November 2018 - 14:30 wib
Cari Berita
Petuah Ramadhan Terbaru
Rapat Paripurna DPRD Molor

Jumat, 27 Juli 2018 - 10:53 WIB

Memperbaiki Salat

Rabu, 13 Juni 2018 - 11:02 WIB

Puasa dan Sifat Malu

Selasa, 12 Juni 2018 - 11:14 WIB

Tatkala Harta Dipanaskan

Senin, 11 Juni 2018 - 09:53 WIB

Membasmi Mentalitas Korupsi

Minggu, 10 Juni 2018 - 12:39 WIB

Sagang Online
loading...
Follow Us
Populer hari ini