Oleh: Prof Dr Khairunnas Rajab
Menyehatkan Ruhani Insaniyah
Minggu, 20 Mei 2018 - 10:02 WIB > Dibaca 1298 kali Print | Komentar
Menyehatkan Ruhani Insaniyah
Pendekatan kuratif  ini adalah upaya penguatan disiplin dalam pengamalan ajaran Islam. Pendekatan rekonstruktif  (bimbingan dan pembinaan) adalah upaya perawatan dan pengobatan intensif dengan memperbanyak amalan-amalan shaleh dan menjauhi kemungkinan-kemungkinan terjebak dalam dosa dan kemaksiatan.

Pendekatan rekonstruktif  adalah bagian dari manifestasi taubat dengan imbangan amal saleh dan peningkatan keimanan dan ketaqwaan. Apabila tiga pendekatan ini berjalan semaksimal mungkin dapat menjamin psikologis individu lebih baik. Pendekatan preventif, kuratif, dan rekonstruktif memainkan peranan dalam klinikal Islam dapat dilihat misalnya, pada pelarangan minuman keras.

Islam melarang seorang muslim dalam keadaan mabuk mengerjakan shalat sampai dia sadar. Larangan melakukan shalat bagi seorang yang mabuk sehingga sadar dari mabuknya adalah tindakan preventif Islam dalam mencegah umat berperilaku buruk. Apabila seorang muslim tidak dibenarkan melakukan shalat di saat ia mabuk, maka ini adalah sinyalemen bahwa larangan meminum-minuman keras adalah preventisasi bagi individu agar tidak terjebak yang pebuatan fakhsya’.

Islam melarang individu meminum-minuman keras, karena kemudharatan adalah jauh lebih besar dari kemanfaatannya. Larangan yang menyebutkan kemudharatan lebih banyak dari kemanfaatan merupakan metodologi klinikal Islam dengan menggunakan pendekatan kuratif.

Alquran menyebutkan tentang keharaman minuman keras secara tegas dalam firman Allah yang bermaksud: Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya minuman keras (tuak), judi, berhala dan bertenung, adalah (pekerjaan) keji dan perbuatan syaitan. Sebab itu, hendaklah kamu jauhi, mudah-mudahan kamu mendapat kemenangan (sukses)”.

Ayat ini, menerangkan secara lugas tentang ketegasan Allah dalam pengharaman minuman keras. Dalam psikologi Islam upaya seperti ini disebut sebagai pendekatan rekonstruktif dan rehabilitatif. Peminum khamar adalah pelanggar aturan syariat yang berakibat dosa.

Dosa atas pelanggaran meminum khamar berimplementasi pada perasaan bersalah. Rasa bersalah dapat mengganggu psikologis, bahkan bisa menimbulkan ketegangan, kerisauan, dan ketidakstabilan emosi. Perasaan berdosa dan bersalah yang ditimbulkan oleh perilaku seperti meminum khamar, penggunaan zat-zat adiktif, ataupun narkoba dengan pendekatan preventif, kuratif, dan konstruktif-rehabilitatif hanya dapat diatasi melalui klinikal Islam. Pendekatan psikoterapi Islam melalui preventisasi, kuratisasi, dan konstruksasi-rehabilitasi adalah tahapan-tahapan penyadaran, perawatan, dan pembinaan mental.


KOMENTAR
Berita Update
Pekan Depan, Nasib OSO Diputuskan

Pekan Depan, Nasib OSO Diputuskan
Sabtu, 17 November 2018 - 19:06 wib

BKD Prov Riau Road To Siak 24 November Mendatang
Sabtu, 17 November 2018 - 13:28 wib

Telkomsel Raih Dua Penghargaan Tingkat Asia Pasifik
Sabtu, 17 November 2018 - 11:01 wib

Toyota Posisi Teratas untuk Fitur Keselamatan
Sabtu, 17 November 2018 - 09:48 wib

Dari Ambon Daihatsu Jelajahi Pulau Seram
Sabtu, 17 November 2018 - 08:31 wib

Dua Kecamatan Masih Terendam
Sabtu, 16 November 2018 - 17:30 wib
Cari Berita
Petuah Ramadhan Terbaru
Rapat Paripurna DPRD Molor

Jumat, 27 Juli 2018 - 10:53 WIB

Memperbaiki Salat

Rabu, 13 Juni 2018 - 11:02 WIB

Puasa dan Sifat Malu

Selasa, 12 Juni 2018 - 11:14 WIB

Tatkala Harta Dipanaskan

Senin, 11 Juni 2018 - 09:53 WIB

Membasmi Mentalitas Korupsi

Minggu, 10 Juni 2018 - 12:39 WIB

Sagang Online
loading...
Follow Us