DAERAH
 
Depan >> Meranti >>
Melihat Prosesi Hantaran Belanja di Selatpanjang
12 November 2012 - 09.58 WIB > Dibaca 2645 kali Print
 
Melihat Prosesi Hantaran Belanja di Selatpanjang
SERAHKAN TEPAK SIRIH: H Arifuddin (kanan) saat dipercaya menjadi pengantar dan memberikan tepak sirih dalam peminangan sebelum dilakukan hantaran belanja kepada pihak penerima, foto diambil beberapa waktu lalu. foto: ahmadyuliar/riaupos
 
Laporan AHMAD YULIAR Selatpanjang ahmadyuliar@riaupos.co

Hantaran belanja sebelum menikah menjadi tradisi di masyarakat Melayu, khususnya di Kepulauan Meranti. Mulai dari bahan pakaian, selimut, alas tempat tidur dan lainnya diberikan sang pria kepada wanita yang ingin dinikahinya.

Juga ditentukan hari baik bagi kedua keluarga calon besan melalui malam antaran belanja tersebut. Bagaimana prosesi antaran belanja ini di langsungkan?

Malam itu, beberapa waktu lalu di keluarga besar Mansurdin (alm) di Jalan Rintis bersusun kursi.

Terlihat juga hidangan makan malam dengan menu spesial. Tiba-tiba saja setelah selesai Salat Isya, sekitar pukul 19.30 WIB, satu persatu para tetangga dan handai taulan memenuhi rumah itu.

Para keluarga menyambut dan bersalaman dengan penuh kehangatan dan kekeluargaan. Setelah cukup ramai, maka para tamu dipersilahkan makan malam bersama.

Tak lama berselang, tiba rombongan lain dengan jumlah sekitar belasan, datang dengan berbagai tentangan. Mulai dari tepak sirih, bahan pakaian, selimut sampai dengan buah-buahan. Ternyata pihak laki-laki datang untuk membawa hantaran belanja kepada pihak perempuan.

Setelah dipersilahkan masuk, satu persatu barang bawaan di serahkan kepada pihak perempuan dimulai dari tepak sirih beserta isinya. Dalam penyerahan tepak sirih tidak dilakukan begitu saja, lalu disambut.

Tapi diserahkan disertai lantunan pantun. Begitu juga saat diterima oleh pihak perempuan, juga dilantunkan pantun balasan.

Setelah isi tepak sirih  dicicipi oleh pihak perempuan, maka hal yang sama juga dilakukan, sirih dari pihak perempuan diserahkan kepada pihak laki-laki. Sama halnya dengan penyarahan pertama tadi lantunan pantut tetap mengawali penerimaan tepak, dan juga saat merasakannya.

Setelah itu satu persatu bawaaan belanja yang ditenteng pihak laki-laki tadi diserahkan. Namun, tetap diawali dengan pelantunan pantun.

Dalam pembacaan pantun pantun tersebut biasanya dikaitkan dengan barang yang akan diserahkan, termasuk bentuk barang yang dibawa tersebut.

Setelah itu, hari baik untuk menentukan hari dan tanggal pernikahan dilakukan dengan disaksikan tamu yang hadir malam itu.

Setelah kedua belah pihak sepakat dari diskusi penentuan hari baik, maka selesailah hantaran belanja dan menunggu pernikahan seperti yang telah disepakati.

‘’Konsep hantaran belanja tersebut untuk memberikan bantuan kepada pihak perempuan dari pihak laki-laki. Membawa tepak sirih hukumnya wajib di dalam adat Melayu saat melakukan hantaran belanja,’’ kata H Arifudin Ali yang dipercaya menjadi perwakilan dari pihak laki-laki.

Pejabat Pemkab Meranti Disparpora itu mengaku sudah ratusan kali dipercaya menjadi penyerah dan penerima belanja saat hantaran belanja di wilayah Selatpanjang dan sekitarnya.

Dijelaskannya kepada Riau Pos, Ahad (11/11) kemarin, untuk menikah di adat Melayu ada empat tahapan yang harus dilalui, di antaranya, merisik, meminang, antar belanja dan menikah.

‘’Dalam tahapan merisik biasanya pihak laki-laki menanyakan kepada pihak wanita apakah sudah ada yang punya atau belum. Merisik saat ini banyak dilakukan secara internal saja di kedua belah pihak. Kemudian pada tahap meminang dilakukan tukar cincin, atau yang lebih dikenal saat ini bertunangan,’’ ujarnya.

Selanjutnya dalam prosesi hantar belanja, kata H Arifuddin lebih kepada pihak laki-laki membantu pihak wanita untuk melaksanakan proses pernikahan selain pada saat itu dilakukan penentuan hari baik untuk menikah.

‘’Bisa juga hantaran berupa uang dibawa langsung atau dilakukan simbolis, selain bantuan lainnya seperti perlengkapan kamar calon kedua mempelai,’’ sebutnya.

Dalam prosesi menikah dalam adat Melayu masa sekarang ini, kata mantan Lurah Selatpanjang Kota dan Sekcam Tebing Tinggi itu, dilakukan setelah direncanakan kedua belah pihak keluarga yang akan berbahagia. Jadi tidak ada lagi yang namanya gagal menikah.***
 
 
 
 
 
 
blog comments powered by Disqus  
 
 
 
 
 
Puting Beliung, Warga Rambah Utama Alami Patah Tulang
Pembangunan Jalan Poros Diminta Direalisasikan
Pelaku Penipuan Modus Pemasangan Listrik Antardaerah Ditangkap
Warga Sebut RIS-PNPM Rantau Panjang Tak Prosedural
Jalan Pahlawan Rusak, Puluhan KK Mengeluh
Kampar Pilot Project Pakan Ikan Lokal
Musim Hujan, Warga Diminta Waspadai Malaria
Penghuni Lapas Teluk Kuantan Didominasi Kasus Narkoba
Pembuatan Tanda Batas TNTN Mendesak
Ditargetkan Kecamatan Ada Sekolah Inklusi
 
 
 
 
Riau Pos Group
Support by: