Depan >> Berita >> Ekbis >>

Mafia Pekanbaru Kelas Internasional

15 November 2012 - 11.10 WIB > Dibaca 1627 kali Print | Komentar
Mafia Pekanbaru Kelas Internasional
DIBEKUK: Salah satu dari tujuh penganiaya anggota Sabhara Polresta Pekanbaru Briptu Joko dibekuk aparat Polresta Pekanbaru.(foto istimewa)
Laporan M Ali Nurman, Pekanbaru redaksi@riaupos.co

KEPALA Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Riau Kombes Pol Bambang Irawan mengakui peredaran dan penyalahgunaan Narkoba di Pekanbaru telah sampai ke level mengkhawatirkan. Bahkan peredarannya dikendalikan jaringan mafia lokal hingga kelas  internasional.

Aksi penganiayaan terhadap Briptu Joko oleh bandar Narkoba Selasa (13/11) lalu, merupakan salah satu buktinya.

‘’Peristiwa kemarin itu menunjukkan bahwa Pekanbaru ini memang rawan peredaran narkotika,’’ kata Bambang.

Dijelaskannya, dalam peta peredaran narkotika, Pekanbaru merupakan daerah tujuan transaksi.

Di sini, bukan pemain lokal saja yang berkuasa, jaringan internasional pun juga turut mencicipi manisnya duit haram narkotika.

‘’Untuk narkotika jenis sintetis seperti sabu-sabu dan ekstasi, barang yang masuk biasanya dari Malaysia. Sementara untuk narkotika jenis tumbuhan, itu masuk dari Aceh,’’ paparnya.

Selain merupakan tujuan peredaran, Pekanbaru dan Riau juga merupakan areal transit yang akan diedarkan ke daerah lain. ‘’Barang ini (narkotika, red), selain diedarkan di Pekanbaru, juga dijual lagi hingga ke Jakarta,’’ katanya.

Dikatakannya pula, peredaran narkotika ini memang dikendalikan oleh mafia. Bahkan, ia mengibaratkan jangankan aparat, orang sipil pun mereka susupi. ‘’Jika ada yang dianggap menghalangi jalannya, mereka tak akan segan-segan menyingkirkan,’’ ucap Bambang.

Upaya mafia narkotika untuk mencengkramkan kukunya tak hanya melalui peredaran saja. Upaya ‘’membeli’’ aparat juga sudah merupakan cerita lama. Hal ini tak ditampik oleh Bambang.

‘’Bahkan BNNP sendiri juga sempat digoyang dari dalam untuk melemahkan upaya pemberantasan narkotika yang kita lakukan,’’ tuturnya.

Dengan kejadian adanya seorang anggota polisi yang nyaris tewas dianiaya karena diduga mengetahui bisnis narkotika seorang bandar sabu-sabu di Pekanbaru sudah dapat dikatakan berada pada kondisi kritis dalam melawan narkotika.

‘’Apalagi seorang anggota polisi saja mau dihabisi. Masyarakat bukan lagi perlu, namun sudah wajib khawatir. Peran serta masyarakat diperlukan di sini untuk membantu aparat dalam memberantas narkotika,’’ imbuhnya.

BNNP sendiri, kata Bambang, hingga saat ini terus melakukan tindakan preventif dan pencegahan peredaran narkotika. Mulai dari melakukan tes urine secara rutin di sekolah-sekolah, hingga pembentukan kader anti narkotika.

‘’Koordinasi dengan instansi terkait untuk memberantas peredaran narkotika, terutama dengan instansi aparat penegak hukum juga kita lakukan, kita berharap ini dapat menekan pengaruh narkotika dalam kehidupan masyarakat,’’ pungkasnya.

Seperti yang sudah diberitakan sebelumnya, aksi eksekusi dengan menggunakan cara ala mafia untuk menghabisi nyawa seseorang seperti di dalam film-film, terjadi di Pekanbaru Selasa (13/11).

Briptu Joko Bobianto, seorang anggota polisi yang bertugas di kesatuan Samapta Bhayangkara (Sabhara) Polresta Pekanbaru yang nyaris meregang nyawa setelah disiksa delapan orang.

Beruntung, ia yang dikira sudah tewas ternyata selamat dengan merangkak dan mencari perlindungan tak jauh dari masjid.

Tubuh Joko luka parah, sebuah lubang bekas tusukan senjata tajam bersarang di dada kanannya, dan pada tangan kanan terdapat sebuah luka sabetan.

Di bagian kakipun tak luput, ada bekas sayatan pisau cutter, bahkan bagian patahan pisau cutter masih tertinggal di paha korban saat akan dioperasi.

Peristiwa naas yang menimpa Joko berawal saat ia mengetahui keterlibatan JN, warga Jalan Pandawa, Kecamatan Marpoyan Damai dalam peredaran narkotika jenis sabu-sabu.

Dari informasi yang diketahui Joko, JN adalah seorang bandar. Informasi Joko atas aktivitas JN ini, terendus. JN yang tak mau bisnis haramnya diketahui mengatur siasat menghabisi Joko.

Joko ditemukan masyarakat Selasa (13/11) pagi sekitar pukul 07.00 WIB di Jalan Kubang Raya, tak jauh dari masjid Nurul Huda dalam keadaan pingsan. Pelaku penganiayaan Joko diketahui berjumlah 8 orang.

‘’Yaitu JN, bersama tiga oknum anggota polisi, dan empat oknum anggota TNI,’’ ujar Kapolresta Pekanbaru, Kombes Pol Drs R Adang Ginanjar, Selasa (13/11).

Apa yang menimpa Joko, memang terbilang sadis. Awal penganiayaan ini terjadi, Senin (12/11) sore sekitar pukul 17.30 WIB. Saat itu, Joko dijebak dengan diajak berjumpa oleh JN di rumahnya. Joko masih menggunakan pakaian dinas saat menemui JN.

Di rumah JN ini, Joko sudah mengalami penusukan. Siksaan yang dialami Joko berlanjut. Setelah dianiaya di rumah JN ini, Joko lalu dibawa ke lokasi lainnya, sebuah kolam di Jalan Kubang Raya menggunakan mobil Mitsubishi Grandis BM 423 IN milik JN.

Di lokasi kedua, siksaan tak kalah hebat kembali dialami Joko. Ia ditombak pada bagian dada kanan, ia disabet menggunakan samurai, dan ditusuk, pakaian dinasnya pun dilepas.

Diduga akibat siksaan berat ini, Joko tak sadarkan diri. Para pelaku menduga Joko sudah tak bernyawa lagi lalu membuangnya ke dalam kolam.

Untuk memastikan Joko tewas, pelaku menembakkan senjata ke arah kolam, sebelum akhirnya pelaku pergi. Joko yang sudah ditinggalkan pelaku ini, ternyata masih hidup. Dengan bersusah payah, ia merangkak keluar dari kolam tersebut dengan hanya mengenakan celana pendek dan mencari pertolongan.

Usahanya berhasil, ia terus merangkak ke semak-semak dekat Masjid Nurul Huda, yang tak jauh dari kolom sebelum akhirnya pingsan kembali. Di sinilah, ia ditemukan warga dan akhirnya diselamatkan.(fia)
KOMENTAR

Follow Us

Riau Pos Group
Support by: