Kondisi Terkini Perluasan Masjidil Haram, Makkah

Luas Masjid pun Hilang Sepertiga

30 Januari 2013 - 08.30 WIB > Dibaca 2007 kali Print | Komentar
Luas Masjid pun Hilang Sepertiga
Jamaah umrah tetap khusuk melaksanakan Tawaf meskipun saat ini bangunan di sekitar Masjidil Haram sedang proses pemugaran, Senin (28/1/2013). Foto: istimewa
Catatan M Nazir Fahmi, Pekanbaru

Masjidil Haram terus berbenah. Perluasan terus digesa. Siang malam alat berat bekerja tiada henti. Setelah hotel-hotel di sekitar Masjidil Haram dirobohkan, kini bagian dalam masjid juga dirombak. 

Begitulah situasi terkini seperti dituturkan Ibnu Masud, Ketua ASITA Riau yang lagi menunaikan ibadah umrah kepada Riau Pos.

Menurut Ibnu Masud, salah satu yang berkecamuk di pikiran saat akan berangkat umrah ke tanah suci sepuluh hari lalu adalah rasa penasaran seperti apa jadinya Masjidil Haram setelah dimulainya proyek perluasan area tawaf yang dicanangkan oleh Raja Abdullah setelah Ramadan tahun lalu. 

Walaupun hampir setiap hari televisi menyiarkan langsung aktifitas ibadah di Masjidil Haram dan bisa melihat wajah bagian dalam bangunan lantai dasar sampai lantai tiga mulai dari Safa ke Marwah berbelok sedikit ke arah pintu Babul Fattah, namun keinginan melihat langsung dari dekat tidak bisa ditahankan.

“Kebetulan saya dan jamaah memulai Tawaf setelah selesai salat Ashar setelah menempuh perjalanan lebih kurang lima jam dari Madinah. Tidak bisa dibayangkan sebelumnya, keindahan bangunan bata cokelat kemerahan dengan tiang khas Turki dari Babul Assafa sampai pintu Alfattah yang dulu menjadi saksi sejarah bahwa Turki Usmani pernah menguasai jazirah Arab termasuk kota Makkah kini tertutup habis oleh papan triplek yang dilapisi gambar bangunan lama. 

Di baliknya terdengar suara gemuruh alat-alat berat sedang bekerja mengancurkan lantai dan dinding beton,” kata pemilik Muhibbah Mulia Wisata Tour dan Travel ini.

Debu-debu, katanya, beterbangan seakan tidak mampu menahan putaran umat yang khusuk melaksanakan Tawaf. Lintasan yang menyempit hampir separo mulai dari Babul Assafa sampai Babul Alfattah tidak menjadikan iringan jamaah berdesakan.  

“Semua mengalir seperti air. Bayangan saya bahwa akan terjadi kemacetan dan saling dorong justru tidak terbukti. Padahal lintasan Tawaf di lantai dua dan tiga tidak ada lagi. Di kedua lantai itu kondisinya seperti jembatan putus,” jelasnya.

Akibatnya, kata Ibnu, semua jamaah yang melaksnakan Tawaf hanya di lantai dasar. Kondisi ini diramaikan juga oleh jamaah yang memakai korsi roda yang tidak lagi tertib mengambil lintasan bagian luar walaupun banyak petugas yang berdiri sigap mengarahkan mereka agar jangan terlalu mendekat ke bagian dekat Kakbah. Akibatnya banyak jamaah yang meringis kesakitan karena tumitnya ditabrak kursi roda. Bukan sekadar memar tapi juga ada yang terluka.

“Syukur dari awal saat turun ke lintasan Tawaf pertama jamaah saya arahkan agar ambil posisi mendekat ke arah Kakbah. Walaupun agak berdesakan namun kaki aman dari risiko luka karena ditabrak kursi roda,” jelasnya.

Menurut Ibnu, Tawaf akhirnya bisa diselesaikan lebih kurang 40 menit. Ketika akan memulai Sai jamaah tidak lagi masuk ke Bukit Saffa melalui Babul Assafa yang ditepinya ada lampu hijau. Jamaah harus memutar terlebih dahulu kira-kira dekat Babul Alfattah. 

Kata Ibnu, saat ini juga dibuat jalur khusus menuju lintasan Sai, setelah itu baru menuju Bukit Saffa. Tentunya jalur ini membuat jarak perjalanan Sai menjadi bertambah jauh. “Syukur saya umrah di awal musim sehingga jumlah jamaah tidak terlalu ramai. Walaupun negara-negara Teluk sedang libur tapi belumlah berdesakan seperti Ramadan dan musim haji,” ujarnya.

