Depan >> Berita >> Feature >>

Klewang, ”Mbah’’ Geng Motor Pekanbaru Akhirnya Dikerangkeng

Kendalikan 300 Orang, Tiduri Anggota Baru Perempuan

11 Mai 2013 - 08.47 WIB > Dibaca 9207 kali Print | Komentar
Kendalikan 300 Orang, Tiduri Anggota Baru Perempuan
Mardiryanto alias Klewang. Foto: Mirshal/riau pos
Namanya Mardiryanto atau lebih dikenal di dunia geng motor Kota Pekanbaru dengan panggilan Klewang. Siapa sangka, di usianya yang tidak muda lagi, 58 tahun, ia menjadi dedengkot geng motor dan diduga mengotaki sejumlah aksi kejahatan. Pengorganisasian pun mirip mafia, tertutup, sadis dan cabul.
----------------------------
Laporan M ALI NURMAN, Pekanbaru

----------------------------

RAMBUTNYA sudah memutih. Sorot matanya tajam. Di tubuhnya yang legam, tak terhitung jumlah sabetan senjata tajam menggores. Berbagai gambar tato juga tercetak, mulai dari dada, tangan hingga kaki.

Itulah secuil gambaran fisik Klewang, dedengkot, ‘’mbah’’ geng motor yang diduga ‘’merestui’’ berbagai aksi kejahatan geng motor di sekitar Stadion Utama Riau yang marak belakangan ini. Klewang mengakhiri pelariannya sebagai buronan polisi setelah dibekuk jajaran Polsek Tampan, Kamis (9/5) petang sekitar pukul 14.30 WIB, di salah satu bedeng di kawasan Stadion Utama Riau bersama dua tersangka lainnya Fi (18) dan Ar (17). Keduanya anggota geng motor XTC. Riau Pos sempat mewawancarainya, Jumat (10/5), bersama Fi dan Ar di Polresta Pekanbaru. Beberapa fakta ia akui, banyak pula yang dibantahnya. Namun, bantahan itu runtuh dengan pengakuan Fi dan Ar.

Kisah hidup Klewang di Pekanbaru dimulai sekitar 1960-an. Saat itu, Klewang yang lahir di Jawa dibawa orangtuanya mengikuti sang ayah, seorang anggota Brimob. Beranjak dewasa, ia pun mulai berulah. Tahun 1970, Klewang pertama kali masuk penjara. Meski lupa siapa yang menangkap, ia masih ingat bahwa saat itu bertepatan dengan pensiun sang ayah.

‘’Dua tahun sesudahnya ayah saya meninggal,’’ ucap Klewang.

Sejak saat itu, hingga 2012, sudah terhitung tiga kali ia dibui, mulai dari kasus perkelahian hingga pencurian. ‘’Terakhir 2012 ditangkap Polsek Limapuluh,’’ imbuhnya.

Terkait geng motor, ia membantah menjadi dedengkot. Kesalahan dijatuhkannya pada anaknya sendiri, Bambang. Bambang adalah ketua geng motor XTC saat melakukan penyerangan ke Mapolresta Pekanbaru setahun silam. ‘’Yang membentuk, anak saya dua tahun lalu. Saya cuma bantu saja,’’ katanya.

Mengenai aksi-aksi geng motor, ia berkeras membantah terlibat maupun ikut serta. Yang diakui Klewang hanyalah aksi pengrusakan warnet di Jalan M Ali. ‘’Yang lain saya tak tahu. Saya tidak ikut,’’ ucapnya.

Bantahan-bantahan yang diberikannya terkesan sengaja menutupi untuk lari dari tanggung jawab. Beberapa jawabannya saat diperdalam, dijawab dengan pura-pura bodoh. Misalnya, ia mengaku dendam dengan geng motor yang berada di kawasan kota karena pernah dibacok pada September 2012. Ia kenal pelaku sebagai anak geng motor Astec. Namun, saat ditanya bagaimana ia bisa tahu itu adalah anggota geng motor, ia hanya diam.

Lain pengakuan Klewang, lain pula apa yang dungkapkan Fi dan Ar. Bagi mereka, Klewang adalah hantu. Mitos yang mengelilinginya memberikan aura menakutkan, meski mereka baru bertemu sepekan. Mereka wajar merasa ngeri, cerita yang mengelilingi Klewang tak main-main. ‘’Kabarnya ia kebal. Ceritanya juga ia mantan tentara,’’ ujar Fi yang duduk tak jauh dari Klewang.

Sebelum ditangkap oleh polisi, Fi melihat Klewang dengan kepatuhan penuh. Perintah Klewang adalah keharusan yang tak terbantahkan, apapun risikonya. ‘’Dia sering bilang, kalau sama polisi takut, tapi kalau sama geng motor lain sampai matipun dia mau berkelahi,’’ kata Fi lagi.

