Krisis Turki dan Argentina Picu Depresiasi Rupiah
Rabu, 05 September 2018 - 14:46 WIB > Dibaca 3666 kali Print | Komentar
Krisis Turki dan Argentina Picu Depresiasi Rupiah
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Darmin Nasution.
“Tolong membacanya, membandingkannya yang fair,” kata dia.

Di tempat terpisah, Gubernur BI Perry Warjiyo memaparkan, pelemahan nilai tukar rupiah memang didominasi pengaruh dari sentimen di pasar. Khususnya terkait kondisi global yakni krisis mata uang yang terjadi di Argentina dan Turki. Akibatnya, panic sell off melanda Indonesia dalam dua hari terakhir ini. Padahal, pada akhir pekan lalu, ada sejumlah dana asing yang sempat masuk.

“Ini (rupiah) banyak dipengaruhi oleh sentimen negatif, baik dari luar negeri maupun dari dalam negeri. Investor global kemarin sudah masuk, lelangnya SBN terakhir lebih dari 4 kali lipat kan, saham juga sudah mulai masuk. Tapi, begitu mulai gonjang-gonjing dengan Argentina sama Turki, keluar lagi,” jelasnya saat ditemui di Gedung DPR, kemarin.

Mantan Deputi Gubernur Senior BI itu pun mengimbau pada para pelaku usaha. Khususnya yang memerlukan dolar seperti para importir atau korporasi bisa menggunaan fasilitas memanfaatkan fasilitas penukaran (swap) lindung nilai (hedging) ataupun penanaman valas berjangka (forward).

“Bagi korporasi yang perlukan valas-nya 1, 3, 6 bulan lagi nggak usah nubruk-nubruk dolar. Kan ada swap-nya, bisa lindung nilai, kan murah,”jelasnya.

Namun, Perry memastikan BI terus berkomitmen untuk menstabilkan nilai tukar rupiah hingga sesuai dengan fundamentalnya. Dalam jangka pendek, pihaknya terus meningkatkan intervensi ganda di pasar valas maupun pembelian SBN di pasar sekunder.

“Intensitasnya (intervensi) semakin tinggi, jumlahnya ditingkatkan dari hari Kamis (pekan lalu). Kami intervensi dalam jumlah yang besar di pasar valas karena kami dari BI komitmen untuk menstabilkan nilai tukar rupiah,”tegasnya.

Ekonom BCA David Sumual mengatakan, kondisi rupiah yang bobrok diperparah dengan ketergantungan yang besar terhadap aliran dana asing di portofolio. Ketika rupiah melemah, dana-dana asing banyak yang keluar dan kembali ke negara-negara maju. Akibatnya, Indonesia harus menaikkan suku bunga acuan agar investor tertarik untuk kembali membeli surat-surat utang dalam negeri.

“Kita mengalami CAD, itu sebenarnya tidak apa-apa, asalkan dibiayai oleh FDI (investasi asing langsung). Kita saat ini lebih banyak bergantung pada investasi di surat utang yang mudah keluar,” ujarnya.

Menurut David, pemerintah harus mampu menarik FDI. Selama ini insentif yag diberikan pemerintah, seperti pembebasan bea masuk untuk investor yang berorientasi ekspor, pemberian pembiayaan kepada eksporter melalui Eximbank dan lain-lain adalah kebijakan yang sudah tepat. Namun pemerintah perlu lebih gencar melakukan sosialisasi mengenai insentif tersebut. Pemerintah juga perlu memasarkan ‘Indonesia’ kepada negara-negara lain sebagai negara tujuan investasi yang ramah terhadap investor.

Namun, ke depan, masih akan ada halangan. Sebab tahun ini hingga tahun depan adalah tahun politik. Biasanya, calon investor cenderung wait and see. Baru pada tahun kedua atau ketiga setelah presiden terpilih, calon investor lebih percaya diri untuk berinvestasi. Pada kuartal II lalu pertumbuhan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) hanya 7 persen. Tahun ini dan tahun depan pemerintah menetapkan target yang sama untuk pertumbuhan PMTB. Hal itu menunjukkan pemerintah cukup konservatif dan realistis terhadap kondisi investasi ke depan.(ken/far/rin/jun/ted)


KOMENTAR
Berita Update

Jalin Silaturahmi Antar RT RW Melalui Pengajian Rutin
Selasa, 21 Januari 2019 - 21:06 wib
Harga Cabai Merah Turun, Terong Naik

Harga Cabai Merah Turun, Terong Naik
Selasa, 21 Januari 2019 - 16:45 wib
Pengusutan SPPD Fiktif  Dewan, Tunggu Gelar Perkara

Pengusutan SPPD Fiktif Dewan, Tunggu Gelar Perkara
Selasa, 21 Januari 2019 - 16:31 wib
Bawaslu Kampar Teruskan Laporan Pidana Pemilu

Bawaslu Kampar Teruskan Laporan Pidana Pemilu
Selasa, 21 Januari 2019 - 16:15 wib

Transformasi Hilangkan Bobot 57 Kg
Selasa, 21 Januari 2019 - 15:37 wib
Harga Beras Lokal Naik Lagi

Harga Beras Lokal Naik Lagi
Selasa, 21 Januari 2019 - 15:25 wib
Meranti Ditawarkan Jadi Kota Jaringan Gas

Meranti Ditawarkan Jadi Kota Jaringan Gas
Selasa, 21 Januari 2019 - 15:15 wib
MUI, Mubalig dan BPPOM Diminta Turun Tangan

MUI, Mubalig dan BPPOM Diminta Turun Tangan
Selasa, 21 Januari 2019 - 15:05 wib
Selektif Sebarkan Berita di Media Sosial

Selektif Sebarkan Berita di Media Sosial
Selasa, 21 Januari 2019 - 14:45 wib
Pemprov Diminta Benahi Manajemen RSUD AA

Pemprov Diminta Benahi Manajemen RSUD AA
Selasa, 21 Januari 2019 - 14:30 wib
Cari Berita
Nasional Terbaru
Bupati Temui Kemenristek Dikti

Senin, 21 Januari 2019 - 11:05 WIB

Caesar Dicurigai Ada Kecurangan

Minggu, 20 Januari 2019 - 11:29 WIB

Supermoon, Waspada Pasang Maksimum Air Laut

Minggu, 20 Januari 2019 - 11:24 WIB

Andini Bertemu Menteri Susi di Jakarta

Minggu, 20 Januari 2019 - 11:13 WIB

BPIH Pakai Dolar AS Bisa Bermuatan Politis

Sabtu, 19 Januari 2019 - 12:00 WIB

Sagang Online
loading...
Follow Us
Populer hari ini