PEKANBARU (RP) - Setelah terjadi bentrokan dan beberapa kali kejadian naas yang berujung dengan pembakaran alat berat dan pembunuhan operator di Pulau Padang, Pemerintah Kabupaten Meranti merasa tidak pernah tahu apa yang diinginkan oleh masyarakat Pulau Meranti khususnya Desa Lukit dan beberapa desa lainnya.
Pemerintah pernah menawarkan berbagai solusi, namun aksi dari masyarakat semakin menjadi-jadi bahkan sampai aksi menjahit mulut dilakukan ke Jakarta.
‘’Kita tidak pernah tahu apa yang diinginkan masyarakat Pulau Padang, beberapa kali kita hearing dan kita tawarkan solusi, namun mereka tetap meminta RAPP angkat kaki dari Pulau Padang. Inikan bukan penyelesaian masalah,’’ kata Asisten I Pemerintahan Kabupaten Meranti, Nur Iman dalam acara seminar bertema Ketidakpastian Kawasan Hutan berdampak pada perambahan liar dan maraknya praktek kekerasan yang merusak iklim investasi di Pulau Padang yang dilaksanakan di Hotel Premier Pekanbaru, Jumat (27/1).
Dikatakan juga oleh Nur Iman bahwa sebenarnya setelah mereka melakukan penelusuran, sebenarnya banyak yang melakukan aksi penolakan terhadap keberadaan RAPP di Pulau Padang bukan masyarakat asli Pulau Padang.
‘’Kita sudah petakan, dan tidak ada pemukiman penduduk yang berada di area RAPP, bahkan kalau ada itu sudah di enclave.(rul)