Remaja yang baru dua bulan bergabung dengan XTC, geng motor yang berada di bawah kuasa Klewang ini berujar, ia ikut bergabung karena takut menjadi korban. Karena kawasan Stadion Utama Riau adalah kawasan geng ini. ‘’Dari pada jadi korban, lebih baik ikut,’’ ujarnya.

Setelah bergabung, ia baru tahu bahwa kelompok geng motor bukanlah kerumunan yang sederhana. Di XTC, ada sekitar lima orang panglima, sebutan bagi pimpinan-pimpinan di bawah Klewang. Panglima memiliki kekuasaan yang mengerikan, paling tidak jika berkelahi dengan geng motor lain, panglima yang akan maju. ‘’Mereka ini semuanya bawa samurai,’’ ungkapnya.
Kerusuhan yang dilakukan oleh geng motor, kata Fi lagi, harus mendapat restu dari Klewang, apapun itu bentuknya. ‘’Harus lapor dulu,’’ katanya.

Bahkan saat Klewang lari ke Jawa setelah ditetapkan sebagai DPO kasus pengrusakan warnet Jalan M Ali, para panglimanya tetap melapor melalui sambungan telepon. Fi sendiri mengaku, ia ikut dalam rusuh di Jalan Durian dan persimpangan Mal SKA. ‘’Itu atas perintah dia,’’ sambungnya.

Aksi bejat dan onar geng motor di bawah Klewang tak berhenti pada merusuh, berkelahi dan merusak saja. Yang membuat geleng-geleng kepala adalah, jika yang ingin masuk ke dalam geng motor itu perempuan, maka ada syarat khusus yang harus dilakoni, ditiduri oleh Klewang. ‘’Ada lebih dari sepuluh yang sudah ditidurinya,’’ terang Fi.

Salah satunya, kata Fi adalah seorang cewek dengan inisial E. Ia melihat Klewang menyetubuhi gadis ini di areal Stadiun Utama Riau.

‘’Selain di sana, di belakang bedeng juga ada,’’ tambahnya. Bahkan dituturkan Fi lagi, dalam pekan lalu, tiga panglima XTC juga melakukan pemerkosaan di kawasan Stadion Utama Riau itu. ‘’Tiga panglimanya ikut,’’ imbuhnya.

Dalam kelompok geng motor, dipaparkan Fi, kerahasiaan adalah suatu yang tak dapat ditawar. Saat ia pertama masuk, wejangan yang diterima adalah, jaga mulut terhadap orang di luar geng. ‘’Dia bilang, kau bisa jaga mulut kau kan? Jangan kibus-kibus. Kalau kena tangkap polisi sendiri-sendiri. Jangan dikasih tahu ketuanya siapa,’’ kata Fi menirukan ucapan Klewang.

Di Pekanbaru, peta mayoritas geng motor paling tidak dapat dibagi menjadi dua kubu, Panam dan Kota. Kubu Panam terdiri atas geng motor; XTC, Laser, Sinchan, Keparat, BMR (Benteng Merah), B2R (Black Baron), dan Atit Abang. Nama yang disebut terakhir adalah geng motor yang mayoritas berisi perempuan, mereka berafiliasi dengan XTC.

Sementara untuk kubu kota, geng motor yang sering berulah adalah Ghost Night, L2N (Lajang Lajang Nekat), Astec, dan Opsi. Di antara kedua kubu inilah yang sering terjadi keributan. Untuk memenuhi keperluan mereka, setiap anggota geng dikutip iuran wajib. Fi menuturkan, ia dikutip Rp5 ribu per pekannya untuk operasional XTC. Uang ini dikumpulkan pada bendahara, yang nantinya akan diserahkan ke Klewang. ‘’Sekarang XTC ada 300 orang anggota,’’ terang Fi.

Selain mengumpulkan iuran, diakui Fi pula mereka terkadang menyerang warnet dan mengambil uang yang ada. ‘’Saya ikut di Jalan Kelapa Sawit. Di sana kami ambil uang Rp165 ribu,’’ sambungnya.

Terkait tiga orang anggota geng motor, termasuk Klewang di dalamnya, Kapolresta Pekanbaru Kombes Pol Drs R Adang Ginanjar kepada Riau Pos melalui Kasat Reskrim Kompol Arief Fajar Satria SH SIK MH mengatakan, mereka dikenai pasal berlapis. ‘’Dari 50-an lokasi kejahatan yang diakui, Klewang terlibat di lima lokasi,’’ jelas Arief.

Atas perbuatannya ini, Arief menambahkan, Klewang akan dikenakan pasal 170 KUHP juncto 365 KUHP. ‘’Kita masih kembangkan, jaringan yang terkait dengan tiga tersangka ini masih kita buru,’’ paparnya.(hpz)
KOMENTAR
Riau Pos Group
Support by: