Pementasan Hikayat Orang Laut
Masa Depan Yang Entah
Minggu, 29 Juli 2018 - 08:49 WIB > Dibaca 2141 kali Print | Komentar
Masa Depan Yang Entah
HIKAYAT: Aktor-aktor tampil prima dalam produksi Hikayat Orang Laut karya Marhalim Zaini bersama Suku Seni Riau. Suku Seni Riau for Riau Pos
Kata-kata (teks verbal) kadang hanya lalu-lalang untuk sekadar menyambung narasi, memperkokoh peristiwa, atau bahkan ia menjadi simbol itu sendiri. Sebagaimana teks puisi yang kerap menampilkan citraan dan imaji. Boleh jadi, penonton akan menyaksikan puisi yang bergerak sunyi penuh citraan di panggung HOL. Meskipun begitu, simbol utama tetap bersumber dari teks puisi “HOL”, yang lebih dekat dunia laut, dunia maritim, dunia kepulauan, maka jaring, kajang, dayung dan sejenisnya tetap dipertahankan sebagai simbol kunci yang memperkuat relasi-relasi tematik.

Selain pertunjukan ini juga bersumber dari puisi panjang “Hikayat Orang Laut” karya Marhalim Zaini sendiri, boleh jadi juga teater-puisi adalah sebuah ruang pencarian bentuk-bentuk “estetika baru” dalam wilayah yang lebih luas, yang mencoba mempadu-padankan antara puisi dan teater. Sekaligus, di lain sisi, melepaskan ikatan-ikatan definitif kedua genre tersebut, untuk kemudian meleburkannya dalam satu ikatan baru.

"Boleh jadi juga, teater-puisi adalah sebuah istilah untuk kemudian saling meniadakan, dan melebur menjadi satu entitas baru, yang mungkin belum bernama," ungkap MZ.

Dalam sinopsis HOL, MZ menyatakan, orang-orang laut terus berdebat tentang sejarah hidup mereka, tentang peradaban laut yang surut didera pasang peradaban darat. Mereka terus bertanya siapa diri mereka sesungguhnya. Kembali kepada sejarah yang kalah, atau menuju ke masa depan yang entah. Sementara waktu, terus bergerak cepat, meninggalkan sampah-sampah jejak masa lalu yang tak mudah diurai.


Orang Laut dalam Sajak

Dalam karya ini, MZ menuturkan riwayat hidup orang laut, terutama yang berada di Kepulauan Riau (Kepri), dan rumpun suku laut di Semenanjung Malaya. Karya itu, bersumber dari sebuah puisi Marhalim Zaini (dimuat di Kompas, 2010) dengan judul yang sama. Maka dalam pertunjukan ini, ia menyuguhkan model pertunjukan simbolik yang memadu-padankan antara kekuatan teks puisi dan eksplorasi teaterikal.


KOMENTAR
Berita Update
Traffic Website  SSCN Padat di  Siang Hari

Traffic Website SSCN Padat di Siang Hari
Selasa, 25 September 2018 - 18:39 wib
Angkat Potensi Kerang Rohil

Angkat Potensi Kerang Rohil
Selasa, 25 September 2018 - 17:38 wib
PMI Ajak Generasi Muda Hindari Perilaku Menyimpang

PMI Ajak Generasi Muda Hindari Perilaku Menyimpang
Selasa, 25 September 2018 - 17:30 wib

BPN Diminta Tingkatkan Pelayanan
Selasa, 25 September 2018 - 17:00 wib
Beli BBM Pakai  Uang Elektronik

Beli BBM Pakai Uang Elektronik
Selasa, 25 September 2018 - 16:56 wib

Jalan Rusak, Siswa Terpaksa Memperbaiki
Selasa, 25 September 2018 - 16:36 wib

Rangkai Bunga Artificial Jadi Bouquet Cantik
Selasa, 25 September 2018 - 16:32 wib
Rencana Rasionalisasi RAPBD Perubahan 2018
Tak Ganggu Target Pembangunan
Selasa, 25 September 2018 - 16:30 wib

Ratusan Honorer Gelar Aksi Demo
Selasa, 25 September 2018 - 16:00 wib

SMAN 7 Pekanbaru Dukung Gerakan Literasi
Selasa, 25 September 2018 - 15:54 wib
Cari Berita
Kebudayaan Terbaru
Semarakkan HPI, Penyair Riau Hadir di Pasaman Sumatera Barat
Kembalinya sang  Primadona

Minggu, 23 September 2018 - 19:48 WIB

Lembaga  Sensor Film tak  "Berkuku"

Minggu, 02 September 2018 - 15:53 WIB

Kegilaan Penyair "Alam Gaib" di Akhir PSK

Senin, 27 Agustus 2018 - 08:09 WIB

Agar Siswa Paham Dunia Literasi dan Musikalisasi Puisi

Kamis, 16 Agustus 2018 - 00:50 WIB

Sagang Online
loading...
Follow Us