Biasanya di awal musim seperti ini, ungkap Ibnu, tempat sai boleh dikatakan sepi. Karena jamaah terbagi juga ke lantai dua dan lantai bawah. Namun karena adanya proyek ini yang bisa dipakai hanya lantai dasar. Seperti musim haji saja, komentar salah satu jamaah saat berdesakan mendaki Bukit Saffa.

Menurut Ibnu lagi, ada yang baru di lintasan Sai ini. Dimana lampu hijau tidak lagi melintang lintasan. Tapi dibuat memanjang sepanjang batasan dimana jamaah laki-laki yang bersai berlari-lari kecil. Indah sekali warnanya dan sangat membantu bagi jamaah untuk memulai lari-lari kecil dan bisa berhenti di batas yang jelas.

Tahun lalu, di tanah air sempat beredar isu bahwa tidak ada visa umrah untuk tahun 2013. Artinya pemerintah Saudi Arabia tidak akan mengeluarkan visa untuk kaum Muslimin di seluruh dunia yang ingin melaksanakan ibadah umrah ke Tanah Suci. Ini berkaitan adanya proyek perluasan area Tawaf dan pembongkaran bangunan Masjidil Haram. Direncanakan pekerjaan pembongkaran dan pembangunan ditargetkan selama 6 bulan.

Untuk daerah tempat asal jamaah umrah yang cukup ramai seperti Jawa Timur, Kalsel dan Sulsel isu ini sempat menimbulkan kegelisahan. Bisa jadi keinginan untuk menggapai Baitullah bakal gagal.

“Syukur setelah di bulan Syawal Mentri Haji Kerajaan Saudi memberikan penjelasan bahwa visa umrah tetap akan dikeluarkan seperti tahun tahun sebelumnya. Keputusan ini tidak hanya membuat lega kaum Muslimin di seluruh dunia, tapi juga para pengusaha travel, hotel, transportasi serta seluruh sektor ekonomi yang selama ini menikmati multiplier effect dari ke agungan dua kota suci Makkah dan Madinah,” kata Ibnu Masud lagi.

Akibatnya sudah bisa dibayangkan, dua kota suci ini mulai dipadati jamaah umrah. Kepadatan sangat terasa di Masjidil Haram. Apalagi awal Januari adalah libur sekolah di negara Teluk. Lengkaplah sudah. Semua hotel bintang lima penuh. Harga hotel tidak ada standar yang pasti. 

Yang berlaku adalah hukum ekonomi. Harga tinggi dikarenakan permintaan banyak. Hotel bintang lima seperti Zamzam Tower, Hilton, Dar Attauhid, Sofwah Orchid, Royal Dar Eman, tahun lalu harga awal musimnya rata-rata 550 rial sampai 700 rial per kamar per hari, sekarang jadi tidak beraturan.   

Rata-rata harga di atas 1.000 rial atau paling kurang Rp2.700.000 per kamar sehari. Semua kamar diborong oleh para broker hotel yang ingin memanfaatkan keterbatasan jumlah kamar hotel dikarenakan sudah banyaknya hotel-hotel yang dirubuhkan

Pesanan kamar yang sudah dalam status pembayaran deposit bisa jadi digantikan oleh orang-orang kaya Negara Teluk yang mau memmbayar lebih asal mendapatkan kamar hotel yang dekat dengan Masjidil Haram.

Hal sama juga terjadi dengan hotel-hotel bintang tiga dan empat. Kenaikan harga tidak bisa diprediksi. Tergantung nego dengan para calo yang sudah memborong kamar-kamar. Jarak pun tidak bisa lagi dekat seperti tahun lalu. Paling dekat 300 meter tapi itupun harganya sudah mendekati harga hotel bintang lima.

Lengkap sudah ujian bagi umat yang akan melampiaskan kerinduan ke Baitullah. Kadang muncul juga godaan. Kalau bukan karenamu Tidak akan kuat hambamu ke sini. Tapi kenyataan justru sebaliknya. 

Wajah-wajah tanpa lelah dengan penuh semangat bergerak di celah kendaraan di daerah Misfalah pergi dan pulang menuju Haram. Debu dan angin tidak jadi halangan.*** 
KOMENTAR

Follow Us

Riau Pos Group
Support by: