Nila Setitik Vs Susu Sebelanga

15 April 2012 - 07.01 WIB > Dibaca 1052 kali | Komentar
 
Kalau mau jujur, maka berita yang paling memuakkan, tetapi paling banyak mengisi media massa akhir-akhir ini adalah narkoba dan korupsi. Setiap kita baca media cetak dan setiap kita tonton media elektronik, maka kedua jenis berita ini tak pernah absen. Dalam beberapa hari belakangan ini berita tentang korupsi dan narkoba ini pulalah yang mencuat di Riau.

Pada Senin 2 April 2012  pukul 03.19 dinihari, Wakil Menteri Hukum dan Ham Denny Indrayana mengejutkan Tanah Air dengan inspeksi mendadaknya ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Pekanbaru. Dari sidak ini Denny Indrayana bersama Badan Narkotika Nasional (BNN) berhasil menangkap 3 orang narapidana yang diduga terlibat pencucian uang  hasil transaksi narkoba dari dalam penjara serta 1 orang pegawai Lapas Pekanbaru juga ikut ditahan.   

Kenapa Wamenkumham dan BNN memilih Lapas Pekanbaru sebagai target sidak mereka? Kata pepatah tak mungkin ada asap kalau tak ada api. Rupanya sidak berawal dari tiga orang pada Senin malam, 2 April 2011 di Bandara Sultan Syarif Kasim Pekanbaru dengan barang bukti sabu seberat 881,4 gram yang akan dibawa ke Jakarta. Dari sinilah awal diketahuinya keterlibatan tiga orang napi di Lapas Pekanbaru dan beberapa sipirnya. Bukti lain bahwa Wamen dan BNN sudah mengantongi nama tersangka, ketika beberapa saat setelah  pintu lapas dibuka, Wamen langsung menanyakan tiga petugas lapas, Hidro Sitorus, Robby dan Kasman. Selanjutnya Wamen juga menanyakan kamar-kamar sel narapidana; Jupriadi Tanjung, Luku dan Husin. Dari keenam nama tersebut, karena memang sedang berada di lapas dan terbukti empat orang langsung dibawa ke Jakarta esok harinya.

Namun sayang sidak yang patut diacungkan jempol ini sedikit ternodai dengan  adanya penamparan terhadap petugas lapas oleh Wamen. Sayangnya lagi berita penamparan ini pulalah yang dibesar-besarkan, sehingga hampir menenggelamkan berita sidak yang tergolong sukses ini. Kejadian ini sepertinya hendak merusakkan susu sebelanga dengan nila setitik. Secara hukum silakan korban penamparan menempuh jalur hukum, sementara Wamen dan BNN dipersilakan pula menindaklanjuti hasil temuannya. Yang patut dipertanyakan sebenarnya kenapa sampai terjadi penamparan. Jawaban tersurat, karena petugas lama membukakan pintu walaupun sudah tahu bahwa yang melakukan sidak adalah Wamen. Sementara menurut Wamen keterlambatan membuka pintu dapat pula menyebabkan sidak bocor dan  tidak mendapat hasil apa-apa. Hal ini sesuai dengan pernyataan Direktur Penindakan BNN Brigjend Benny Mamoto tanggal 5 April 2012. “Menurut napi yang ditangkap, razia mendadak BNN bersama Wamen diberitakan oleh sipir ke napi. Alhasil target operasi berusaha menghilangkan barang bukti. Salah satu target memindahtangankan  ponselnya kepada dua napi lain. Padahal ponsel itu diperlukan mencari bukti komunikasi antara napi dengan kurir di luar “. Bahkan  Jupriadi Tanjung pun menjelaskan,  “Waktu Denny Indrayana datang, para sipir pada lari ketakutan masuk blok dan ngomong ke napi, Denny datang. Makanya mereka menyimpan handphone di kamar masing-masing”.

