Bronkopneumonia pada Bayi, Jarang Diketahui
Senin, 02 Juli 2018 - 11:50 WIB > Dibaca 2726 kali Print | Komentar
Bronkopneumonia pada Bayi, Jarang Diketahui
Dokter Sarah Rahmayani. (FOTO KOLEKSI PRIBADI)
PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Menjadi ibu baru merupakan pengalaman yang menyenangkan. Merawat bayi mungil agar tetap sehat dan tumbuh besar bukanlah tugas yang mudah. Terlebih bayi rentan diserang berbagai penyakit. Salah satu yang paling sering terjadi pada bayi adalah penyakit bronkopneumonia. Ladies pasti nggak mau kan si kecil yang lagi lucu-lucunya menderita penyakit tersebut? Yuk simak ulasan tema sehat kali ini.

Bronkopneumonia sendiri adalah salah satu penyakit yang menyerang saluran napas bagian bawah. Menurut salah seorang dokter wanita dr Sarah Rahmayani, kasus bronkopneumonia terbanyak ditemukan di puskesmas, rumah sakit ataupun praktik-praktik dokter. Tetapi jarang diketahui para orangtua.

“Padahal bronkopneumonia kerap mengancam nyawa bayi bahkan bayi yang baru lahir. Bronkopneumonia ini istilah medis yang menyatakan terjadi peradangan pada saluran udara dan kantong udara paru-paru anak. Sehingga menyebabkan flek pada paru anak. Seseorang yang menderita bronkopneumonia bisa merasakan sulit bernapas sebagai akibat terhalangnya saluran udara,” terangnya.

Dr Sarah melanjutkan, peradangan yang terjadi bisa bersifat ringan atau berat tergantung pada penyebabnya. Jadi, ada yang radang mudah sembuh, ada pula yang berbahaya hingga mengancam kesehatan anak. Penyebabnya adalah beragam mikroorganisme, seperti dari virus, bakteri, jamur. Pada dasarnya, bronkopneumonia paling umum disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumoniae.

Kuman-kuman ini mencapai paru-paru melalui beberapa rute, seperti yang tersering kuman di udara kotor terhirup melalui hidung dan tenggorokan sampai ke paru dan terjadi infeksi. Bayi atau anak tertular penyakit saluran napas ini bisa karena tertular oleh temannya, orangtua atau orang yang ada di sekelilingnya. Nah, sebagai orangtua, Ladies harus semakin waspada nih. Jangan sampai kamu atau orang terdekat justru menularkan penyakit pada si kecilmu.

Lingkungan yang pengap dengan sirkulasi udara kurang baik dan banyak alergen seperti debu, asap rokok, asap pabrik, asap kendaraan bermotor serta polusi udara lainnya juga bisa menyebabkan anak mengalami radang paru-paru ini.

“Polusi udara dan paparan asap rokok bisa merusak kerja daya tahan tubuh di saluran pernapasan. Sehingga kuman yang menyebabkan pneumonia akan lebih mudah masuk. Ada sejumlah faktor yang membuat balita mudah terserang bronkopneumonia, yaitu jika anak sering mengalami infeksi saluran napas akut berulang, imunisasi tidak memadai dan mengalami kekurangan gizi,” paparnya.

Buat kamu si ibu baru, harus segera periksa jika menemukan gejala-gejala dari bronkopneumonia pada anak. Gejala bronkopneumonia pada anak sendiri bermacam-macam. Tergantung usia dan penyebabnya.  Biasanya didahului gejela selesma seperti demam, batuk pilek, hilang nafsu makan.

Nah, karena gejala awalnya mirip selesma biasa, maka orangtua sering mengabaikan penyakit ini Ladies. Padahal, penyakit ini berbahaya karena dapat menyebabkan kematian pada anak akibat paru-paru tidak dapat menjalankan fungsinya untuk mendapatkan oksigen bagi tubuh. Pada perkembangan selanjutnya, barulah muncul gejala napas cepat dan sesak napas.

“Kebanyakan orangtua tidak mengetahui bahwa si anak terkena gejala bronkopneumonia. Karena tanda-tanda awalnya memang seperti flu atau demam pada umumnya. Jadi orangtua tidak memeriksakan si kecil lebih lanjut. Padahal, tindakan tersebut sama saja membiarkan bronkopneumonia semakin berkembang,” sambungnya lagi.

Menurutnya,  harus bisa menghitung napas anaknya agar bisa mengenali apa itu napas cepat. Jika anak usia kurang 2 bulan, napasnya lebih dari 60 kali per menit. Sedangkan usia 2-12 bulan, napasnya lebih dari 50 kali per menit. Untuk anak usia 1-5 tahun, napasnya lebih 40 kali per menit. Dengan mengetahui hal tersebut, Ladies bisa segera mengambil sikap jika si kecil mengalami masalah pernapasan.


KOMENTAR
Berita Update
Kampanye Kurangi Penggunaan Plastik

Kampanye Kurangi Penggunaan Plastik
Senin, 19 November 2018 - 14:00 wib

Bupati Ajak Putra Terbaik Kampar Bersinergi Bangun Negeri
Senin, 19 November 2018 - 13:50 wib

Abrasi, Jalan Antar Desa Terancam Putus
Senin, 19 November 2018 - 13:45 wib

Dimas Harumkan Nama Bangsa di Belgia
Senin, 19 November 2018 - 13:30 wib
Mobil Tergelincir dan Terguling
Akses Perbatasan Riau-Sumbar Macet Panjang
Senin, 19 November 2018 - 13:24 wib
Jika Banjir Berbahaya, Sekolah Boleh Libur

Jika Banjir Berbahaya, Sekolah Boleh Libur
Senin, 19 November 2018 - 13:00 wib

Gudang Kayu Bangunan Musnah Terbakar
Senin, 19 November 2018 - 12:30 wib
Dittipid Siber Kejar Uang Hasil Peretasan

Dittipid Siber Kejar Uang Hasil Peretasan
Senin, 19 November 2018 - 12:12 wib
Status Tersangka  Harris Anggara Dicabut
Korupsi Pipa Transmisi
Status Tersangka Harris Anggara Dicabut
Senin, 19 November 2018 - 12:00 wib
Penyakit Kulit Mengancam Warga Usai Banjir

Penyakit Kulit Mengancam Warga Usai Banjir
Senin, 19 November 2018 - 11:45 wib
Cari Berita
Ladies Terbaru
Si Classic Ala 90’S

Jumat, 16 November 2018 - 09:36 WIB

Kulit Cerah dengan Sapuan Warna Cokelat

Rabu, 14 November 2018 - 12:53 WIB

The Pink Vespa Is Mine

Selasa, 30 Oktober 2018 - 14:45 WIB

Jangan Tergiur Behel Abal-Abal

Senin, 29 Oktober 2018 - 12:29 WIB

Pengeroposan Gigi Harus Cepat Ditanggapi

Senin, 22 Oktober 2018 - 15:35 WIB

Sagang Online
loading...
Follow Us