Pementasan Hikayat Orang Laut
Masa Depan Yang Entah
Minggu, 29 Juli 2018 - 08:49 WIB > Dibaca 2115 kali Print | Komentar
Masa Depan Yang Entah
HIKAYAT: Aktor-aktor tampil prima dalam produksi Hikayat Orang Laut karya Marhalim Zaini bersama Suku Seni Riau. Suku Seni Riau for Riau Pos
"Saya sepakat, bahwa puisi itu induk seni. Maka ia melahirkan anak-anak seni, yang banyak perangai. Puisi dalam teater, atau teater dalam puisi, menjadi tak penting lagi, ketika keduanya menjadi satu darah, sekandung dalam sebuah pertunjukan," ujar Marhalim Zaini (MZ), sutradara Hikayat Orang Laut (HOL).
-------------------------------------------------------------------------------------

(RIAUPOS.CO) - USAI mementaskan karya perdana mereka berjudul, Dilanggar Todak, kini MZ bersama Suku Seni Riau kembali menyuguhkan karya kedua mereka dengan judul, Hikayat Orang Laut di Anjung Seni Idrus Tintin, 28-29 Juli. Karya kedua ini masih dalam suguhan ’teater puisi’. Inilah teater, sebuah karya seni pertunjukan yang bisa dan sah bertolak dari apa saja.


"Seni teater hari ini, adalah seni yang semakin kompleks. Ia tidak berhenti pada teater sebagai entitas seni, tapi ia bergerak menerabas batas. Tak perlu hari ini, bertanya lagi tentang definisi, tapi yang perlu kini menciptakan ruang-ruang baru. Teater masa kini, justru adalah sebuah ruang yang paling mungkin untuk beradaptasi dengan zaman, dengan jenis seni apapun, karena "teater" itu sendiri, pada saat yang lain, adalah bukan semata bentuk seni, tapi adalah kehidupan itu sendiri," papar MZ berfilosofi.

Dijelaskannya, pertunjukan teater-puisi HOL, tidak berpretensi meluruskan atau membengkokkan sejarah. Tapi sejarah dalam HOL adalah “sejarah yang kalah.” Kekalahan Orang Laut menghadapi zaman, kekalahan Orang Laut menghadapi kehendak kekuasaan, kekalahan Orang Laut menghadapi dirinya sendiri, yang seolah terbelah antara peradaban darat dan peradaban laut.

HOL sebagai sebuah produk kesenian, harus berpihak. Keberpihakan HOL adalah—selain keberpihakan artistik—juga keberpihakan ideologis. Keberpihakan terhadap upaya penguatan-penguatan daya pikir masyarakat hari ini (khususnya masyarakat Melayu modern) terhadap sejarah sebuah peradaban, melalui karya kreatif.

Proses kreatif penciptaan teks panggung HOL adalah proses keluar-masuk, dari sejarah ke realitas kekinian. Proses tersebut, bisa jadi, berkelindan dalam keliaran yang jauh, tapi tetap kembali ke muara: oto-kritik atas diri orang Melayu sendiri, atas diri umat manusia. Maka simbol-simbol bermain sangat dominan dalam artistik pertunjukan teater-puisi ini.



KOMENTAR
Berita Update
Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu
Sabtu, 22 September 2018 - 12:46 wib

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu
Sabtu, 22 September 2018 - 12:43 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet
Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak
Sabtu, 21 September 2018 - 23:41 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion
Sabtu, 21 September 2018 - 19:00 wib

Pengelola Diminta Optimalkan Aset untuk Kesejahteraan Desa
Sabtu, 21 September 2018 - 18:00 wib
Tolak Politik Transaksional
Apresiasi Komitmen Partai
Sabtu, 21 September 2018 - 17:30 wib
Warga Dambakan Aliran Listrik

Warga Dambakan Aliran Listrik
Sabtu, 21 September 2018 - 17:00 wib

Real Wahid dan UIR Juara Kejurda Futsal 2018
Sabtu, 21 September 2018 - 16:30 wib

Etape Terakhir Diraih Tim Sapura Cycling Malaysia
Sabtu, 21 September 2018 - 16:14 wib
Cari Berita
Kebudayaan Terbaru
Lembaga  Sensor Film tak  "Berkuku"

Minggu, 02 September 2018 - 15:53 WIB

Kegilaan Penyair "Alam Gaib" di Akhir PSK

Senin, 27 Agustus 2018 - 08:09 WIB

Agar Siswa Paham Dunia Literasi dan Musikalisasi Puisi

Kamis, 16 Agustus 2018 - 00:50 WIB

Puisi Inspirasi Tiada Henti

Minggu, 12 Agustus 2018 - 08:42 WIB

Spirit Lokal dari Ceruk Kampung

Minggu, 05 Agustus 2018 - 15:01 WIB

Sagang Online
loading...
Follow Us