Teater
Alam Takambang jadi Batu
Minggu, 22 Juli 2018 - 14:27 WIB > Print | Komentar
Alam Takambang  jadi Batu
Pertunjukan dari teater dengan judul Alam Takambang Menjadi Batu yang diproduksi oleh Komunitas Seni Nan Tumpah di Anjung Seni Idrus Tintin pada Rabu (18/7/2018) Malam.
Sejak awal Juli 2018, seni teater bertubi-tubi ’meneror’ dunia seni pertunjukkan di Riau. Rabu (18/7) lalu, sutradara Mahatma Muhammad dari Padang (Sumatera Barat) ikut pula membentang karyanya di gedung teater tertutup Anjung Seni Idrus Tintin dengan judul Alam Takambang jadi Batu.
---------------------------------------------------------------------------------------

(RIAUPOS.CO) - PERTUNJUKAN dibuka dengan keriuhan. Perlahan cahaya biru di kaki-kaki boxs masuk. ’Berselikau’ diantara seorang Tukang Kaba mileneal yang ’mengucai’ tepat di tengah panggung. Suara-suara dari beragam bunyi seperti klakson kapal, peluit, alunan saluang (alat tiup, red) yang ditingkahi ketukan alat-alat musik perkusi, menambah kesibukan tiada henti.

Saat cahaya menguat, tampaklah benda-benda di atas boxs itu. Tiga patung manusia, gantungan-gantungan pakaian yang biasa dipajang di gerai-gerai tekstil. Orang-orang berpakaian serba abu-abu yang menggerakkan boxs itu terus bergerak, kesana-kemari. Kemudian diam dan mematung saat si tukang kaba memulai kisahnya.

Orang-orang digerakkan dengan bunyi peluit seperti pertunjukan randai. Orang-orang bergerak dan menciptakan bunyi dari pukulan berupa tepuk tangan, hentakan kaki, tepukan tangan ke tubuh, dan utamanya pukulan tangan ke celana galembong yang biasa digunakan dalam Randai Minangkabau.

Palingtidak, karya Alam Takambang jadi Batu; Kaba-kaba yang Membunuh Tukang Kaba dan Ibu-ibu yang Selalu Mengutuk Diri Sendiri menawarkan gambaran kehidupan orang Minangkabau dulu, kini, barangkali masa akan datang. Karya berdurasi kuranglebih 90 menit yang ditulis dan disutradarai langsung oleh Mahatma Muhammad ini, menarik dan menyegarkan. Terbukti, ratusan audiens (penonton) yang hadir di auditorium Anjung Seni Idrus Tintin tetap bertahan hingga pertunjukan usai.

Tafsir Ulang

Karya Ke-31 Komunitas Seni Nan Tumpah Padangpariaman ini lahir dari hasil riset atas fenomena yang terjadi di alam Minangkabau. Bagi Mahatma, kisah Malin Kundang (cerita rakyat) itu masih relevan hingga hari ini, bahkan nanti.


KOMENTAR
Berita Update

Masuk Rutan KPK, Syamsuar Tak Ingin Jadi Pasien Keempat
Kamis, 20 Februari 2019 - 22:05 wib

Bos Puskaptis Sebut 10 Lembaga Survei Ini Tidak Kredibel
Kamis, 20 Februari 2019 - 21:01 wib

Calon Jemaah Haji Tidak Perlu Daftar Paspor Online
Kamis, 20 Februari 2019 - 20:52 wib

Berharap Setelah jadi PPPK Bisa Diangkat sebagai PNS
Kamis, 20 Februari 2019 - 20:39 wib

Politik Tanah Jokowi Bikin Prabowo dan Amien Rais Geger
Kamis, 20 Februari 2019 - 20:34 wib
5 Tahun Jembatan Timbang Tak Beroperasi

5 Tahun Jembatan Timbang Tak Beroperasi
Kamis, 20 Februari 2019 - 17:00 wib

Sepekan Berjuang Padamkan Api
Kamis, 20 Februari 2019 - 16:55 wib

Ungkap Peredaran Narkoba di Tiga Tempat
Kamis, 20 Februari 2019 - 15:43 wib
Cari Berita
Kebudayaan Terbaru
Sekda: Jaga Falsafah Tali Bapilin Tigo, Tigo Tungku Sajorangan
Dokumentasi Kerajaan di Riau Terus Digali

Minggu, 17 Februari 2019 - 08:54 WIB

Imak Bunyi dari Kampar

Minggu, 17 Februari 2019 - 08:51 WIB

Lahirkan Polemik dan Penolakan

Minggu, 10 Februari 2019 - 12:43 WIB

Makan Bajambau Tutup Puncak Hari Jadi ke-69 Kampar

Kamis, 07 Februari 2019 - 11:34 WIB

Sagang Online
loading...
Follow Us
Populer hari ini