Pementasan Hikayat Orang Laut
Masa Depan Yang Entah
Minggu, 29 Juli 2018 - 08:49 WIB > Dibaca 2674 kali Print | Komentar
Masa Depan Yang Entah
HIKAYAT: Aktor-aktor tampil prima dalam produksi Hikayat Orang Laut karya Marhalim Zaini bersama Suku Seni Riau. Suku Seni Riau for Riau Pos
Kata-kata (teks verbal) kadang hanya lalu-lalang untuk sekadar menyambung narasi, memperkokoh peristiwa, atau bahkan ia menjadi simbol itu sendiri. Sebagaimana teks puisi yang kerap menampilkan citraan dan imaji. Boleh jadi, penonton akan menyaksikan puisi yang bergerak sunyi penuh citraan di panggung HOL. Meskipun begitu, simbol utama tetap bersumber dari teks puisi “HOL”, yang lebih dekat dunia laut, dunia maritim, dunia kepulauan, maka jaring, kajang, dayung dan sejenisnya tetap dipertahankan sebagai simbol kunci yang memperkuat relasi-relasi tematik.

Selain pertunjukan ini juga bersumber dari puisi panjang “Hikayat Orang Laut” karya Marhalim Zaini sendiri, boleh jadi juga teater-puisi adalah sebuah ruang pencarian bentuk-bentuk “estetika baru” dalam wilayah yang lebih luas, yang mencoba mempadu-padankan antara puisi dan teater. Sekaligus, di lain sisi, melepaskan ikatan-ikatan definitif kedua genre tersebut, untuk kemudian meleburkannya dalam satu ikatan baru.

"Boleh jadi juga, teater-puisi adalah sebuah istilah untuk kemudian saling meniadakan, dan melebur menjadi satu entitas baru, yang mungkin belum bernama," ungkap MZ.

Dalam sinopsis HOL, MZ menyatakan, orang-orang laut terus berdebat tentang sejarah hidup mereka, tentang peradaban laut yang surut didera pasang peradaban darat. Mereka terus bertanya siapa diri mereka sesungguhnya. Kembali kepada sejarah yang kalah, atau menuju ke masa depan yang entah. Sementara waktu, terus bergerak cepat, meninggalkan sampah-sampah jejak masa lalu yang tak mudah diurai.


Orang Laut dalam Sajak

Dalam karya ini, MZ menuturkan riwayat hidup orang laut, terutama yang berada di Kepulauan Riau (Kepri), dan rumpun suku laut di Semenanjung Malaya. Karya itu, bersumber dari sebuah puisi Marhalim Zaini (dimuat di Kompas, 2010) dengan judul yang sama. Maka dalam pertunjukan ini, ia menyuguhkan model pertunjukan simbolik yang memadu-padankan antara kekuatan teks puisi dan eksplorasi teaterikal.


KOMENTAR
Berita Update

Komitmen Naker Lokal Dipertanyakan
Kamis, 17 Januari 2019 - 16:00 wib

Pengrusak Atribut PD Dijebloskan ke Rutan
Kamis, 17 Januari 2019 - 15:35 wib
Puskesmas Tambusai Jadi Percontohan

Puskesmas Tambusai Jadi Percontohan
Kamis, 17 Januari 2019 - 15:30 wib
Satu tersangka Mantan Pegawai Lapas Bengkalis
Pemusnahan Sabu-sabu 37 Kg dan 86.000 Butir Pil Ekstasi
Kamis, 17 Januari 2019 - 15:26 wib
TP4D Siap Lakukan Pendampingan

TP4D Siap Lakukan Pendampingan
Kamis, 17 Januari 2019 - 15:00 wib
Peran Camat dan Penghulu Turut Menentukan

Peran Camat dan Penghulu Turut Menentukan
Kamis, 17 Januari 2019 - 14:30 wib
Masyarakat Diajak Jaga Keindahan Taman

Masyarakat Diajak Jaga Keindahan Taman
Kamis, 17 Januari 2019 - 14:00 wib
Bupati Jelaskan Fungsi TP4D

Bupati Jelaskan Fungsi TP4D
Kamis, 17 Januari 2019 - 13:30 wib
Cari Berita
Kebudayaan Terbaru
Seni dan Budaya Melayu Dilestarikan Bersama

Selasa, 15 Januari 2019 - 14:45 WIB

Petir Jagung

Senin, 14 Januari 2019 - 10:16 WIB

Ajang Pamerkan Karya Seni

Rabu, 19 Desember 2018 - 09:39 WIB

Dan, Palung Puisi itu Bernama Perempuan

Minggu, 16 Desember 2018 - 14:34 WIB

Sutardji: Perempuan,  Tetaplah Jadi Ruh Bagi Kesusasteraan
Sagang Online
loading...
Follow Us