Depan >> Berita >> Feature >>

Radja Nainggolan: Usia 5 Tahun Saya Ditinggal Ayah

23 Juni 2013 - 13.27 WIB > Dibaca 1650 kali Print | Komentar
DUA hari menginjakkan kaki di Medan, pesepakbola asal klub Seri A Italia, Cagliari, Radja Nainggolan punya hal-hal menarik yang akan tersimpan di memorinya.

Di kota yang merupakan kampung halaman ayahnya, Marianus Nainggolan,  Radja tak mau menyia-nyiakannya dengan mengunjungi tempat-tempat bersejarah, menikmati kuliner, maupun bertemu sapa dengan para fansnya.

Di Lobi Hotel, JW Marriot, Sabtu (22/6) kemarin, Radja berkisah mulai dari pengalaman di Medan, hubungan dengan ayah dan marga Nainggolan serta kelanjutan karirnya. Berikut wawancaranya dengan wartawan Sumut Pos (Riau Pos Group), Doni Hermawan.

Di Medan sedang tidak ada kegiatan resmi. Apa yang membuat Anda mau berkunjung ke kota ini?
Saya ingin ke Medan untuk kenal dengan orang-orang di kampung halaman ayah dan asal usul nama saya Nainggolan. Saya ingin tahu budaya di sini terutama Batak. Sebenarnya ingin ke Samosir tapi tidak sempat. Kapan-kapan saya akan pergi ke sana.

Lalu apa arti nama Nainggolan itu bagi Anda?
Saya sudah biasa mendapat pertanyaan soal nama itu di Eropa. Saya selalu jawab ayah saya orang Indonesia dan saya tidak tahu kalau ditanya lebih jauh. Sebelumnya memang saya anggap marga Nainggolan itu biasa saja. Tapi setelah di Indonesia dan di Medan saya merasa ada keterikatan.

Sebenarnya seperti apa hubungan Anda dengan ayah?
Saya tidak begitu dekat dengan dia karena di usia 5 tahun saya sudah ditinggal Ayah saya. Saat saya berusia 17 atau 18 tahun dan bermain di Italia, ayah saya baru menelpon dan menemui saya. Di Jakarta kami juga berjumpa dua kali.

Kemarin sudah berkunjung ke Istana Maimun dan Rumah Tjong A Fie, ada pengalaman menarik selama di Medan?
Saya excited, ternyata cukup banyak orang yang kenal saya di sini. Di Eropa saya memang banyak fans terutama di Cagliari. Tapi enggak menyangka kalau di sini juga banyak. Waktu di Istana Maimun saya mau beli baju buat anak saya. Harganya Rp30 ribu. Dia beri diskon Rp5 ribu. Itu sedikit (murah, Red) sekali karena di Belgia hanya bernilai beberapa sen.

Ada lagi yang kamu anggap aneh atau hal lucu di kota ini?
Becak itu, saya takut untuk menaikinya. Karena saya lihat setiap bagian di situ seperti rusak. Saya tidak mau naik.

Berbicara Medan tentu saja tak lengkap tanpa membicarakan kuliner. Apa sudah coba durian?
Durian saya belum coba. Tapi ada minuman berwarna putih dan saya coba itu. Berbeda dari jus apel, jus jeruk. Saya coba dan langsung suka. Saya pikir itu enak. Saya juga sudah coba nasi goreng dan gado-gado, seperti Indonesian salad.

Apakah minuman itu tuak?
Minuman itu tidak berakohol. (belakangan diketahui minuman yang dimaksud adalah jus sirsak). Tuak (setelah dijelaskan promotornya, Wide) mungkin saya akan coba sedikit, karena saya suka mencoba hal yang baru.

Kamu punya banyak tato di lengan. Apa arti tato-tato itu bagi kamu? Apakah ingin membuat tato di Medan?
Mungkin tidak spesifik Medan tapi tentang Indonesia secara keseluruhan saya ingin tambah gambar di lengan saya. Nanti di Italia dengan langganan saya. Ini bukan tentang favorit, tapi di punggung ada gambar Malaikat, tanggal lahir dan tanggal meninggal Ibu saya dua tahun lalu.

Bicara kelanjutan karir, apa kamu sudah pikirkan bermain di klub mana musim depan? Atau tetap bertahan di Cagliari?
Saya belum bisa bicara banyak soal itu. Lagipula jendela transfer masih tertutup. Tapi saya masih pemain Cagliari. Tergantung visi klub ke depan. Kalau misalnya, Cagliari menawarkan sebuah konsep yang bagus untuk berkembang ke depan, tentu saya akan bertahan di Cagliari. Belum pasti dan yang pasti saya akan pikirkan karir saya ke depan.

Sudah ada beberapa klub yang mengajukan tawaran seperti Inter, Juventus dan lain-lain. Mana yang kamu anggap paling serius?
Sebenarnya sampai saat ini, Southampton (Liga Inggris) yang memberi tawaran tertinggi dari klub lain. Tapi saya tidak pikirkan itu. Saya bermain bola bukan hanya untuk cari uang. Tapi karir. Jadi jika berbicara peluang, Southampton yang akan menjadi pilihan terakhir dari banyak tawaran.

Kamu belum punya banyak kesempatan bermain di Timnas Belgia. Apa yang menurut kamu masih kurang?
Mereka kurang perhatikan pemain yang bermain di Italia. Mereka bilang kirim pemandu bakat ke Italia tapi mereka lebih pantau yang main di Liga Inggris atau Spanyol.

Kalau klub favorit dan pemain favorit?
Saya tidak bisa sebutkan satu klub. Saya pikir atmosfernya hampir sama di Inggris, Italia atau Spanyol. Sulit menentukannya. Tapi di Spanyol saya suka Barcelona. Mereka punya permainan yang baik dan orang tidak akan melewatkan Barcelona bemain. Dan untuk pemain, mungkin tidak yang satu posisi dengan saya. Saya lihat Messi adalah pemain yang selalu membuat perbedaan untuk klubnya.

Apa kamu ingin bermain bersamanya?
Tentu saja. Setiap pemain bola di dunia juga ingin merasakan untuk bermain bersamanya.

Apa yang kamu simpulkan dari sepak bola Indonesia?
Sebenarnya ada beberapa pemain yang bagus. Tapi mereka bermain dengan berlari saja. Tidak ada visinya dan tidak disiplin dengan posisinya masing-masing. Bermain bola harus disiplin, jika itu bisa, maka sepakbola Indonesia bisa lebih bagus. (don)
KOMENTAR

Follow Us

Riau Pos Group
Support by: