Depan >> Kolom >> >>

Jembatan Shirathaal Mustaqim

11 Desember 2011 - 07.22 WIB > Dibaca 1801 kali | Komentar
 
Suatu saat nanti kita semua pasti berada di pinggir jurang api neraka  yang maha dahsyat panasnya. Tidak ada seorang pun anak  manusia yang luput dari ketentuan tersebut. Semua manusia akan berlutut di pinggir jurang itu dan akan mendengar gejolak api neraka yang benar-benar sedang menggelegak panasnya.  Api neraka itu siap membakar dan meluluhlantakkan siapa saja yang dimasukkan  Allah ke dalamnya. Namun mereka tidak akan pernah mati, karena kematian hanya terjadi sekali saja ketika kita masih hidup di dunia yang fana ini.

Itulah janji dan peringatan dari Allah yang kita baca melalui Alquran. Setiap kali kulit mereka hangus terbakar, akan Kami  ganti dengan kulit yang baru,  agar mereka merasakan azab neraka yang berkekalan.  Tilam mereka dari api neraka dan selimut mereka juga dari api neraka. Itulah tempat yang disediakan bagi orang-orang yang kafir atau  ingkar kepada Tuhannya Yang Maha Esa.

Pada saat kita sedang berada di pinggir jurang api neraka itu, kita pasti sangat memerlukan pertolongan. Di sana tidak akan ada pertolongan kecuali pertolongan Allah. Di sana juga tidak ada tempat berlindung kecuali berlindung kepada Allah. Ketika itulah agaknya kita akan teringat dengan surat Al-fatehah ayat ke 5 yang selalu kita baca, Iyyaaka nabudu wa iyyaaka nastaiin, yang berarti, Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.

Orang-orang yang senantiasa menyembah Allah dan memohon pertolongan-Nya, insya Allah, Allah akan menolongnya. Merekalah orang-orang yang akan diselamatkan dari azab api neraka yang maha dahsyat panas tersebut.

Antara jurang tempat kita berlutut di pinggir api neraka dengan surga hanya ada satu jalan yang lurus yang disebut dengan jembatan Siratul Mustaqim.  Setiap orang yang ingin masuk surga yang penuh dengan kenikamatan harus menempuh jembatan tersebut.  Jembatan itu konon sangat halus bagaikan rambut di belah tujuh di samping sangat tajam, lebih tajam dari mata pedang.  Bagi mereka yang tidak mempunyai kenderaan pastilah tidak akan dapat melewati jembatan yang maha halus itu, sehingga langsung tergelincir ke jurang api neraka Allah yang sedang bergejolak panasnya.

Orang-orang kafir dan orang-orang musyrik sama sekali tidak memiliki kederaan, sehingga secara otomatis akan terdorong ke dalam Neraka Jahanam yang sama sekali tidak ada pintunya. Mereka kekal di dalam untuk selama-lamanya sesuai dengan janji Allah di dalam Alquran.

Bagaimana dengan seorang muslim yang beriman? Insya Allah mereka akan terhindar dari azab Neraka Jahanam yang kekal tersebut. Namun bagi mereka yang berdosa dan tidak sempat minta ampun kepada Allah pada saat mereka meninggal dunia, mereka tetap akan dibakar oleh api neraka sampai dosa-dosa mereka habis terbakar semua. Dosa-dosa tersebut kelihatannya seperti minyak bensin yang sangat mudah terbakar. Kalau kita masih membawa dosa, maka pasti dosa itu akan menjadi beban yang menyebabkan kita tergelincir ke jurang api neraka, namun kita tidaklah dimasukkan Allah ke dalam api Neraka Jahanam, karena Neraka Jahanam hanya diperuntukan bagi orang-orang kafir dan orang-orang munafik.

Oleh karena itulah selagi kita masih hidup di dunia yang fana ini kita seharusnya senantiasa bermohon ke hadirat Allah agar diampuni atas dosa atau kesalahan yang pernah kita buat selama hidup di dunia yang fana ini, secara sengaja maupun yang tidak disengaja. Allah melalui Alquran juga sudah  menganjurkan kepada kita untuk bersegera  mendapatkan ampunan dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang sengaja disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. Kita tidak boleh lalai atau lengah sampai datang ajal menjemput kita, sehingga kita tidak bisa ditolong lagi.

