Sensori Film
Lembaga Sensor Film tak "Berkuku"
Minggu, 02 September 2018 - 15:53 WIB > Dibaca 5615 kali Print | Komentar
Lembaga  Sensor Film tak  "Berkuku"
FOTO BERSAMA: Fibri Hardianto, komite teater dan film DKR, dan peserta diskusi kreatif sensor film berfoto bersama di gedung olah seni (GOS) Taman Budaya Riau, Selasa (28/8/2018). FEDLI AZIS riau pos
Berita Terkait





Lebih jauh dipaparkannya, sejauh ini LSF memiliki tugas untuk memilah dan memilih setiap adegan untuk bisa dinyatakan lulus sensor sebelum disebarkan ke masyarakat.

“Maka setiap produser atau pemilik karya film atau iklan harus mendaftarkan karyanya untuk dilakukan penyensoran,” ujarnya.

Fibri mengilustrasikan, pengalaman di negara Singapura contohnya, bioskop di sana sangat ketat pada batasan umur menonton film, mengapa di Indonesia tidak dilakukan pemeriksaan yang benar-benar sesuai KTP misalnya?

“Nah, kerja sama dan kepedulian 0setiap orang dan pemegang kebijakan di dunia industri selalu mengalami kendala dan ketidaksesuaian di lapangan. Memang seharusnya siapapun harus patuh pada ketentuan yang ada. Tetapi lagi-lagi orientasi bisnis kadang kala menjadi penghambat,”.

Mudahnya akses informasi yang bisa diperoleh semua orang melalui internet membuat lembaga berwenang yang menangani penyaringan informasi bermuatan negatif harus putar otak. Pasalnya tak mudah menyaring konten negatif yang bertebaran di dunia maya.

Ini berbeda dengan pada masa lalu saat akses informasi masih sangat terbatas sehingga lebih mudah untuk menyaring atau menapis informasi bermuatan negatif. Ketika itu, salah satu medium memperoleh informasi adalah melalui film. Badan yang berwenang melakukan penyaringan informasi bermuatan negatif dalam film adalah Lembaga Sensor Film (LSF).

LSF adalah lembaga yang bertugas melakukan filter dan sensor terhadap film-film yang akan tayang di Indonesia baik film lokal maupun impor. Proses penyensoran atau filterisasi dilakukan di dalam sebuah studio yang lebih tepat di sebut bioskop mini. “Di LSF itu ada 8 studio bioskop mini untuk menyensor film,” kata Rommi Fibri, juru bicara Lembaga Sensor Film.

Di dalam bioskop mini tersebut, para anggota yang ditugasi untuk melakukan penyensoran film duduk berbaris dan menonton film seperti layaknya menonton film di dalam bioskop-bioskop sungguhan.

“Satu film maksimal enam orang yang akan melihat dan menyensor film, minimal empat orang anggota,” tambahnya.

Kemudian sembari menyaksikan adegan-adegan yang ada dalam film tersebut, masing-masing anggota memegang lembaran kertas dan pulpen untuk mencatat isi film tersebut usai para anggota menonton. Jika ada bagian yang tidak layak maka LSF memberitahu produsen film untuk mengubah.

“Berisi catatan, jika film tersebut lulus dengan sejumlah revisi maka film tersebut harus dibicarakan dengan produser film yang bersangkutan atau berisi catatan apakah film tersebut ditolak yang artinya tidak boleh beredar,” jelas Rommi.

Hal ini yang, menurut Rommi, menunjukkan perbedaan antara penyensoran yang dilakukan oleh LSF di periode sekarang dengan periode sebelumnya. “Kalau zaman dulu LSF sendiri yang memotong jika ada adegan-adegan dalam sebuah film yang dianggap tidak layak,” katanya.

Adapun adegan-adegan yang dianggap tidak layak dalam sebuah film sehingga terpaksa harus dilakukan penyensoran adalah adegan yang mengandung unsur pornografi dan sadistik. “Film barat yang paling sering, karena kadang banyak mengandung dua unsur tersebut,” ujarnya.

Selama kurun waktu 2015, LSF total sudah melakukan proses penyensoran sebanyak 46.000 film. Sebagai informasi, setelah film selesai disensor dan beredar di publik, maka tanggung jawab pengawasannya akan beralih ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) jika film tersebut disiarkan melalui medium televisi.***


Laporan FEDLI AZIS, Pekanbaru


KOMENTAR
Berita Update

Pemkab Komit Kelola Lahan Gambut
Selasa, 20 November 2018 - 14:30 wib

TP PKK Berikan Penanganan Stunting di 10 Desa
Selasa, 20 November 2018 - 14:00 wib

Bupati Launching Aplikasi Sipedih
Selasa, 20 November 2018 - 13:30 wib
Tunggu Kepastian Pelantikan Plt Gubri

Tunggu Kepastian Pelantikan Plt Gubri
Selasa, 20 November 2018 - 13:00 wib
Disdik Merasa Dilema Kekurangan Guru SD

Disdik Merasa Dilema Kekurangan Guru SD
Selasa, 20 November 2018 - 12:51 wib
4 Kabupaten Masih Terendam Banjir

4 Kabupaten Masih Terendam Banjir
Selasa, 20 November 2018 - 12:00 wib
Pedagang Pasar Rumbai Minta Pembayaran Kios per Hari

Pedagang Pasar Rumbai Minta Pembayaran Kios per Hari
Selasa, 20 November 2018 - 11:48 wib

Haul Marhum Pekan Ingatkan Sejarah Pekanbaru
Selasa, 20 November 2018 - 11:27 wib
Di Bandara Internasional Soekarno-Hatta
AirAsia Pindahkan Penerbangan ke Terminal 2
Selasa, 20 November 2018 - 11:26 wib

Duit Korupsi ’’Amankan” Kasus Istri
Selasa, 19 November 2018 - 19:09 wib
Cari Berita
Kebudayaan Terbaru
Ratusan Siswa Meriahkan Bulan Bahasa dan Kenduri Puisi  XII
Perlawanan Lewat Karya di “Padang Perburuan”

Minggu, 04 November 2018 - 14:10 WIB

Realitas Kekinian dalam "Padang Perburuan"

Minggu, 07 Oktober 2018 - 13:44 WIB

Teater Selembayung Menuju PTN

Minggu, 30 September 2018 - 13:58 WIB

LAM Riau Akan Sematkan  Gelar Adat untuk Sutardji

Minggu, 30 September 2018 - 13:42 WIB

Sagang Online
loading...
Follow Us