Depan >> Kolom >> >>

Islah

25 Januari 2012 - 08.27 WIB > Dibaca 3351 kali | Komentar
 
Islah berasal dari bahasa Arab shalaha yang berarti baik.  Secara luas islah bermakna memperbaiki hubungan yang sudah rusak sambil meluruskan yang bengkok sehingga bisa diartikan juga sebagai reformasi.  

Kata ini mulai sering terdengar ketika dulu orang-orang politik yang berantuk melakukan perdamaian secara esensial, yang secara umum disebut rekonsiliasi.

Pertautan kembali berbentuk islah ini biasanya setelah terjadi perbedaan pendapat yang cukup jauh, meskipun masih tetap berada dalam koridor ideologi dan platform yang sama seperti kebangsaan, ketuhanan, dan keilmuan.  

Kesamaan tujuan dan cita-cita itu membuat yang bertikai merasa perlu bergandengan kembali agar lebih kuat.

Islah dapat menyelesaikan perbedaan yang prinsipil dan memulihkan hubungan para pihak menjadi seperti semula tanpa dendam atau berbuntut panjang, berdasarkan nilai-nilai pokok yang memang sudah disepakati bersama.

Karena itu, islah menuntut beberapa prakondisi yang biasanya lebih sulit mencapainya dibanding islah itu sendiri. Pertama, para pihak mutlak tetap berada dalam koridor ideologi yang sama, misalnya cita-cita meningkatkan kemaslahatan masyarakat atau NKRI.

Dengan maksud dan tujuan yang sama maka lebih mudah mengeliminir perbedaan.

Kedua, para pihak harus sepakat atas referensi yang dipakai sebagai acuan.

Bagi stakeholders Islam misalnya, Rasulullah SAW mengingatkan agar bila terdapat perbedaan pendapat maka kembalikan kepada Allah Swt dan beliau yaitu Alquran dan hadits.

Dengan acuan yang sama sepatutnya akan lebih mudah menyatukan persepsi para pihak yang bertikai.

Ketiga, islah selanjutnya memerlukan akhlak terpuji dari para pihak tersebut. Apakah para pihak berjiwa besar untuk mengintropeksi diri dan mau meminta maaf dengan ikhlas pada pihak lain tanpa dialas dengan pembelaan diri?

Apakah memiliki hati yang lapang untuk lebih bersikap memberi dari pada menuntut atau meminta?

Bila ketiga prakondisi ini terpenuhi, Insyaallah selanjutnya akan mudah untuk mencapai kesepakatan-kesepakatan, baik untuk positioning atau pun perencanaan ke depan.

Masing-masing juga akan terbuka terhadap kelebihan dan kekurangan untuk saling mengisi dan memperkuat guna lebih produktifnya upaya mencapai cita-cita bersama.    

Banyak hal bisa diselesaikan melalui islah, dengan fasilitasi para tokoh internal. Karena itu, kita mestinya malu ketika PSSI menyelesaikan masalah dengan fasilitasi FIFA.

Sebenarnya, jika prakondisi tadi sudah tertanam dalam jiwa kita, pada pemilihan pimpinan organisasi tak akan terjadi jual kecap atau black campaign karena malu mematut-matut diri sendiri pantas untuk merebut posisi.  

Apadaya, kita sudah dibodohi dengan proses demokrasi barat yang konon beradab padahal hakekatnya merendahkan derajat kemanusiaan. Jadi, jika bertikai, segeralah islah untuk langkah bersama berorientasi ke depan.***
KOMENTAR
Lainnya
Wrong Query