Yang tak kalah mengherankan justru reaksi dari pihak Kementerian Hukum dan Ham sendiri. Laporan dari Kalapas Pekanbaru dan Kakanwil Hukum dan Ham Riau serta tanggapan dari Dirjen Pemasyarakatan justru lebih mempersoalkan masalah penamparan yang boleh dikatakan sebagai nila setitik dari pada tertangkapnya napi dan petugas lapas di dalam lapas itu sendiri yang bakkan susu sebelanga. Hal ini sesuai dengan pernyataan Dirjen Pemasyarakatan Sihabuddin di Harian Kompas 3 April 2012, “Yang jelas reaksi pegawai lapas merasa sakit. Saya juga ikut sakit. Sekitar 39 tahun saya mengabdi kenegara ini. Dia (Denny) kan baru berumur 39 tahun.’’

Kenapa Dirjen, Kakanwil dan Kalapas Pekanbaru tidak introspeksi dengan terbongkarnya kasus perdagangan narkoba di lapas bahkan sampai melibatkan petugas lapas sendiri? Bukankah kasus ini adalah kejadian yang mencoreng muka mereka sekaligus mencerminkan kegagalan mereka.

Singkat cerita dalam kehidupan sehari-hari maupun lingkungan kerja secara garis besar terdapat tiga kelompok manusia. Kelompok pertama kerabat kita yang selalu menilai positif terhadap segala perbuatan kita. Kelompok kedua adalah lawan yang selalu menilai negatif walaupun yang kita lakukan itu ada benar. Kelompok ketiga orang bijak yang selalu menilai berdasar fakta yang perkataannya menyejukkan, sedikit berkata, tapi banyak berbuat.

Sepertinya semua dapat membaca di kelompok mana Dirjen, Kakanwil  serta Kalapas Pekanbaru berada. Karena berada di satu kementerian mestinya mereka di kelompok pertama, tetapi melihat pernyaataannya mereka lebih tepat disebut kelompok kedua. Bahkan jauh lebih bijaksana bila mereka berada pada kelompok ketiga. Kesannya mereka tidak senang atas sidak Wamen bersama BNN yang cukup berhasil ini, sehingga merasa senioritasnya dalam usia dilangkahi oleh yunior.

Mungkinkah Dirjen  lupa bahwa  hirarkhi  jabatan tidak mempertimbangkan usia dimana sebenarnya Dirjen yuniornya Wamen. Karena itu sah-sah saja bila Wamen melakukan sidak tanpa perlu berkoordinasi dengan Dirjen, Kakanwil maupun Kalapas, karena kalau dikoordinasikan dahulu berarti kunjungan kerja. Apalagi selama ini kita belum pernah mendengar Dirjen yang telah 39 tahun mengabdi kepada negara, Kakanwil atau Kelapas yang melakukan sidak, sehingga berhasil menangkap langsung target seperti yang dilakukan Wamen yang baru berumur 39 tahun itu. Sangat transfaran rasanya bila pihak terkait dapat mendedahkan CCTV lapas terkait penamparan oleh Wamen dan berlama-lamanya  petugas lapas membuka pintu padahal tahu persis bahwa Wamen sedang melakukan sidak. Tapi kalau hal ini masih disembunyikan atau dengan dalih lapas tak memiliki CCTV, maka sesungguhnya inilah kejanggalan itu.

Yang mengherankan kenapa banyak pihak yang seperti kebakaran jenggot, sehingga apa yang diucapkan hanya menampilkan kesalahan tanpa sedikitpun menyentuh kebaikan yang diperbuat sang Wamen. Apakah saat ini kita memang sedang kritis akan orang-orang bijak yang perbuatan dan ucapannya menjadi penawar pendingin untuk orang banyak.

Padahal jauh sebelum kejadian ini sastrawan Allahyarham Raja Ali Haji telah berpesan:

Segala pekerjaan pedang itu
boleh dibuat dengan kalam
Adapun pekerjaan kalam itu
tiada boleh dibuat dengan pedang
Maka itulah ibarat yang terlebih nyatanya
dan berapa ribu dan laksa pedang
yang sudah terhunus
dengan segores kalam
Jadi tersarung.

Akankah sekarang ini hanya karena ego pribadi, sehingga kalam kita menyebabkan pedang yang tersarung menjadi terhunus?***

KOMENTAR

Follow Us

Riau Pos Group
Support by: