Depan >> Kolom >> >>

Sarana Transportasi

6 Mai 2012 - 07.57 WIB > Dibaca 5309 kali | Komentar
 
Pada hari ini memang sarana transportasi merupakan sebuah keperluan vital. Hampir tidak ada orang yang tidak menggunakan alat transportasi dalam kehidupannya. Anak-anak yang pergi sekolah di kota-kota besar pada umumnya menggunakan alat transportasi seperti sepeda, sepeda motor, mobil, maupun alat angkut umum seperti ojek, oplet, becak maupun bus umum untuk mencapai sekolahnya. Ibu-ibu yang berbelanja ke pasar juga selalu menggunakan sarana transportasi seperti sepeda motor atapun mobil. Jarang kita menemukan ibu-ibu yang berbelanja ke pasar berjalan kaki. Paling tidak mereka menggunakan becak dan bahkan pada zaman dahulu banyak di antara mereka yang  menggunakan bendi pada tahun 70-an di Kota Pekanbaru.

Perjalanan antar kota juga sudah  pasti menggunakan sarana transportasi. Sarana transportasi yang paling modern pada hari ini adalah dengan menggunakan pesawat udara. Jarak tempuh yang selama ini harus dilalui berhari-hari, sekarang sudah dapat ditempuh hanya beberapa jam saja seperti Pekanbaru-Jakarta yang berjarak hanya 1.20 menit saja. Kalau dengan menggunakan mobil, maka waktu tempuhnya bisa mencapai dua hari. Karena itu tidak heran kalau  sarana angkutan udara sangat dominan disukai  orang yang berduit, selain aman, juga kecepatan tempuhnya sangat luar biasa singkat.   Menurut Kementerian Perhubungan yang sedang melakukan  rapat kerja hari ini di Rantau Prapat, Sumatera Utara, tidak kurang dari 60 juta orang di Indonesia sudah menggunakan jasa angkutan udara setiap tahunnya. Mereka tentu saja ada yang menggunakannya sekali dan juga  berkali-kali. Ada kecenderungan penggunakan jasa transportasi udara ini meningkat lebih dari 10 persen setiap tahun. Karena itu prospek usaha di bidang jasa transportasi udara bagi bangsa Indonesia memang sangat menjanjikan, mengingat jumlah penduduk Indonesia yang sangat luar biasa besar (keempat tebesar dunia) dan distribusi kota-kota besar Indonesia juga tersebar di antara pulau-pulau, sehingga sangat efektif dan efisien jika menggunakan transportasi udara. Hanya sayangnya, pesawat terbang atau alat angkut yang kita pakai masih saja menggunakan buatan luar negeri, sehingga sebagian terbesar dari ongkos naik pesawat itu masih dinikmati oleh bangsa lain yang membuat pesawat terbang tersebut. Apalagi kebanyakan dari saham perusahaan penerbangan nasional sudah dimiliki oleh pemodal asing termasuk Garuda, sehingga keuntungan dari perusahaan tersebut  tidak sepenuhnya dapat dinikmati oleh bangsa sendiri.

Adanya upaya BJ Habibie untuk membangun pabrik pembuatan pesawat  terbang di dalam negeri sebenarnya dimaksudkan untuk menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang bisa menjadi tuan di negerinya sendiri. Sayangnya pada saat beliau tidak lagi menjadi presiden, usaha itu tidak dilanjutkan oleh para penerusnya, sehingga usaha yang sudah dirintis selama lebih kurang 20 tahun menjadi sirna . Untuk mengembalikan kejayaan dan kepercayaan bangsa Indonesia agar mampu menguasai teknologi secanggih apapun, termasuk teknologi dirgantara pada akhirnya menjadi surut kebelakang. Mudah-mudahan pada masa yang akan datang akan muncul lagi para pemimpin yang mempunyai visi jauh ke depan, sehingga bangsa Indonesia yang besar ini benar-benar bisa menjadi besar dalam arti kata yang sesungguhnya dengan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi secanggih apapun.

Selain sarana transportasi udara, transportasi darat, boleh dikatakan sebagai alternatif kedua yang juga sangat menjanjikan. Andaikan suatu daerah tidak memiliki pelabuhan udara, maka hanya ada dua alternatif untuk menjangkau daerah tersebut yaitu melalui jalur darat ataupun laut. Kalau kita menggunakan jalur darat, maka keberadaan jalan raya menjadi  sangat penting, karena hanya jalan raya yang dapat dilalui oleh alat angkutan tersebut  seperti sepeda motor ataupun mobil.

