Depan >> Kolom >> Risalah >>

Mahalnya Kejujuran

4 Maret 2013 - 09.57 WIB > Dibaca 1124 kali | Komentar
 
Kalau cerita keluhan ibu-ibu tentang timbangan yang tidak akur dari barang-barang yang dibeli di pasar, itu makh sudah lumrah. Demikian juga cerita ibu yang melibatkan anak-anaknya untuk menghindar dari si tukang kredit dengan menyuruhnya berbohong. Ada pula pameo bahwa orang lurus akan kurus, kalau jujur akan terkucil. Ini adalah ironi-ironi tentang kejujuran yang sampai saat ini masih menjadi virus masyarakat di tengah maraknya penandatanganan fakta integritas.

Kejujuran adalah karakter yang terbentuk mulai sejak manusia lahir di dunia ini. Ia mestinya ditanamkan sejak usia dini dan terus diperkuat seiring dengan perjalanan usia manusia. Kejujuran adalah landasan bagi kepercayan (trust). Pepatah mengatakan: “Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya”. Jika kejujuran tidak ada, kepercayaan pun akan hilang. Itu kan teori. Karena dalam alam nyata, berbagai fenomena yang kontradiktif dengan teori tersebut selalu dapat disaksikan.
 
 Perilaku ketidakjujuran selalu saja ditanamkan di rumah, di sekolah, dan di lingkungan. Membohongi anak oleh anggota keluarga lain yang ada di rumah berarti itu menanamkan sifat tidak jujur. Ketika murid-murid akan menempuh ujian, bagi yang pemalas belajar sudah mempersiapkan tindakan kecurangan agar dengan mudah mendapatkan nilai baik alias ngopek. Lebih ironis lagi, sang guru menyebarkan kunci jawaban ketika UN (ujian nasional) dilaksanakan; terlepas dari masalah kontroversi penyelenggaraan UN tersebut, meskipun pemerintah sudah mengeluarkan ratusan miliar rupiah hanya untuk membiayai pengawasan penyelenggaraannya yang sebenarnya tidak perlu bila semua pihak bertindak jujur. Anak-anak yang jujur malah akan tersingkir.

Aspek-aspek politis dan kepentingan mengalahkan aspek idealnya. Lebih penting tingkat kelulusan yang tinggi (meskipun semu) untuk membuktikan keberhasilan bidang pendidikan daripada hasil murni yang menggambarkan situasi pembelajaran yang sebenarnya.  Hal itu semua menghancurkan segala upaya penanaman karakter jujur kepada anak didik. Betapa banyak warung kejujuran yang ada di sekolah bangkrut. Penanaman kejujuran gagal total.

Dari sisi ajaran agama kita, banyak sekali tuntunan agar kita selalu jujur dan menanamkan sifat jujur, baik dalam Alquran, maupun dan Hadis Nabi SAW. Sabda Rasullullah yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dan lainnya: “Berlaku jujurlah kamu, karena kejujuran itu bergandengan dengan kebajikan. Keduanya dalam surga. Jauhilah kebohongan karena kebohongan bergandengan dengan kecurangan. Keduanya dalam neraka.”

Alangkah mulianya seseorang yang dalam keadaan serba abu-abu, semu dan mahalnya kejujuran, masih mempertahan kejujuran, meskipun akan menghadapi resiko-resiko yang besar. Langkah penting untuk memperbaiki keadaan dengan memulai dari diri kita masing-masing bersikap dan mempertahan kejujuran. Allah SWT pasti menolong hamba-hamba-Nya yang jujur.***


Munzir Hitami
Guru besar tafsir UIN Suska Riau
KOMENTAR

Follow Us

Riau Pos Group
Support by: