Depan >> Berita >> Feature >>

Menilik Geliat Dunia Malam di Bangkok, Thailand

Panggung Live Seks Jadi Destinasi Wajib Wisatawan

4 Juni 2013 - 00.10 WIB > Dibaca 1986 kali Print | Komentar
Panggung Live Seks Jadi Destinasi Wajib Wisatawan
bule Rusia
SENSASI dunia malam Thailand, memang tak pernah habis menjadi bahan cerita dan berita. Pingpong, adalah salah satu kawasan prostitusi yang namanya telah mendunia bahkan menjadi magnet tersendiri di kalangan turis berbagai negara. Letaknya tepat berada di jantung kota Bangkok, Thailand. Bagi sebagian turis, tak lengkap rasanya jika berkunjung ke Negeri Gajah Putih tanpa menikmati hiburan sex yang "disiarkan langsung" di depan mata.

-------------------------------------------------------------
LAPORAN AFNI ZULKIFLI, Bangkok
----------------------------------------------------

Jam menunjukan pukul 21.00 waktu Bangkok. Kehidupan malam Ibukota Thailand ini, perlahan mulai menggeliat. Pusat kota yang ramai dengan pasar-pasar tradisional kaki lima mulai tutup. Berganti dengan penjaja berbagai souvenir dan makanan. Mereka bertransaksi dengan bahasa seadanya melayani para turis di pinggir-pinggir jalan.

Ketika bertanya tentang Pingpong Show, Tune, 48 supir taksi yang ditemui JPNN, Minggu (3/6) malam, tampak begitu bersemangat. Dengan bahasa Inggris terbata-bata bercampur bahasa Thai, Tune menjelaskan Pingpong adalah salah satu hiburan malam terkenal di Bangkok. Tune pun bersedia mengantar ke lokasi prostitusi itu. "Kalau berkunjung ke Bangkok, wisatawan wajib berkunjung melihat live sex," kata Tune lantas terkekeh.

Hanya butuh waktu 15 menit naik taksi dari pusat kawasan Watergate Pavillion menuju lokasi Pingpong show. Meski tak jauh dari jantung Ibukota negara, lokasi hiburan ini ternyata berada di rumah toko (ruko) dan terkesan kumuh. Jalan ke lokasi pun bahkan tidak diaspal mulus.

Namun bukti lokasi ini mendunia sebagai tempat prostitusi, mulai terlihat dari banyaknya para turis yang keluar masuk dari ruko sederhana itu. Ada yang datang dengan pasangan, rekan dan ada juga yang datang dengan berombongan.

Diantara temaramnya cahaya lampu, tanpa ada loket khusus, dua orang penjaga berpakaian ala kadarnya menyambut para turis yang baru datang. Tiket yang ditawarkan sangat sederhana dari kertas kecil berwarna pink. "700 bath, 15 menit. Live Sex, banana show," ujar pria itu sambil sedikit memperagakan hiburan live sex lewat gerakan tubuhnya.

Begitu transaksi tiket selesai, pengunjung langsung diarahkan ke satu pintu yang sengaja terbuka lebar dan hanya dibatasi dengan kain seadanya. Begitu masuk, suara house musik langsung menyambut pengunjung. Lampu ruangan yang luasnya hanya sekitar satu lapangan futsal itu sengaja dimatikan.

Tapi tunggu dulu, sebelum masuk ke ruangan utama pertunjukan, para tamu selalu diingatkan untuk tidak mengeluarkan kamera, atau sejenisnya yang bisa digunakan untuk mengambil gambar. Bahkan, handphone pun jadi barang yang haram untuk digunakan di dalam.

Dan jangan coba-coba, puluhan laki-laki yang tugasnya mengamankan jalannya hiburan itu terus berkeliling dan matanya memantau, barangkali ada tamu yang nakal.