Di Indonesia kita melihat ada kesenjangan antara jalan raya yang ada di Pulau Jawa dan di luar Pulau Jawa. Hal ini terlihat dengan jelas jika kita menelusuri suatu kota ke kota lain. Di Jawa, jalan raya hampir sudah menjangkau sampai ke desa-desa dengan jalan beraspal, sedangkan di luar Pulau  Jawa masih banyak ditemukan jalan tanah  ataupun jalan-jalan yang memerlukan perbaikan serius, termasuk di Riau.

Karena itu dalam pertemuan di Rantau Prapat, banyak teman-teman dari luar Pulau Jawa menuntut pemerintah pusat untuk serius menangani jalan darat tersebut, karena termasuk salah satu faktor penting dalam  mendorong perekonomian daerah yang bersangkutan. Bagi daerah Riau misalnya, kita melihat beban jalan darat kita memang terasa sangat luar biasa  berat, jenis dan jumlah kenderaan yang melewati jalan tersebut sudah tidak sebanding dengan kapasitas jalan yang ada, sehingga setiap kali diperbaiki akan kembali menjadi rusak, karena kapasitas yang tidak sesuai. Hanya ada dua alternatif yang dapat ditempuh, yaitu memperbaiki jalan  sesuai dengan kapasitas kenderaan yang melewatinya atau menggunakan sarana transportasi lain seperti kereta api listirk yang menggunakan rel, sehingga semua kenderaan angkutan barang ataupun orang dapat menggunakan kereta api lsitrik tersebut. Riau termasuk salah satu daerah yang sangat gencar memperjuangkan penggunaan kereta api listrik, termasuk jalan tol Pekanbaru-Dumai, yang sudah sangat mendesak untuk segera dibangun.

Sebagai sebuah daerah penghasil bahan baku maupun bahan jadi untuk tujuan ekspor demi menimba devisa negara melalui komoditas migas dan non migas, Riau memang sudah saatnya untuk diperhatikan secara lebih serius. Kontribusi Riau bagi kemajuan negara secara nasional sejak dari dahulu sampai dengan saat ini sudah sangat tidak diragukan lagi. Sudah berapa triliun hasil bumi Riau diangkut ke luar negeri, baik melalui jalur laut, maupun udara, sedangkan jalur daratnya merupakan jalur perantara untuk mencapai pelabuhan laut dan udara tersebut. Sayangnya anggaran yang disediakan utuk  sektor perhubungan ini, baik secara nasional maupun daerah ternyata masih sangat kecil  jika dibandingkan dengan keperluan. Oleh karena itu perlu adanya perubahan pola pikir (mindset) maupun pola kebijakan secara nasional untuk membenahi sektor perhubungan tersebut. termasuk penggunakan teknologi mutakhir di sektor perhubungan. Misalnya dengan menggunakan sepeda dan mobil serta kereta api listrik, sehingga pemakaian migas menjadi lebih efisien.

Selain jalan darat, jalur laut juga bagi Indonesia sebagai negara maritim dan kepulauan memang sangat strategis. Jalan laut termasuk jalur yang paling murah dan efisien dalam pemanfaatan biaya transprotasi angkutan barang maupun orang. Hanya sayangnya bangsa Indonesia juga masih belum menguasai sarana transportasi laut ini, sehingga masih juga mendatangkan kapal dari luar negeri. Apalagi dengan semakin berkurangnya bahan baku pembuatan kapal kayu, maka tingkat ketergantungan bangsa Indonesia terhadap kapal-kapal asing sangat luar biasa besar. Hampir semua fasilitas angkutan kapal luar negeri dikuasai oleh perusahaan asing, hanya sebagian kecil saja yang dikuasai oleh bangsa Indonesia, sehingga keuntungan sarana angkutan barang maupun orang untuk tujuan ekspor masih didominasi oleh perusahaan besar manca negara.

Andaikan Indonesia bercita-cita untuk menjadi tuan di negerinya sendiri, maka pabrik pembuatan kapal, baik kapal ikan, maupun kapal niaga, harus dikuasai oleh bangsa sendiri. Mudah-mudahan dengan masuknya usaha perkapalan sebagai salah satu sektor penting dalam MP3EI, suatu saat Indonesia diharapkan bisa berswasembada kapal.

Dalam pertemuan di Rantau Prapat selama 3 hari ini juga dibahas mengenai pentingnya peranan Badan Penelitian dan Pengembangan dalam memacu ekonomi bangsa Indonesia ke depan, termasuk juga di sektor perhubungan. Karena itu dalam pertemuan ini selain diundang Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Perhubungan se Indonesia, juga diundang Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (BPP Provinsi se Indoensia dan juga Perguruan Tinggi se Indonesia. Mudah-mudahan pertemuan ini ada manfaatnya dalam membangun sektor perhubungan di masa yang akan datang. Amin.***
KOMENTAR
Lainnya
Wrong Query