Terjebak dalam Bentuk
Minggu, 15 Juli 2018 - 11:14 WIB > Print | Komentar
Terjebak dalam Bentuk
Parade Tari Se-Riau 2018 di Anjung Seni Idrus Tintin Pekanbaru.
Beberapa tahun belakangan, para koreografer Riau seperti tidak percaya pada kemampuannya mengolah tubuh. Alhasil, dialog-dialog dalam bahasa verbal menjadi pelengkap dalam karyanya. Mereka (koreografer) itu --kebanyakan-- tidak yakin bahwa gerak adalah media utama untuk menyampaikan pesan.
--------------------------------------------------------------------------------

(RIAUPOS.CO) - BAGI dunia kepenarian, gerak adalah bahasa. Para koreografer maupun penari harus menjadikan tubuh sebagai sumber utama untuk berkisah dan bercerita sesuai maksud yang diinginkan. Gerak yang dicipta itu pun sedapat mungkin bisa dipahami. Bukan sekadar memperlihatkan keindahan dengan atraksi-atraksi semata. Apalagi, kisah dalam dunia tari ini diangkat dari muatan budaya atau kekayaan intelektual yang tumbuh dan hidup di tengah-tengah masyarakat Melayu.

Inti dari penciptaan itu tentulah lahir dari sebuah pemahaman mendalam atas tema tertentu. Sehingga audiens (penonton, red) bisa merasakan, bahkan memahami maksudnya. Karena itu, menurut koreografer senior Riau Iwan Irawan Permadi, insan tari dituntut untuk berempati pada hal yang diangkatnya serta belajar banyak dari hal itu. Tidak cukup sampai di situ saja, para koreografer dan penari juga haruslah memperluas cakrawala berpikir agar tidak terjebak pada hal yang remeh-temeh.

Tak terhingga tema yang bisa diangkat dari kehidupan dan kebudayaan lokal. Apa saja bisa menjadi karya yang bernas jika para koreografer mau ’bersusah-susah’ menggali dan menemukannya. Jadi tidak ’tahu’ hanya karena pernah melihat, merasakan sesaat, lalu menjadikannya sebagai karya koreografi. Karya-karya serupa itulah yang hingga kini muncul dalam banyak perhelatan seni, maupun budaya. Para koreografer dan penari tampak dan terasa menghasilkan karya-karya yang instan.

"Instan di sini, bukan saja soal tema atau teknik penciptaan dan kepenarian, bahkan hampir di semua unsur, baik utama maupun  pendukung atau dramaturgi tari belum berkembang dengan semestinya. Saya rasakan betul, dalam penciptaan karya pun dihasilkan dalam durasi yang instan," ulas Iwan Irawan Permadi yang juga pimpinan PLT Laksemana.

Dijelaskannya lebih jauh, pemahaman dan teknik gerak masih belum selesai. Apalagi unsur pendukung lain seperti pemahaman pemanggungan, baik dekorasi, kostum-make up, pencahayaan, dan seterusnya. Alumni Padepokan Bagong ini menegaskan, masalahnya ada pada insan tari itu sendiri. Nyaris tidak ada yang berlatih secara intens.   


KOMENTAR
Berita Update
Hari Ini, Tes Penerimaan PPPK Tahap I

Hari Ini, Tes Penerimaan PPPK Tahap I
Sabtu, 23 Februari 2019 - 10:03 wib

Sebut Riau Masa Depan Indonesia
Sabtu, 23 Februari 2019 - 09:24 wib

Guru Besar IPB: Jangan Politisasi Status Siaga Karhutla
Sabtu, 23 Februari 2019 - 09:14 wib

Rekrutmen 4.100 Petugas Haji
Sabtu, 23 Februari 2019 - 09:12 wib

Karhutla Menjalar ke Dekat Permukiman
Sabtu, 23 Februari 2019 - 09:03 wib

Tetapkan Passing Grade Kelulusan Tes
Sabtu, 23 Februari 2019 - 08:19 wib
PT PLN (PERSERO) WILAYAH RIAU KEPULAUAN RIAU AREA PEKANBARU
Jadwal Pemeliharaan Periode 25 Februari - 2 Maret 2019
Sabtu, 22 Februari 2019 - 21:49 wib

Anda Percaya Prabowo Sudah Gerus Suara Jokowi di Jateng?
Sabtu, 22 Februari 2019 - 20:47 wib
Cari Berita
Kebudayaan Terbaru
Sekda: Jaga Falsafah Tali Bapilin Tigo, Tigo Tungku Sajorangan
Dokumentasi Kerajaan di Riau Terus Digali

Minggu, 17 Februari 2019 - 08:54 WIB

Imak Bunyi dari Kampar

Minggu, 17 Februari 2019 - 08:51 WIB

Lahirkan Polemik dan Penolakan

Minggu, 10 Februari 2019 - 12:43 WIB

Makan Bajambau Tutup Puncak Hari Jadi ke-69 Kampar

Kamis, 07 Februari 2019 - 11:34 WIB

Sagang Online
loading...
Follow Us