Oleh: Prof Dr Khairunnas Rajab
Menyehatkan Ruhani Insaniyah
Minggu, 20 Mei 2018 - 10:02 WIB > Print | Komentar
Menyehatkan Ruhani Insaniyah
Perilaku menyimpang seperti realitas di atas, di mana individu yang meminum khamar, menggunakan narkoba, serta melakukan seks bebas adalah perbuatan yang dilarang agama, melanggar norma, dan degradasi moral yang harus diselesaikan dengan optimal.

Dalam klinikal Islam perilaku ini dapat dipandang sebagai gangguan kejiwaan, karena ketidakmampuannya mengendalikan emosi, tidak dapat menyesuaikan diri baik dengan elemen kejiwaannya sendiri maupun orang lain, serta telah merugikan dirinya sendiri dan orang sekitarnya.

Bulan Ramadan, seyogyanya adalah bulan pesantren kejiwaan. Orang-orang mukmin dihasung untuk beribadah puasa, tarawihan, tadarussan, dan tadabbur Alquran.

Seiring dengan ibadah yang ikhlas, orang-orang mukmin juga memerlukan konten kesadaran untuk selalu dekat dengan Tuhannya, pengendalian emosi, menahan diri dari maksiat dan dosa, serta menghindari sifat, ucapan, dan perbuatan yang dapat merusak pahala ibadah Ramadan.

Klinikal Ramadan adalah religi terapi kejiwaan, di mana individu beribadah yang ikhlas kepada Allah Azza Wajalla, memasung jiwa dalam kebaikan, meninggalkan perbuatan angkara murka, membelenggu sifat hasad, iri hati, takabbur, pongah, angkuh, berucap kata-kata kotor, mengumpat, dan menggunjing, maka proses terapeutik melalui metodologi klinikal Ramadhan telah bergulir, untuk kemudian individu merasakan kenyamanan, kedamaian, ketenangan, ketenteraman, dan kesehatan mental paripurna.

Individu yang tadinya bersifat hasad, senang melihat orang susah, susah melihat orang senang (penyakit SMS), mengganggu kenyamanan orang lain, menjahili, dan menabur kebencian, maka di masa proses klinikal Ramadhan sifat itu berubah menjadi positif, bahagia melihat orang senang, damai dengan ketenteraman orang, berlaku ma’ruf, dan menabur kasih sayang antar sesama.

Individu yang tadinya takabbur, pongah, angkuh, berucap kata-kata kotor, mengumpat dan menggunjing, maka dalam proses klinikal Ramadan berubah menjadi kebaikan yang memberi maslahat kepada semua orang. Sifat takabbur, pongah dan angkuh berubah menjadi rendah hati. Kebiasaan berucap kata-kata kotor berubah menjadi kata ma’ruf, lembut, dan redha orang yang mendengarnya.

Demikian juga tabiat  gunjing dan mengumpat berubah menjadi cerita dan obrolan yang menyentuh kalbu. Inilah klinikal Ramadhan yang dapat melahirkan orang-orang yang beriman, beramal shaleh, dan bertaqwa kepada Allah Rabbul Alamin.

Apabila predikat mukmin, mushlihin, dan muttaqin dapat diraih selama menjalani proses klinikal Ramadan, maka kesehatan mental adalah bagian-bagian yang menjadi hak dan anugerah Allah, khusus bagi orang-orang yang akan memasuki pintu syurga al-Rayyan. Allahu a’lam bisshawwab.***

oleh Prof Dr Khairunnas Rajab
Dosen UIN Suska Riau dan Terapi Islam

KOMENTAR
Berita Update
PT PLN (PERSERO) WILAYAH RIAU KEPULAUAN RIAU AREA PEKANBARU
Jadwal Pemeliharaan Periode 25 Februari - 2 Maret 2019
Sabtu, 22 Februari 2019 - 21:49 wib

Anda Percaya Prabowo Sudah Gerus Suara Jokowi di Jateng?
Sabtu, 22 Februari 2019 - 20:47 wib

Dukung Jokowi, Desta: Hargai Lah Pilihan Saya
Sabtu, 22 Februari 2019 - 20:15 wib

Lift Kantor Gubernur Macet, Satu ASN Terjebak
Sabtu, 22 Februari 2019 - 17:16 wib

Hotel Tasia Ratu Terbakar
Sabtu, 22 Februari 2019 - 17:06 wib
Cari Berita
Petuah Ramadhan Terbaru
Rapat Paripurna DPRD Molor

Jumat, 27 Juli 2018 - 10:53 WIB

Memperbaiki Salat

Rabu, 13 Juni 2018 - 11:02 WIB

Puasa dan Sifat Malu

Selasa, 12 Juni 2018 - 11:14 WIB

Tatkala Harta Dipanaskan

Senin, 11 Juni 2018 - 09:53 WIB

Membasmi Mentalitas Korupsi

Minggu, 10 Juni 2018 - 12:39 WIB

Sagang Online
loading...
Follow Us
Populer hari ini