Depan >> Opini >> Opini >>

Oleh: Griven H Putra

Bono Teluk Meranti

25 Juni 2012 - 08.04 WIB > Dibaca 767 kali | Komentar
 
Teluk Meranti merupakan negeri comel yang menjura gagah ke Laut Embun (Batang Kampar). Di halamannya menderu gelombang saban waktu. Pada siang terik, matahari jadi suluh sampan, kapal dan perahu yang lalu-lalang melintasi teluk dan tanjung.

Kala malam, rembulan jadi pelita nan tak kunjung padam menyapu temaram pelantar rumah panggung hingga pucuk kayu-kayan yang bersusun-susun di bibir tebing.

Negeri nan molek ini menyimpan banyak khazanah, berupa kisah jumawa ksatria Melayu masa lampau dalam banyak cerita legenda, dan kisah terkini tentang dahsyatnya perlawanan rakyat kecil Melayu dalam menentang saudagar kapitalis kayu dunia.

Plus, negeri ini pun ternyata menyimpan keajaiban alam menakjubkan sebagai warisan Tuhan (God Heritage) yang lain, seperti bono (gelombang besar yang memudiki sungai) yang bakal jadi tujuan berselancar wisatawan aquarama dunia.

Di hulu negeri ini terdapat Kampung Tanjung Kepala.

Semasa jaya semokel di hilir sungai Kampar tempo dulu, syahdan negeri ini jadi pelabuhan transit orang Kampar Hilir sebelum mengadu nasib di Singapura.

Untuk tujuan pariwisata yang sedang dicita-citakan, mungkin kampung ini sanggam nian bila dibangun perhotelan dan sentra perdagangan modern.

Sementara di sebelah hilir Teluk Meranti terdapat pula Pantai Obis. Tepi Pantai Obis ini sejatinya ditumbuhi kembali aneka tumbuhan hutan seperti dulu sehingga kerinduan menjenguk masa lampau dapat terhidang di sini.

Tak jauh di hilirnya, ada pula Tanjung Membayang yang diam membisu penuh misteri. Konon, tempat ini disebut-sebut masyarakat sekitar sebagai kota bunyian yang beberapa tahun silam, sejumlah turis dari Jepang pernah berusaha menangkap hantu di sini.

Sepertinya, keasrian Tanjung Membayang mesti dipertahankan sebagai sebuah tempat yang unik. Kalau perlu Tanjung Membayang dijadikan kampung wisata spiritual.

Dan, tak jauh di hilir seberang Tanjung Membayang, membentang pula Sungai Tuip dan Sungai Sokap (yang di hulunya terdapat sebuah danau cantik bernama Tasik Bose), di pinggirnya dulu tumbuh berjejer kayu-kayan seolah ditanam, seperti aneka rotan dan pohon sialang yang dinaiki lebah tanpa mengenal musim.

Ke depan, menanam kembali kayu-kayan di pinggir tasik ini menjadi sebuah pekerjaan utama karena hadirnya aneka flora dan fauna lokal di sini menambah indahnya panorama danau.

Tak kurang dari itu, membangun jalan dari berbagai kampung menuju Tasik Bose ini menjadi pekerjaan primer pemerintah. Terus ke hilirnya lagi, Kampung Tanjung Pebilahan, Tanjung Merawang hingga Pulau Muda pun hadir dengan keunikannya masing-masing.

Dahulu, ketiga kampung ini merupakan tempat berladang padi orang Kampar Hilir.

Sejatinya, ke depan, spirit kerja masyarakat Melayu masa lampau tersebut diaktualkan kembali sesuai dengan perkembangan zaman. Membangun ladang padi di Tanjung Pebilahan, Tanjung Merawang, dan Pulau Muda dengan sistem pertanian modern sepertinya menjadi pekerjaan unggulan Dinas Pertanian.