Padahal, di dalam ruang pertunjukan ada cahaya lampu, yang sengaja diarahkan ke sebuah meja besar. Nah, di meja bundar jumbo itulah para perempuan-perempuan sexy menunjukkan aksinya. Diantara sisi-sisi meja itu dipasang tiang-tiang besi. Para pengunjung sudah disediakan kursi mengeliling panggung utama itu.

Puluhan wanita penghibur secara bergantian tampil di atas meja. Tanpa seutas benang di tubuhnya, mereka meliuk-liuk membawakan berbagai tarian erotis berbagai gaya. Dari yang awalnya bermain-main cahaya dengan tubuh seksi, mereka mulai menunjukkan "keperkasaannya".

Beberapa aksi yang membuat para pengunjung yang kebanyakan wisawatan mancanegara menelan ludah adalah kepiawaian mereka memainkan (maaf) alat kelaminnya. Diantaranya memainkannya dengan pisang hingga buah itu bisa terbang ke sana kemari. Tak hanya itu, yang paling mencengangkan, mereka bisa membuka tutup botol minuman bersoda dengan menggunakan bagian kewanitaannya.

Nah, yang paling ditunggu-tunggu para turis adalah aksi di akhir pertunjukan. Tanpa ada rasa canggung, mereka "berhubungan" alias live sex di depan ratusan pasang mata.

"Semua yang tersajikan di sini, hanya sebatas hiburan. Pengunjung yang datang juga hanya kalangan turis. Kami menolak anak-anak untuk masuk kawasan ini," ujar Mei, 32 seorang wanita penghibur saat berbincang dengan JPNN.

Mei sudah melakoni kehidupan malam Pingpong show sejak 7 tahun lalu. Ia mengatakan, sudah bertemu dengan hampir semua turis dari berbagai negara di dunia.

"Kami menyukai turis dari Asia daripada Eropa. Karena turis Eropa pelit-pelit memberi tip," kata Mei enteng sambil menikmati minumnya.

Mei dan kawan-kawannya memang sengaja berkeliling di antara para turis yang datang menonton Pingpong show. Dengan pakaian seksi, mereka menggoda para turis untuk membeli minuman dan memberi tip dengan menyelipkan helaian Bath (mata uang Thailand,red) diantara pakaian dalam mereka.

"Setiap tahun jumlah turis yang datang semakin banyak. Semuanya hanya sebatas hiburan dan bukan untuk seks dalam arti sesungguhnya. Kami tidak akan mau diajak keluar dari lokasi ini," terang Mei.

Tapi perkataan Mei belum tentu benarnya. Karena Thailand, mungkin menjadi satu-satunya negara di dunia yang memasukan pelayanan seks komersial dalam daftar wisata mereka. Pemerintah Thailand hanya melarang turis berhubungan seks dengan PSK yang berusia di bawah 18 tahun.

Karena tingkat ekonomi masyarakatnya yang masih rendah, maka tak heran bila kebijakan pemerintah Thailand dalam hal seks bebas, telah menjadikan wisata hiburan malam di negara berpenduduk 65 juta jiwa lebih ini, dalam beberapa tahun terakhir menjamur subur.

Berbeda dengan Indonesia, praktek prostitusi yang menyebar di Thailand, tidak perlu dikhawatirkan akan digerebek aparat. Wisata seks bahkan disebut menjadi salah satu pemasok devisa terbesar bagi negara penganut sistem kerajaan ini.

Namun tentunya bagi turis tetap diminta berhati-hati. Selain terkenal dengan wisata seks bebasnya, Thailand juga dikenal sebagai salah satu negara tertinggi penyebaran HIV AIDS di dunia. Bahkan saat ini sudah banyak muncul suara-suara dari LSM di Thailand, yang meminta pemerintah Thailand mengambil sikap yang tegas terhadap praktek prostitusi, mengingat banyaknya korban jiwa akibat kebijakan seks bebas yang menjadi wisata negara ini. Pilih mana, devisa negara atau nyawa?(*)
Berita Terkait
KOMENTAR

Follow Us

Riau Pos Group
Support by: