Waspada Difteri Di Negara Berkembang
Senin, 27 Agustus 2018 - 13:50 WIB > Dibaca 4209 kali Print | Komentar
Waspada Difteri Di Negara Berkembang
Berita Terkait

Kecamatan Tampan KLB Difteri



(RIAUPOS.CO) - Beberapa waktu lalu, difteri sempat booming. Korban akibat penularan penyakit satu ini mulai berjatuhan. Banyak di antaranya adalah para anak. Gejalanya yang kadang tidak terdeteksi membuat seseorang yang terserang dan lingkungannya tak menyadari adanya penyakit satu ini. Namun, diam-diam, difteri yang ia miliki, menyebar kepada orang-orang di sekitarnya.

Ladies wajib banget deh waspada dengan penyakit satu ini. Difteri merupakan salah satu penyakit yang cukup mudah penularannya. Apalagi di kalangan anak-anak moms. Lebih lanjut, dr Dewi Anggraini SpMK menjelaskan, bahwa difteri merupakan jenis penyakit infeksi yang menular.

“Difteri adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh Corynebacterium diphteriae. Dengan manifestasi penyakit pada saluran napas dan kulit. Sebagian orang yang terinfeksi bakteri ini, tidak memperlihatkan gejala. Namun bisa menularkan kepada orang lain,” ujarnya.

Dokter spesialis mikrobiologi Klinik lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini memaparkan bahwa, pada awal abad ke-20, sebelum vaksin difteri ditemukan, penyakit ini merupakan penyebab kesakitan dan kematian utama pada anak usia di bawah 15 tahun di seluruh dunia.

Saat ini, di negara maju penyakit ini relatif jarang. Namun, di negara berkembang yang berada di Afrika, Asia, termasuk Indonesia, Timur Tengah dan sebagian Eropa, penyakit ini masih menjadi masalah serius. Dikarenakan cakupan vaksin yang tidak menyeluruh.

“Permasalahan negara berkembang salah satunya adalah, vaksin yang tidak merata. Kita harus menilai dari pelaksanaaan program vaksin dari pemerintah. Namun, adanya paham antivaksin yang berkembang belakangan ini, sangat mengkhawatirkan. Golongan antivaksin membawa isu agama ke dalamnya. Edukasi yang terus menerus harus kita lakukan agar vaksin ini bisa menyeluruh diberikan. Dengan begitu, angka korban difteri bisa ditekan,” ujar Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Riau ini.

Ia melanjutkan,  bakteri C diphteriae memproduksi toksin yang dapat menyebabkan kematian sel. Penyakit difteri ditularkan melalui kontak erat dengan material infeksius dari penderita.  Berupa titik-titik  ludah atau sekret dari kulit yang terkena.

Penyakit difteri paling sering menimpa anak usia kurang dari 15 tahun. Penyakit difteri yang tersering mengenai saluran napas. Gejalanya dimulai dengan demam, lemas, nyeri saat menelan dan pembengkakan pada kelenjar getah bening di leher. Kemudian, akan terbentuk lapisan keabu-abuan di tenggorokan. Lapisan ini bisa dibilang yang paling khas untuk penyakit ini.

“Lapisan ini dapat meliputi seluruh tenggorokan yang disertai pembengkakan area tersebut. Sehingga, dapat menyebabkan kesulitan atau sumbatan saluran napas yang dapat menyebabkan kematian. Toksin difteri yg menyebar ke seluruh tubuh juga dapat menyebabkan kerusakan pada jantung, ginjal dan sistem syaraf yang juga menyebabkan kematian,” terangnya.

Wah, bahaya juga nih kalau dibiarkan. Lebih lanjut, dokter spesialis RSUD Arifin Achmad ini kembali menekankan, bahwa penderita difteri dapat diobati dengan memberikan anti toksin untuk menetralisir toksinnya dan antibiotik untuk mematikan kumannya. Di samping juga pengamanan saluran napas, pemantauan jantung dan sistem syaraf.

Jika dibiarkan, angka kematian akan meningkat jika pasien tidak segera diberikan anti toksin. Apalagi, jika yang terserang adalah sang buah hati yang belum bisa mengungkapkan bahwa ada sesuatu yang salah pada dirinya.

So, Mommy harus lebih waspada lagi akan tumbuh kembang dan kesehatan sang buah hati. Mengingat difteri ini rentan menyerang anak usia di bawah 15 tahun. Jangan sampai, gejala yang sudah ada justru terabaikan karena kurangnya kepekaan kita pada anak. Vaksin difteri juga perlu diberikan sesuai dengan jadwalnya. Menurut dokter Dewi, hal ini menjadi penting. Sebab, vaksin mampu mencegah anak dari difteri. Sehingga, tubuhnya bisa menjadi lebih kuat dan tidak mudah terserang dari penyakit mematikan ini Ladies.(azr/aga)
KOMENTAR
Berita Update
APBD Kampar Diperkirakan Rp2,4 T

APBD Kampar Diperkirakan Rp2,4 T
Rabu, 14 November 2018 - 16:00 wib
Pembangunan Gedung 8 Lantai Lolos
Pencakar Langit Riau Pertama di Luar Pekanbaru
Rabu, 14 November 2018 - 15:45 wib
Lelang Sepeda Motor Dinas Pemko  22 November

Lelang Sepeda Motor Dinas Pemko 22 November
Rabu, 14 November 2018 - 15:33 wib
Pengungsi Rohingya Hindari Repatriasi

Pengungsi Rohingya Hindari Repatriasi
Rabu, 14 November 2018 - 14:43 wib

Daud Yordan Mau Istirahat Dulu
Rabu, 14 November 2018 - 14:30 wib
Tiga Terdakwa Dituntut Lima Tahun Penjara
Korupsi Danau Buatan Rohil
Tiga Terdakwa Dituntut Lima Tahun Penjara
Rabu, 14 November 2018 - 14:00 wib

Habib Rizieq Tak Langgar Hukum
Rabu, 14 November 2018 - 13:51 wib
Sandiaga: Saya Terus Berkomunikasi dengan SBY

Sandiaga: Saya Terus Berkomunikasi dengan SBY
Rabu, 14 November 2018 - 13:34 wib
DPRD Siapkan Rp200 M untuk Sekolah Gratis

DPRD Siapkan Rp200 M untuk Sekolah Gratis
Rabu, 14 November 2018 - 13:15 wib
Dua Gedung Penegak Hukum  Belum Kantongi Izin Lingkungan

Dua Gedung Penegak Hukum Belum Kantongi Izin Lingkungan
Rabu, 14 November 2018 - 13:00 wib
Cari Berita
Ladies Terbaru
Kulit Cerah dengan Sapuan Warna Cokelat

Rabu, 14 November 2018 - 12:53 WIB

The Pink Vespa Is Mine

Selasa, 30 Oktober 2018 - 14:45 WIB

Jangan Tergiur Behel Abal-Abal

Senin, 29 Oktober 2018 - 12:29 WIB

Pengeroposan Gigi Harus Cepat Ditanggapi

Senin, 22 Oktober 2018 - 15:35 WIB

Cantik Dengan Kilau Warna Rose Gold

Rabu, 17 Oktober 2018 - 16:38 WIB

Sagang Online
loading...
Follow Us