Ke depan, bila tujuan wisata dunia  itu terealisasi, maka Teluk Meranti dan kampung sekitarnya akan jadi tempat himpunnya umat manusia dari berbagai penjuru dunia.

Negeri-negeri ini bakal tak beda lagi dengan negeri cantik di belahan bumi lain. Teluk Meranti lambat-laun cikal seperti Bali, Batam, Lingga dan Jakarta.

Bila itu memang telah terealisasi, maka serangkaian upaya mesti dipersiapkan dengan segera dan sungguh-sungguh oleh semua pihak, terutama Pemerintah Kabupaten Pelalawan dan Pemerintah Provinsi Riau karena lazimnya daerah kunjungan wisata selalu punya dampak positif dan negatif dalam banyak aspek bagi penduduk lokal. Mulai ekonomi, budaya, politik, pendidikan, agama hingga lingkungan.

Untuk itu, Pemerintah Kabupaten Pelalawan sejatinya mulai sejak dini mempersiapkan masyarakat tempatan menjadi wirausahawan handal yang akan memetik hasil dari kawasan bono tersebut.

Masyarakat tempatan sudah saatnya dididik secara profesional bagaimana caranya meraup keuntungan ekonomi dari kedatangan turis-turis asing itu.

Disbudpora dan Dinas Perindustrian Perdagangan mesti melakukan pelatihan dan pendidikan kewirausahaan secara intensif, terpola dan tersistematis bagi masyarakat Teluk Meranti dan sekitarnya.

Misal pelatihan bagaimana caranya mengelola gerai makanan dan minuman secara profesional atau pelatihan bagaimana menghasilkan souvenir yang berkualitas dan unik dengan citarasa Melayu, seperti jung atau sampan kampe mini, dan lain-lain.

Jangan sampai, ketika Teluk Meranti telah jadi kota wisata, penduduk lokal hanya jadi penonton atau malah jadi ‘tontonan’ turis.

Dalam bidang budaya dan agama, kedatangan manusia dari sejumlah suku-bangsa, sedikit banyaknya akan mempengaruhi tatanan budaya dan agama masyarakat tempatan. Untuk ini diperlukan kesiapan khusus dalam mengantisipasi hal-hal buruk tersebut.

Maka Kementerian Agama, Dinas Pendidikan dan Lembaga Adat Kabupaten Pelalawan diharapkan sejak dini melakukan pembinaan keagamaan, pendidikan dan adat secara serius bagi masyarakat, terutama kaum muda Teluk Meranti dan sekitarnya.

Kalau perlu, Teluk Meranti dijadikan Desa Adat atau Desa Binaan Khusus sehingga pembinaannya dilakukan benar-benar secara serius, konsisten, sistematis serta berkesinambungan.

Kegiatan ini tidak bisa dilakukan ‘sambil lalu’ saja. Kerja ini memerlukan keseriusan ekstra keras dari orang-orang yang ahli dan berhati tulus.

Karena kelak diharapkan masyarakat Teluk Meranti dan sekitarnya jadi sampel masyarakat Melayu yang Islami. Dan karya budaya mereka yang unik sejatinya menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Untuk itu perlu disiapkan bagaimana caranya ‘menjual’ adat budaya kepada wisatawan.

Satu misalnya, bagaimana Joget Tanjung Selukup, Silat Kampe dan Nyanyi Panjang disuguhkan secara profesional (penampilan seni yang mengandung etika dan estetika Melayu tinggi) di hadapan wisatawan.

Penampilan seni ini hendaknya dikemas oleh ahlinya, bukan oleh orang sembarangan atau ‘orang latah’, sehingga wisatawan benar-benar mencium wanginya Teluk Meranti dan sekitarnya sebagai sebidang tanah harapan Melayu di masa depan. Semoga…***

Griven H Putra Cendekiawan Muda Melayu.
Ingin mengirimkan artikel Opini dan Surat Pembaca? Silakan klik di sini
KOMENTAR

Follow Us

Riau Pos Group
Support by: