Depan >> Berita >> Feature >>

Menelusuri Lokasi Prostitusi di Geylang, Singapura

Tarif Kencan PSK Indonesia 30 Dolar Singapura per 30 Menit

28 Mai 2013 - 01.08 WIB > Dibaca 14331 kali Print | Komentar
Tarif Kencan PSK Indonesia 30 Dolar Singapura per 30 Menit
f/timeoutsingapure/ist/int
Gadis DP yang masih berusia 17 tahun, hanyalah satu dari sekian banyak wanita yang bekerja di kawasan pelacuran Geylang, Singapura. Atas campur tangan Linda atau yang biasa disapa Bunda Cece-lah DP bisa “berkarya” di Geylang. Bunda Cece yang kini tengah menjalani sidang di Pengadilan Negeri Batam karena dugaan kasus perdagangan manusia, terancam hukuman maksimal 15 tahun jika nanti terbukti memperdagangkan DP.

Laporan Rozi Juhendra, Geylang

SEBERAPA menggiurkan komersialisasi seks di Geylang? Kisah DP di Geylang bisa menjadi gambaran bagaimana sebenarnya kehidupan wanita penjaja cinta di Negeri Singa itu. Dengan “hutang” yang ditanggung DP dari hitung-hitungan biaya yang dikeluarkan Bunda Cece untuk menguruskan segala keperluan administrasi DP – termasuk paspor – DP dipaksa kerja keras di Geylang.

Setiap hari, DP “bekerja” dua shift. Shift pertama dimulai sekitar pukul sembilan pagi hingga pukul tujuh malam. Shift kedua dimulai sejak pukul 11 malam hingga dua dinihari. Kawasan Geylang sendiri memungkinkan seorang pekerja seks bekerja nonstop jika ia mau. Geylang tidak seperti kawasan pelacuran semisal belakang Mourning Bakery, Jodoh. Tapi kawasan Geylang adalah kawasan bisnis yang sibuk yang di dalamnya banyak aktivitas lain seperti perdagangan umum, restoran-restoran, hingga hotel-hotel murah. Kesibukan di Geylang berjalan sejak pagi hingga dinihari.

Ruko-ruko tua di Geylang, menjadi pemandangan yang menarik bagi sebagian turis mancanegara. Banyaknya restoran atau tempat makan yang lezat, menjadikan Geylang tempat makan favorit bagi sebagian warga Singapura.

Hotel-hotel murah juga menjadi daya tarik turis mancanegara, terutama turis asal Indonesia yang ingin menghemat biaya menginap. Dari Geylang pun, seorang mudah pergi ke mana-mana. Baik dengan MRT, bus, maupun dengan taksi. Dari Changi Airport pun hanya sekali naik MRT sekitar 20 menit untuk bisa sampai di Geylang.

Pekerja seks seperti DP bisa beroperasi di sela-sela aktifitas bisnis Geylang. Pagi atau siang mereka bisa duduk-duduk di depan ruko atau tempat makan di mana biasa papi mereka beroperasi. Berbaur dengan banyak orang yang bekerja atau sekedar main di Geylang. Jika ada pria hidung belang terjaring, mereka tinggal masuk ke salah satu hotel atau bar untuk berasyik-masyuk. Siang maupun malam.

Jika malam hari, biasanya seorang pekerja seks lebih punya kebebasan untuk menjajakan diri. Banyaknya lorong-lorong di sepanjang jalan raya Geylang, dimanfaatkan mereka untuk menjari pria hidung belang.

Tarifnya pun beragam. Seorang pekerja seks seperti DP, dihargai 30 dolar Singapura atau sekitar Rp230 ribu (kurs Rp7800 per dolar) untuk waktu 30 menit. Harga yang “sangat terjangkau” untuk kantong orang Singapura. Tapi penghasilan besar DP, masih harus dipotong untuk membayar hutang, biaya sewa tempat tinggal, biaya makan, dls.

Jika dibandingkan dengan di Batam, penghasilan menjual diri di Singapura memang jauh lebih menggiurkan. Hal inilah yang kemudian membuat banyak wanita seperti DP tergiur ingin menjual diri ke Singapura. Meski resikonya juga sangat besar. Selain resiko ditangkap, diadili, hingga didenda oleh aparat keamanan di Singapura, resiko lainnya yang tak kalah besarnya adalah kemungkinan perlakuan kasar dari pria-pria di sana. Minimnya kemampuan berbahasa Inggris PSK asal Indonesia, kerap menjadi awal kesalahpahaman dengan pria yang menyewa mereka. Inilah yang kerap menimbulkan kekerasan, hingga penganiayaan.