Allah membuat perumpamaan yang sangat bagus seperti Firaun yang mati tenggelam di laut Merah. Dia baru mengakui adannya Tuhan dan membenarkan risalah yang di bawa oleh Nabi Musa, setelah dia hampir mati lemas. Namun pengakuan itu sudah terlambat dan  Allah tidak lagi mengampuni dosanya. Allah memang telah menyelamatkan jazadnya seperti yang bisa kita lihat di musium Mesir. Firaun yang mati tenggelam di laut Merah itu diketahui orang karena di dalam perutnya terdapat fossil tumbuh-tumbuhan laut berupa plankton.  Selain itu sewaktu ditemukan dan kain mumminya dibuka, tangannya masih melenting ke depan seperti orang yang  sedang menghindar dari terpaan air yang menerjangnya, sehingga meyakinkan orang bahwa jazad itu benar-benar Firaun yang berkuasa dan mati tenggelam di zaman Nabi Musa.

Bagaimanakah cara kita untuk mendapatkan pertolongan Allah? Jawabannya tidak hanyalah dengan menyembah Allah. Kita harus tunduk, patuh dan taat kepadaNya sesuai dengan petunjuk yang diajarkan-Nya melalui Alquran serta seperti yang dicontohkan oleh Baginda Rasul. Apa yang disuruh Allah melalui Alquran itulah yang kita lakukan dan apa yang dilarangNya, itulah yang kita hindarkan. Nabi Muhammad SAW telah memberi contoh yang sangat lengkap bagaimana cara mengaplikasikan ajaran Islam itu secara totalitas dalam kehidupan. Selain ibadah wajib seperti sahadat, salat, puasa, zakat  dan haji, cara makan, minum dan tidur pun dicontohkan oleh Baginda Rasul. Jadi benarlah firman Allah bahwa Nabi Besar Muhammad SAW itulah suri teladan yang sangat baik bagi kehidupan umat manusia.

Dia sangat penyayang kepada sesama, bukan saja kepada manusia, kepada binatang dan tumbuh-tumbuhan pun dia sangat sayang. Dia senantiasa menjaga hubungan silaturahim dengan Allah dan dengan sesama manusia. Dia selalu menangis memikirkan nasib kaum yang sangat ingin diselamatkan dari azab api neraka Allah yang sangat dahsyat panasnya itu. Karena itulah ketika dia dilempar anak-anak Thaif, sehingga kakinya berdarah, Malaikat Jibril datang kepadanya untuk menawarkan jasa, jika nabi mau dia akan menghukum kaum itu dengan membalikkan Gunung Thaif kepada mereka. Namun Nabi Besar Muhammad SAW bukan saja melarang, bahkan mendoakan agar mereka dibukakan Allah hati mereka untuk menerima kebenaran yang dia bawa. Mereka melempar, karena mereka tidak tahu bahwa aku ini datang untuk menyelamatkan mereka, andaikan mereka tahu pasti mereka tidak akan berbuat seperti itu demikianlah akhlak dan budi pekerti Rasulullah yang sangat luhur yang seharusnya menjadi panutan bagi kita semua.

Insya Allah dengan beriman dan bertakwa kepada Allah, kita akan diselamatkan-Nya sewaktu  menyeberang jembatan Siratul Mustaqim, sehingga kita tidak terlempar ke jurang api neraka yang benar-benar maha dahsyat tersebut.

Sekarang ini kita juga sedang memerlukan jembatan yang banyak. Sebagai sebuah negeri yang subur yang ditandai dengan empat buah sungai besar, Provinsi Riau memang memerlukan  banyak jembatan. Syukur Alhamdulillah kemarin kita sudah menyaksikan Gubenur Riau meresmikan Jembatan  Sultan Syarif  Ali Abdul Jalil Muazzam Syah di Sungai Siak yang menghubungkan Kota Pekanbaru dengan Rumbai, sehingga lalu lalang orang dan barang akan semakin lancar. Sebentar lagi juga akan dibangun sebuah jembatan di ujung Jalan Sudirman yang akan menjadi ikon Kota Pekanbaru.  Gubernur Riau sudah menjanjikan bahwa jembatan yang akan dibangun tersebut akan lebih megah, sehingga bisa menjadi kebanggaan rakyat Pekanbaru. Di kiri kanan jembatan tersebut di sepanjang pinggir pantai Sungai Siak akan dibenahi menjadi taman, sehingga layak disebut sebagai water front city tempat orang bisa menikmati keindahan sungai. Mudahan-mudah dengan itu akan menjadi daya tarik tersendiri bagi orang-orang yang akan berkunjung ke Kota Pekanbaru.

Surga itu memang berada di tempat yang tinggi yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Untuk mencapainya, kita memang harus menempuh jalan yang mendaki lagi sukar, namun di balik kesukaran itu ada kemudahan dan nikmat yang banyak. Itulah surga yang mesti kita dambakan. Mari kita berjuang  untuk menjadi yang terbaik. Semoga pintu surga akan senantiasa terbuka bagi kita semua.  Amin.***   

KOMENTAR
Lainnya
Wrong Query