Depan >> Kolom >> >>

Permainan dan Ibadah

24 Juni 2012 - 08.15 WIB > Dibaca 1575 kali | Komentar
 
Hidup ini tidak ubahnya sebagai sebuah permainan yang mengasyikkan. Ada yang menang dan ada pula yang kalah. Bagi mereka yang ingin menjadi pemenang atau sang juara, maka sudah dapat dipastikan mereka harus berlatih. Semakin tinggi kejuaraan yang ingin diraih akan semakin besar pula tantangan yang mesti dihadapi, karena itu tingkat latihannya pun harus pula semakin ditingkatkan.

Seorang petinju legendaris seperti Muhammad Ali, ataupun Mike Tyson yang berhasil menjadi juara sejati pada zamannya, pasti mereka itu  berlatih dengan sangat keras. Bahkan pernah kita melihat mereka  turun naik gunung dengan memikul beban berat. Mereka bukan saja menempa stamina tubuhnya, melainkan juga sikap mentalnya dengan tantangan nyata, sehingga siap menghadapi segala lawan.

Memang dalam setiap permainan ada unsur keberuntungan (by chance), namun kesiapan fisik dan mental serta ilmu tentang permainan itu mestilah dikuasai. Mereka juga senantiasa dituntut untuk mengetahui cara atau strategi jitu untuk menang. Hal seperti inilah yang sering dilakukan oleh para juara dalam permainan berskala dunia.

Pada saat ini banyak orang yang tidak tidur, karena menonton pertandingan sepak bola  Eropa. Malam-malam tatkala saya pergi ke Masjid Agung Annur Pekanbaru untuk Salat Tahajud berjemaah, saya melihat ramai orang-orang yang sedang berhimpun di depan layar televisi, baik yang berukuran kecil maupun dengan layar lebar. Mereka larut dalam permainan yang mengasyikkan tersebut, sehingga tidak sadar hari sudah larut malam menjelang Subuh.

Di dalam Alquran, Allah memang selalu mengingatkan akan kehidupan di dunia seperti permainan yang mengasyikkan tersebut. Dunia ini memang sengaja diisi dengan segala perhiasan yang penuh dengan keindahan, permainan dan juga senda gurau. Namun waktu yang disediakan Allah bagi setiap manusia adalah sangat terbatas. Setiap orang memiliki ajal atau terminal hidup yang sudah ditentukan. Umat Islam tidak dilarang untuk bermain, karena permainan itu adalah bagian dari kehidupan, namun kita sebenarnya tidak boleh lupa akan tugas dan tanggung jawab kita sebagai hamba Allah untuk berbakti kepada-Nya dengan ibadah dan juga dakwah.

Rasulullah dalam salah satu hadisnya yang sahih pernah berpesan kepada orangtua agar mengajar  anak-anaknya untuk pandai melempar lembing dan berenang. Padahal kita sangat tahu betapa Rasulullah sendiri hidup di gurun pasir yang jauh dari lautan ataupun sungai. Hal ini menandakan bahwa bermain atau berolahraga di dalam Islam sama sekali tidak dilarang, bahkan sangat dianjurkan agar tubuh kita bisa menjadi lebih sehat. Karena itulah tahun depan (2013) insya Allah olahragawan Islam dari 57 negara-negara Islam dunia yang terhimpun dalam organisasi negara-negara Islam dunia (OKI) akan mengadakan pertandingan olahraga yang disebut Islamic Solidarity Game. Indonesia terutama Riau diberi suatu kehormatan yang sangat luar biasa untuk menjadi tuan rumah dalam pertandingan olahraga yang sangat bergengsi tersebut yang mesti kita syukuri.    

Apa yang mesti dilakukan oleh Indonesia atau Riau sebagai tuan rumah dalam pertandingan yang sangat bergengsi tersebut? Jawabnya tentu saja tidak lain seperti yang diinginkan oleh Gubernur Riau, bahwa Riau harus menjadi tuan rumah yang baik dengan memberikan pelayanan terbaik bagi setiap pengunjung yang datang. Kita tentu saja ingin sukses dalam penyelenggaraan pertandingan tersebut, sehingga bisa dikenang sebagai tuan rumah yang baik. Karena itu berbagai fasilitas mesti kita sediakan seperti venue atau tempat pertandingan, tempat penginapan  selama berada di Riau, alat angkut dan makanan yang sesuai dengan selera mereka. Karena itu kita perlu juga menyediakan makanan yang berselera internasional, sehingga semua etnis atau suku bangsa yang datang dapat menikmati menu yang kita sediakan.  

Selain sukses dalam penyelenggaraan, kita juga tentunya ingin sukses dalam bidang prestasi atau menjadi juara dalam setiap pertandingan yang kita ikuti. Untuk hal ini kita tentu saja harus menyiapkan para atlit yang siap untuk bertanding secara internasional. Karena itu pelatihan bagi para atlet tidak kalah pentingnya sebagaimana pentingnya kita menyiapkan tempat penyelenggaraan.  Kita tentu saja tidak ingin hanya menjadi penonton yang baik, kita harus juga jadi pemain, sehingga kita mempunyai kesempatan yang sama untuk meraih kemenangan. Apalagi karena pertandingan itu dilakukan di negeri kita sendiri, sudah pasti kita akan mendapatkan dukungan dari para penonton yang tidak lain sebagian terbesar adalah warga negara kita sendiri. Inilah waktu yang paling tepat bagi kita untuk menunjukkan prestasi olahraga ke pihak dunia.

Selain kita ingin berhasil dalam prestasi dan penyelenggara kita juga ingin sukses dalam peningkatan kesejahteraan rakyat. Setiap orang yang berkunjung ke Riau kita usahakan agar mereka bisa meninggalkan uangnya sebanyak mungkin di Riau, sehingga peredaran uang di Riau pada saat itu akan semakin meningkat. Dengan peningkatan peredaran uang di masyarakat maka secara langsung ataupun tidak langsung perekonomian masyarakat juga akan meningkat. Karena itu kita perlu menciptakan barang atau pun jasa yang dapat mereka gunakan selama berada di Riau maupun setelah mereka kembali ke tanah air masing-masing. Untuk itulah mulai sekarang kita harus menciptakan barang ataupun memberi pelayanan jasa yang akan dapat mereka pergunakan selama pekan olahraga dunia Islam itu berlangsung. Selain kita menyiapkan sarana prasarana transportasi dan penginapanan serta rumah makan dan sarana hiburan/sarana kunjungan wisata kita juga sedang bergiat dalam mencipta dan memproduksi berbagai cenderamata untuk dapat mereka bawa pulang baik dalam bentuk pakaian, makanan maupun dalam bentuk buah tangan.***
KOMENTAR
Lainnya
Wrong Query