Tarif Murah Prostitusi Batam
Di Batam sendiri, ratusan perempuan senasib dengan DP menjamur di kawasan prostiusi terselubung di berbagai tempat. Di antaranya: kawasan simpang BCA Jodoh dan Pelita. Di dua kawasan ini, jadi tempat favorit para pria hidung belang. Bahkan PSK yang bersileweran di kawasan Morning Bakery dan BCA Jodoh, bisa diboking dengan tarif di bawah Rp50 ribu. Setelah harga sepakat, kencan kilat pun dilakukan di bilik-bilik sederhana dengan sewa yang juga murah meriah.

Di berbagai lokasi lainnya, seperti Bukitsenyum, juga bersileweran para perempuan ‘pemikat’ cinta sesaat pria hidung belang. Dengan perantara seorang teman, wartawan koran ini menelusuri aktifitas perempuan penjaja seks sesaat itu – yang katanya bisa diboking dengan harga murah. “Mau keroyokan, ayuk.., tarifnya tak jauh beda dengan diboking satu orang,” begitu kelakar Ricky-sebut saja begitu, pria yang menjadi perantara POSMETRO dengan seorang PSK..

Perlu diketahui, Ricky merupakan tipekal pria yang tak ingin terkekang status perkawinan. Hidupnya yang ingin melanglang buana, membuatnya bebas mencicipi gemerlap kehidupan malam. Di suatu tempat, di kawasan Pelita, Ricky mencoba menghubungi perempuan yang sudah jadi langganannya itu.

Hanya menunggu tak lebih dari setengah jam, perempuan yang dimaksud pun menghampiri.

Nadia, begitu perempuan ini memperkenalkan diri. Tapi, jangan begitu saja percaya dengan nama itu. Sudah menjadi kebiasaan, perempuan seperti DP dan Nadia memiliki banyak nama alias. Usianya, tak lebih dari 25 tahun. “Sepi nih,” keluhnya merengek ke arah Ricky. “Bisa sekaligus dua nggak?” Ricky mencoba menggoda Nadia. Dari bahasa tubuhnya, Nadia seakan tak keberatan. Lekas saya menolak dengan alasan sedang tidak bergairah.

POSMETRO mencoba mengorek informasi dari perempuan berpakaian serba minim ini. Ia menyebut, jika sebelum pukul 12.00 malam, perempuan seperti dia bisa membanderol diri dengan tarif Rp100 hingga Rp250 ribu untuk kencan kilat. Tentu saja tergantung kemolekan yang dimiliki teman-temannya. Tapi, jika menjelang dinihari, harga tersebut bisa turun drastis. Dengan alasan, mereka harus menutupi biaya hidup harian.

Dengan alasan sepinya tamu, murahnya tarif boking dan merasa masih punya kemolekan, tak dipungkiri, perempuan-perempuan seperti Nadia ingin mengadu diri ke negeri seberang. Hanya saja, ancaman jeratan hutang, mengharuskan para perempuan penjaja seks ini mencoba bertahan di Batam.

Sebab, kata Nadia, tak mudah mencempungkan diri ke dunia prostitusi di negeri tetangga secara individual. “Harus ada yang bawa,” katanya.

Nah, apa jadinya kalau seandainya usul Ricky Solihin, seorang anggota DPRD Kota Batam untuk mengenakan pajak 10 persen terhadap para pekerja seks ini teralisasi? Lantas apa peranan Pemerintah Kota Batam dalam memerangi praktek prostitusi itu? Sebab, kebanyakan dari mereka mengaku berkubang dengan dunia kelam itu lantaran tak ada lagi pilihan. Lapangan pekerjaan sudah sangat menyempit. Dalam berbagai kesempatan terkait lapangan pekerjaan, Walikota Batam Ahmad Dahlan menyebut, Batam masih menjanjikan bagi calon pekerja yang memiliki skill dan pendidikan.(chi/pmb/rpg)

KOMENTAR
Riau Pos Group
Support by: